Aktivitas pedagang berjualan spare part sepeda motor di kios Pasar Klithikan Notoharjo, Semanggi, (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos/dok)
Sabtu, 16 April 2016 06:30 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

PASAR TRADISIONAL SOLO
Belum Punya Kepastian Tempat Tinggal, Pedagang Pasar Besi Bertahan

Penataan pedagang dilakukan Pemkot Solo di Pasar Besi, Semanggi.

Solopos.com, SOLO – Puluhan Pedagang Pasar Besi, Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon, Solo yang memanfaatkan los sebagai tempat tinggal atau hunian memilih untuk bertahan.

Ketua Paguyuban Gotong Royong Pedagang Pasar Besi, Bambang Susilo, menceritakan belum ada satu pun pedagang Pasar Besi yang berkemas-kemas untuk pindah tempat tinggal pascasosialisasi penataan Pasar Besi dari Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Solo, Rabu (13/4/2016). Menurut dia, pedagang akan tetap bertahan sebelum memiliki kepastian tempat tinggal.

“Pedagang telah tinggal [di Pasar Besi] sejak puluhan tahun lalu. Mereka mendirikan bangunan dengan jerih payah sendiri, bukan asal menempati bangunan dari pemerintah. Pedagang masih keberatan kalau harus pindah tempat tinggal,” kata Bambang saat berbincang dengan solopos.com, Jumat (15/4/2016).

Bambang menyampaikan pedagang Pasar Besi belum menggelar pertemuan secara formal untuk membahas solusi terbaik mengenai persoanalan permukiman tersebut. Dia memberikan waktu kepada para pedagang untuk berfikir terlebih dahulu mengenai pilihan yang diambil menanggapi imbauan dari DPP. Bambang menginginkan para pedagang befikir dengan kepala dingin.

“Sebenarnya pedagang Pasar Besi gampang. Maksudnya, pedagang terbuka dengan rencana DPP. Hanya, kami memang belum memiliki kesepakatan. Sementara warga masih mengutarakan kegelisahan apabila harus pindah tempat tinggal. Warga tidak punya cukup uang untuk membangun rumah,” jelas Bambang.

Sebelumnya, DPP menemukan enam permasalahan di Pasar Besi. Selain 87 los yang digunakan untuk tempat tinggal, DPP menemukan lima masalah lain di Pasar Besi, antara lain selokan di berbagai lokasi rusak dan pampat, jalan rusak parah, banyak tumpukan barang tidak terpakai, banyak jemuran pakaian, dan banyak kendaraan parkir sembarangan.

Bambang mengutarakan pedagang Pasar Besi yakin lima masalah selain persoalan los yang digunakan sebagai hunian bisa cepat ditangani pedagang bersama DPP. Namun, menurut dia, pemecahan masalah los yang digunakan untuk hunian perlu dibahas tuntas, meski harus berlangsung lama. Bambang ingin tidak ada konflik selama penataan Pasar Besi.

“Pengurus paguyuban pedagang akan terlebih dahulu konsultasi dengan pembina paguyuban maupun DPP. Setelah itu, kami berencana mengumpulkan pedagang untuk rapat. Pemecahan masalah seperti ini harus dilakukan dengan cara musyawarah mufakat. Mencari solusi yang sama-sama menguntungkan,” papar Bambang.

Salah satu sesepuh pedagang Pasar Besi, Marjoko, menyatakan beberapa pedagang yang tinggal di Pasar Besi tidak memiliki rumah lain dan tergolong masyarakat dengan ekonomi kelas menengah ke bawah. Dia meminta DPP bisa mengupayakan agar pedagang punya kemudahan untuk mendapatkan atau membeli rumah.

“Kalau pedagang yang sukses kan jelas tidak mau tinggal di tempat kumuh seperti di sini [Pasar Besi],” tanggap Marjoko di dalam forum.

 

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…