Dawet Jabung (asliponorogo.com)
Sabtu, 16 April 2016 11:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KULINER PONOROGO
Dawet Jabung Khas Ponorogo Segarnya Menggoda

Kuliner Ponorogo salah satunya yaitu dawet jabung.

Solopos.com, PONOROGO — Ponorogo memiliki sejumlah makanan dan minuman khas yang perlu untuk dicoba oleh pengunjung Kota Reog. Salah satu minuman khas Ponorogo yang banyak digemari adalah dawet jabung.

Dawet jabung bisa ditemui di sejumlah daerah di Ponorogo. Tetapi, kalau ingin menikmati minuman tersebut, lebih afdol jika Anda bisa berkunjung ke Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, yang dari pusat kota Ponorogo hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Di Desa Jabung, terdapat puluhan pedagang dawet Jabung berjejer di pinggir jalan.

Salah satu penjual dawet jabung, Mentari, 32, mengatakan penamaan dawet jabung diambil dari Desa Jabung yang merupakan tempat pertama pembuatan dawet itu.

Menurut cerita secara turun temurun, dawet jabung telah ada di desa setempat sejak puluhan tahun silam. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, minuman tradisional itu sudah dinikmati masyarakat.

Mentari mengatakan sebenarnya komposisi dawet jabung tidak berbeda dengan komposisi dawet pada umumnya. Tetapi, bahan dawet Jabung menggunakan bahan alami dan tidak ada unsur kimianya, sehingga lebih sehat dan aman.

Seorang penjual dawet Jabung di Desa Jabung Ponorogo menyajikan dawet jabung kepada konsumen, Kamis (14/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Seorang penjual dawet Jabung di Desa Jabung Ponorogo, Mentari, menyajikan dawet jabung kepada konsumen, Kamis (14/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Dia mengatakan dawet Jabung terdiri atas santan kelapa yang dipadu dengan gula Jawa yang telah dicairkan, kemudian diberi cendol, gempol, dan diberi sedikit air garam untuk memberikan rasa gurih di dawet itu.

Cendol dawet jabung, kata dia, berbeda dengan cendol pada umumnya. Cendol dawet jabung terbuat dari pati aren, sehingga teskturnya lebih halus, lembut, dan pembuatannya tidak diberi bahan pewarna buatan.

Untuk menambah rasa nikmat, konsumen bisa menambahkan tape ketan hitam dengan mencampurkannya di dawet. Jadilah adonan dawet yang segar, nikmat, dan gurih yang sangat pas dinikmati saat cuaca panas.

“Penyajiannya pun berbeda, yaitu setiap kali menyuguhkan dawet jabung harus menggunakan lepek. Tetapi, lepek tersebut tidak boleh dibawa pembeli, melainkan dikembalikan lagi kepada penjualnya,” ujar warga Desa Jabung ini saat berbincang dengan Madiunpos.com di warungnya, Kamis (14/4/2016).

Untuk menikmati dawet Jabung, ujar Mentari, konsumen hanya mengeluarkan uang senilai Rp2.500/porsi. Konsumen juga bisa menikmati dawet segar itu dengan makan berbagai jajanan dan gorengan yang disediakan penjual.

Mentari membeberkan lokasi pusat dawet jabung di Desa Jabung biasanya ramai dikunjungi pembeli saat hari Minggu dan libur nasional. Saat ramai, dia mengatakan bisa menjual hingga 500 mangkok per hari. Tetapi, saat kondisi sepi hanya laku 100 mangkok per hari.

Menurut dia, kawasan Desa Jabung akan ramai dikunjungi konsumen saat Lebaran. Biasanya, pada saat Lebaran ada ratusan orang dari berbagai daerah yang mampir jabung untuk mencari kuliner khas Ponorogo itu.

“Di kawasan Desa Jabung ini ada sekitar 20 orang yang berjualan dawet Jabung. Saat Lebaran memang yang paling banyak dikunjungi konsumen,” kata dia.

Salah satu konsumen, Akim Abdullah, mengatakan sudah beberapa kali mencicipi dawet jabung. Dia mengatakan minuman tradisional khas Ponorogo itu sangat segar dinikmati saat cuaca sedang panas.

LOWONGAN PEKERJAAN
Taman Pelangi Jurug, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…