Menara Masjid Agung Al Aqsha berdiri megah di Jonggrangan, Klaten Utara, Klaten, Jumat (8/4/2016). Anggota DPRD Klaten dari Fraksi PAN, Darmadi mengaku tak puas dengan pembangunan menara tersebut karena tidak sesuai dengan rencana awal, salah satunya keberadaan gardu pandang yang berada di ketinggian 30-an meter. (Ponco Suseno/JIBI/Solopos) Menara Masjid Agung Al Aqsha berdiri megah di Jonggrangan, Klaten Utara, Klaten, Jumat (8/4/2016). Anggota DPRD Klaten dari Fraksi PAN, Darmadi mengaku tak puas dengan pembangunan menara tersebut karena tidak sesuai dengan rencana awal, salah satunya keberadaan gardu pandang yang berada di ketinggian 30-an meter. (Ponco Suseno/JIBI/Solopos)
Sabtu, 16 April 2016 17:15 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

INFRASTRUKTUR KLATEN
DPU: Pemangkasan Ketinggian Menara Masjid Demi Keselamatan

Infrastruktur Klaten, pemangkasan ketinggian gardu pandang demi keselamatan.

Solopos.com, KLATEN–Proyek pembangunan Masjid Agung Al Aqsha memasuki tahap IV pada 2015. Tahap tersebut ditarget menjadi tahap terakhir pembangunan masjid yang mulai digarap sejak 2012 silam dengan seluruh sumber dana dari APBD.

Salah satu proyek pada tahap IV yakni pembangunan menara setinggi 66,66 meter. Alokasi dana sekitar Rp11,25 miliar dari APBD 2015.
Pembangunan menara digadang-gadang menjadi objek wisata religi bagi warga yang mendatangi kompleks Masjid Agung Al Aqsha melalui gardu pandang. Potensi pendapatan bisa dihasilkan dari retribusi kunjungan ke menara.

Namun, belakangan pembangunan menara mendapat sorotan dari berbagai kalangan terutama DPRD Klaten. Pembangunan disebut-sebut melenceng dari konsep awal. Ketinggian gardu pandang tak sesuai pemaparan saat pembahasan anggaran dengan DPRD. Selain itu, penyelesaian proyek juga tak sesuai harapan lantaran hingga 2016 proyek tak kunjung rampung.

Kepala DPU dan ESDM Klaten, Abdul Mursyid, mengatakan ada perubahan desain awal rencana pembangunan menara masjid. Ia mengatakan hal itu berkaitan dengan teknis keselamatan dari menara yang dibangun. “Itu masalah teknis, di masalah perkuatan. Untuk secara detail teknis, silakan tanya Pak Ahmad Wahyudi [Kabid Cipta Karya DPU dan ESDM],” jelas dia saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (15/4/2016).

Disinggung proyek pembangunan tak rampung pada 2015, Mursyid mengatakan hal ini lantaran ada beberapa perubahan. “Iya memang seperti itu. Karena kemarin ada beberapa perubahan untuk perkuatan-perkuatan,” katanya.

Sesuai rencana, menara Masjid Agung Al Aqsha memiliki ketinggian 66,66 meter. Pada ketinggian 45 meter, terdapat gardu pandang sebagai ruang bagi warga untuk melihat pemandangan Kabupaten Bersinar.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, menara dibangun dengan struktur beton hingga ketinggian gardu pandang. Sisanya, menara dibangun dengan material logam. Namun, ada perubahan desain menara yang membuat ketinggian gardu pandang menjadi 35 meter.

Konstruksi bangunan dari fondasi hingga gardu pandang berupa beton. Sementara, konstruksi dari gardu pandang hingga ketinggian sekitar 60 meter merupakan konstruksi baja. Bangunan dibuat mengerucut dari bagian bawah hingga bagian puncak. Sementara, untuk menuju gardu pandang, lift saat ini sudah terpasang di menara.

Dikonfirmasi perubahan desain menara masjid, Kabid Cipta Karya DPU dan ESDM Klaten, Ahmad Wahyudi, tak menampik. Senada yang disampaikan Abdul Mursyid, perubahan desain tersebut lantaran pertimbangan keselamatan.

“Dalam hal teknis, perubahan desain itu sesuatu yang sangat wajar,” katanya.

Ahmad mengatakan perubahan ketinggian menara juga berdasarkan pertimbangan dari konsultan pengawas. Perubahan desain juga sudah dikonsultasikan dengan tenaga ahli dari perguruan tinggi.

“Setelah dicek ulang memang tidak cukup kuat kalau struktur beton sampai ketinggian 45 meter. kemudian dievaluasi desain awal,” kata dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…