Indriyanto saat akan memulai perjalanan trayek Jombor - Prambanan di Terminal Jombor, Selasa (29/3/2016). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja) Indriyanto saat akan memulai perjalanan trayek Jombor - Prambanan di Terminal Jombor, Selasa (29/3/2016). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 17 April 2016 11:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

ANGKUTAN PEDESAAN
Armada Tua yang Selamat karena Orang Tua

Angkutan pedesaan di Sleman kini memprihatinkan

Solopos.com, SLEMAN- Perkembangan teknologi dan alat transportasi bisa memberikan dampak keuntungan bagi armada tertentu. Namun menjadi pukulan telak bagi sejumlah armada lawas seperti angkutan pedesaan jurusan Jombor menuju Prambanan.

Armada tua minibus keluaran tahun 1980an bermesin diesel 2.000 cc bisa ditemui di sisi selatan pintu keluar sebelah barat Terminal Jombor, Ringroad Utara, Mlati, Sleman atau di Terminal Prambanan.

Fisik angkutan ini ala kadarnya. Sekedar mesin berbunyi, bisa berjalan, perangkat keamanan seperti rem serta lainnya bisa difungsikan. Tak ada aksesoris otomotif untuk mempercantik armada ini sehingga tampak selalu kusam. Tempat duduk penumpang pun sudah sobek sana sini hingga rangka besi terlihat.

Tak terkecuali alas dashboard bagian depan kabin. Busanya pun telah mengelupas berganti lempengen besi tipis seperti milik Indriyanto, pemilik minibus sekaligus sopir angkutan jurusan Jombor – Prambanan. Tidak pernah ada peremajaan armada jurusan ini.

Mereka sadar, peremajaan hanya sia-sia dan akan membuang uang saja. Karena pemasukan minim dan kalah bersaing dengan transportasi lain. Pemilik angkutan pun membiarkan minibus itu seadanya namun bisa memberi penghasilan meski minim.

“Tetapi [hari] ini tadi agak lumayan,” ucap Indriyanto saat berbincang dengan Harian Jogja, sembari menghitung recehan di atas dashboard saat parkir di Terminal Jombor, belum lama ini.

Rupanya, kata lumayan itu disampaikan Yanto untuk mendeskripsikan perolehan Rp35.000 sekali jalan dari Prambanan menuju Jombor. Terdiri selembar uang Rp10.000, tiga lembar pecahan Rp5.000 dan recehan logam serta pecahan Rp2.000 yang jumlah totalnya Rp10.000.

Karena mendapatkan Rp10.000 atau Rp12.000 sekali jalan adalah hal biasa dilakukan setiap harinya. Dalam sehari, menjalankan trayek pulang pergi sebanyak dua kali melalui antrean sekitar 60 menit.

Selesai menghitung, uang langsung disaku. Indriyanto keluar dari kabin, lalu mengajak obrolan di dalam tempat duduk penumpang sisi belakang. Sementara ada lima sopir senasib dengannya yang tengah asik makan dan minum di sebuah angkringan dekat antrean trayek.

Yanto menghela nafas, ia memutar ingat, pernah merasakan saat angkutan berbasis di Terminal Terban, Kota Jogja lalu digeser ke Terminal Condongcatur, Sleman hingga saat ini bertahan di Jombor. Kurun waktu tahun 2000an, angkutan seperti miliknya menjadi primadona.

Laris manis seperti kacang goreng, setiap perjalanan kerap menolak penumpang karena penuh. Pendapatan ketika itu bisa dihitung tiga kali lipatnya saat ini. Jumlah armada total beroperasi lebih dari 80 unit, di tahun 2016 ini tersisa 30 unit saja dan hanya sebagian yang beroperasi rutin.

Sekarang dalam sehari tak lebih dari Rp100.000, padahal pengeluaran bahan bakar jenis solar mencapai Rp65.000 per hari. Yanto enggan menyimpulkan pendapatan bersihnya karena bisa dihitung sendiri. Tak heran, jika ia harus memutar otak kerja sampingan lainnya dan tak melulu bergantung pada minibus warisan orangtuanya itu.

Mengambil peruntungan di atas aspal, Yanto sebenarnya tak pernah surut. Berapapun jumlah penumpang selalu diantar sampai tujuan. Penumpangnya pun jarang berganti, mereka adalah orang-orang lama, sudah tua seperti pedagang pasar yang masih setia dengan angkutan pedesaan. Karena itulah, angkutannya masih bisa bertahan.

Bahkan para penumpang jenis ini kerap memberikan upah lebih. Jika sekali jalan tarif resmi Rp5.000, mereka mengulungkan Rp10.000 dan tak mau diberi uang kembalian.

“Kalau orang tua-tua pedagang pasar ini, ga tahu nanti bagaimana [nasib angkutannya],” ucap dia. Namun ia memiliki keyakinan, mereka yang mau berusaha akan mendapatkan jalan keluarnya.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…