Nanang sedang mencari belalang di area hutan yang ada di Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang. (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Nanang sedang mencari belalang di area hutan yang ada di Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang. (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 17 April 2016 08:19 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Belalang Gunungkidul Mulai Langka, Warga Berburu Hingga Pantai Trisik

Belalang Gunungkidul mulai langka

Solopos.com, GUNUNGKIDUL- Belalang menjadi salah satu komoditas yang paling dicari di Gunungkidul. Akibat perburuan yang terus menerus, populasi hewan ini jadi berkurang. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan, banyak pemburu yang pergi sampai ke luar daerah.

Mata Nanang, 23, pemuda asal Dusun Panggang III, Giriharjo, Panggang, terlihat serius mengawasi dedauan jati yang ada di kawasan Desa Giripurwo, Kecamatan Panggang.

Tangkai demi tangkai dilihat dengan seksama, saat melihat ada bayangan hitam di balik daun, sebuah tongkat dengan rangkaian jaring di bagian pucuk diarahkan ke bayangan.

Dengan sekali Sentak, seekor belalang pun masuk dalam perangkap yang bernama cundit (alat menangkap belalang). Dengan cekatannya, belalang itu langsung diambil dan dimasukan ke dalam sebuah kantong yang disisipkan di bagian pinggang.

Entah sudah berapa ekor belalang yang masuk dalam kantong di pagi itu di akhir pekan lalu. Pekerjaan it terus berulang, dari satu pohon ke pohon yang lain, dari satu lokasi ke lokasi yang lain.

Terkadang ia pun menyempatkan diri beristirahat dan menggerakaan lehernya yang terus ditegadahkan untuk mecari belalang yang ada di atas. Setelah agak enakan, ia pun melanjutkan aktivitas berburu belalang. Dalam setengah hari Nanang mengaku bisa mengumpulkan hingga 400 ekor belalang.

Usaha berburu belalang ternyata tidak sampai di situ. Sebab setelah upaya perburuan berakhir, Nanang masih belum harus menjual hasil tangakap itu.

Sebenarnya bisa dengan mudah Nanang menjual belalang itu ke tengkulak dengan model kiloan. Namun hal tersebut tidak dilakukan, dia memilih menjualnya sendiri dengan cara ditawarkan ke warga atau menjual lapak dadakan di pinggir jalan. Dengan harapan, pengendara yang melintas mau membeli belalang tangkapan Nanang.

“Pilih dijual sendiri karena untungnya lebih banyak, ketimbang dijual kiloan. Apalagi untuk sekarang per kilonya tidak lebih dari Rp50.000,” kata Nanang kepada Solopos.com, belum lama ini.

Konsekuensi dengan menjual sendiri, Nanang pun harus bekerja lebih lama. Sebab ia harus menata belalang dalam batang lidi dari pelepah kelapa. Biasanya untuk satu reteng terdiri dari 25 ekor belalang dan dipasarkan dengan harga Rp5.000-10.000.

“Kalau dilihat dari untung, jelas lebih untung dijual dengan cara rentengan,” katanya.

Menurut Nanang, saat musim hujan seperti sekarang populasi belalang sedang banyak. Tapi kondisi berbeda saat musim kemarau, di mana belalang sulit dicari. Bahkan untuk mencarinya harus sampai ke luar daerah.

“Saya ini baru mencari lagi, karena sebelumnya saya sempat merantau ke Jakarta. Mumpung lagi banyak jadi saya gunakan kesempatan itu untuk mencari lagi,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan oleh Edi, pemburu belalang dari Desa Kepek, Saptosari. Menurut dia, untuk musim hujan proses pencarian tidak begitu sulit, karena kebutuhan belalang masih bisa dicukupi lewat pencarian di wilayah Gunungkidul.

“Ini saya habis cari dari ladang yang ada di kawasan Pantai Drini. Dalam setengah hari, saya bisa mendapat 500an ekor belalang. Jika dikilokan itu sekitar 1,5 kilo,” kata Edi.

Dia tidak menampik untuk saat sekarang menjadi lahan untuk mencari belalang. Di mana pun tempat, populasi belalang masih sangat banyak. Kondisi berbeda terjadi saat musim kemarau, dimana populasinya turun drastis.

Edi mengakui akibat penurunan populasi itu juga berdampak terhadap pencari belalang. Dikarenkan sulit dicari, maka banyak pencari yang beralih pekerjaan, seperti menjadi kuli bangunan atau buruh serabutan.

“Jujur saat sulit, terkadang biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Apalagi untuk mendapatkan belalang-belang itu kadang harus sampai ke Pantai Trisik di Kulonprogo,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…