Pulung Raharjo mengamati tanaman pucuk merah yang dibudidayakan di kebun tanaman hias miliknya di Dusun Kragon II, Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Foto diambil pada pertengahan Maret lalu.(Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Pulung Raharjo mengamati tanaman pucuk merah yang dibudidayakan di kebun tanaman hias miliknya di Dusun Kragon II, Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Foto diambil pada pertengahan Maret lalu.(Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 16 April 2016 14:20 WIB Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

WISATA KULONPROGO
Mengintip Kebun Tanaman Hias di Lahan Calon Bandara

Wisata Kulonprogo untuk pilihan objek bertambah.

Solopos.com, KULONPROGO-Sebuah kebun tanaman hias tumbuh subur dan indah di tengah tanah tegalan di wilayah Dusun Kragon II, Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Pemiliknya bahkan membangun sebuah rumah bantu berlantai dua di sana sebagai tempat beristirahat dan menjalankan roda usaha.

Lokasi kebun itu sangat tidak terduga karena dikelilingi lahan pertanian yang ditanami cabai, melon, atau semangka oleh warga lain. Jalan menuju kebun itu juga terbilang tidak mudah karena hanya berupa jalan setapak dan belum diaspal.

Kebun tersebut dirintis oleh Pulung Raharjo sejak 3,5 tahun lalu. Sebagai warga terdampak, dia mulai berpikir apa yang bisa dilakukan saat lahan pertanian hilang untuk dijadikan bandara. Saat itu, dia berpikir jika barangkali petani bisa beralih ke usaha budi daya tanaman hias.

“Wacananya bisa untuk mengakomodasi warga terdampak,” kata Pulung saat ditemui di kebunnya pada pertengahan Maret lalu.

Ada lebih dari 15 jenis tanaman hias yang dibudidayakan Pulung bersama lima karyawan asal desa setempat. Diantaranya tanaman pucuk merah, korombusa, varigata, palem raja, sansevieria, soka, trembesi, flamboyan, dan lainnya. Bibitnya diperoleh dari Sleman.

Berbagai tanaman hias tersebut selama ini dipasarkan ke Jogja. Selain memasok toko-toko bunga, Pulung juga melayani proyek pembuatan taman dan dekorasi ruangan. Rata-rata penghasilan yang didapat dari kebunnya mencapai Rp6 juta per bulan.

“Pemeliharaan tanaman hias ini relatif tidak makan banyak biaya dan bisa untuk mengisi hari tua,” ujar Pulung.

Pulung berharap, usaha tanaman hias nantinya menjadi lebih berkembang. Dia berharap masyarakat bisa diberdayakan untuk membuat kebun tanaman pangan organik. Hasil olahan dari kebun itu bisa dijual di kawasan bandara, baik makan ditempat atau sebagai oleh-oleh. Menurutnya, makanan sehat dan tradisional punya harga jual tinggi jika dikemas dengan tepat dan menarik.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.ARTABOGA CEMERLANG, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…