Pengendara sepeda onthel melintasi jalan tol Solo-Kertosono (Soker) yang terputus akibat pemilik tanah belum setuju dengan ganti rugi di Desa Dibal, Ngemplak, Boyolali, Kamis (14/4/2016). (Muhammad Ismail/JIBI/Solopos) (Muhammad Ismail/JIBI/Solopos)
Jumat, 15 April 2016 22:00 WIB Muhammad Ismail/JIBI/Solopos Boyolali Share :

TOL SOLO-KERTOSONO
Soker Tak Semulus yang Diharapkan

Tol Soker (Solo-Kertosono) pembangunannya mengalami kendala terutama dalam pembebasan lahan.

Solopos.com, BOYOLALI – Siti Marhamah, 64, warga Dukuh Dibal RT 003 /RW 007, Desa Dibal, Ngemplak, Boyolali berjalan pelan menyusuri jalan persawahan, Kamis (14/4/2016) pagi. Ia membawa ember plastik warna hitam berukuran 1,5 liter berisikan pupuk urea di tangan kirinya.

Sesampainya di tengah sawah, ia menyebar pupuk urea itu di tanaman padi jenis pandan wangi yang masih berusia 40 hari. Luas lahan pertanian milik Siti adalah 3.945 meter persegi yang berlokasi di Desa Dibal. Di sisi kanan dan kiri sawah itu semuanya sudah diurug menggunakan tanah setingi 2 meter dan sudah dibeton dan di aspal menjadi jalan tol.

Lahan miliknya seluas 1.109 meter persegi yang terkena proyek pembangunan jalan tol Solo-Kertosono (Soker) belum diurung tanah oleh kontraktor pelaksana pembangunan jalan tol sampai sekarang. Ia tidak mau memberikan satu bidang tanah itu untuk proyek tol Soker karena nilai ganti rugi tanah senilai Rp626.000/meter persegi dinilai sangat kecil.

Ia bahkan sudah beberapa kali bernegosiasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Boyolali sebagai pihak yang bertugas membebaskan tanah tetapi gagal. Negosisi terakhir kali dilakukan pada awal tahun ini di Pengadilan Negeri (PN) Boyolali.

“Saya menginginkan ganti rugi tanah senilai Rp800.000/meter persegi. Kalau tidak mau membayar nilai ganti rugi, tanah milik saya ditukar guling dengan tanah kas desa yang ada di dekat bandara,” ujar Siti saat ditemui solopos.com di sawah, Kamis.

Ia membandingkan ganti rugi tanah di Desa Pandeyan, Ngemplak dihargai Rp 1.720.000/meter persegi. Padahal lokasinya tak jauh dengan Dibal tetapi harganya sudah berbeda. Siti meminta pelaksana Tol Soker transparan kepada warga soal besaran nilai ganti rugi.

Lantaran tidak setuju dengan besaran nilai ganti rugi yang ditawarkan pelaksana pembangunan tol Soker, sawah milik Siti itu kemudian ditinggalkan begitu saja tidak diurug dengan tanah.

Hal itu membuat pemandangan jalan tol Soker di wilayah Dibal tidak merata. Jalan tol Soker itu tampak terputus-putus. Panjang jalan yang terputus tersebut bervariasi ada yang mencapai 60 meter hingga 40 meter. Sedikitnya masih ada empat bidang tanah milik warga Desa Dibal yang belum dibebaskan karena belum setuju dengan besaran nilai ganti rugi.

Jalan tol yang terputus dengan kedalaman 2 meter itu hanya disambungkan jalan kecil berupa tanah dengan lebar 1 meter dan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua. Untuk membuat jalan penghubung itu, pelaksana Tol Soker harus membayar sewa tanah kepada Siti sebagai pemilik tanah yang belum dibebaskan tetapi difungsikan sebagai jalan penghubung.

“Pelaksana tol Soker menyewa tanah saya selama 3 bulan senilai Rp6 juta untuk membuat jalan penghubung itu. Kontrak sewa tanah sudah habis per hari ini [Kamis],” kata dia.

Rencana pemerintah pusat mengaktifkan jalan tol Soker sepanjang 35 km meliputi wilayah Ngemplak-Solo-Karanganyar-Sragen sebagai jalur alternatif mudik lebaran tahun ini mengalami kendala. Namun, pelaksana tetap akan megaktifkan jalan itu pada lebaran tahun ini dengan cara memberlakukan jalan searah. Total di wilayah Ngemplak masih ada 37 bidang tanah yang belum dibebaskan.

Pemudik yang nanti melintasi tol Soker mungkin akan kaget dan terganggu ketika melihat sawah di tengah-tengah jalan tol. Pemandangan seperti ini terjadi karena tanah belum berhasil dibebaskan.

“Kami terpaksa harus meninggalkan lahan milik warga yang belum dibebaskan. Ketika nanti tanah sudah dibebaskan tinggal meratakannya dengan tanah,” kata ujar Kepala Satuan Kerja (Satker) Tol Soker, Aidil Fiqri saat dihubungi solopos.com, Kamis.

Ia mengatakan rakayasa lalu lintas akan diberlakukan ketika tol Soker mulai dibuka pada Lebaran tahun ini. Rakayasa lalu lintas akan lebih diutamakan pada lokasi jalan tol Soker yang terdapat bidang tanah belum dibebaskan.

“Kami akan koordinasi dengan pelaksana pembangunan tol Soker untuk mempersiapkan pemasangan rambu lalu lintas dalam waktu dekat,” kata dia.

Aidil mengatakan ada tiga jalan keluar masuk tol saat lebaran akan disiapkan yakni di Desa Desa Ngasrep, Ngemplak (Boyolali), Klodran, Colomadu (Karanganyar), dan Desa Kemiri (Karanganyar).

“Kami berharap pengoperasian Tol Soker pada Lebaran tahun ini dapat mengurai kemacetan di jalur utama Kartasura, Sukoharjo-Colomadu, Karanganyar,” ujar dia.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…