Petani cabai keriting di Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, memanen cabai, Kamis (14/4/2016). Petani sambat karena saat musim panen harga cabai justru anjlok menjadi Rp10.000/kilogram. (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)
Jumat, 15 April 2016 14:25 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Boyolali Share :

PERTANIAN BOYOLALI
Harga Cabai Anjlok, Petani Mengeluh

Komoditas pertanian Boyolali terutama cabai harganya turun tajam.

Solopos.com, BOYOLALI—Petani cabai di lereng Gunung Merbabu sambat karena saat ini harga cabai turun drastis.

Harga cabai turun saat mendekati panen raya cabai. Menurut seorang petani asal Dukuh Tarusari, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Listanto, 24, harga cabai keriting di tingkat petani saat ini hanya berkisar Rp10.000/kilogram turun dari harga sebelumnya Rp40.000/kilogram.

“Turunnya cepat sekali, belum ada sebulan lalu harganya masih Rp40.000/kilogram, sekarang tinggal Rp10.000/kilogram. Saatnya panen banyak malah harganya turun,” kata Listanto, saat ditemui solopos.com, di kebunnya, Kamis (14/4/2016).

Listanto juga heran dengan turunnya harga cabai yang begitu cepat karena saat ini tidak banyak petani yang menanam cabai. “Semestinya harga cabai bisa naik tapi kami hanya ikut permainan harga di pasar.”

Dia menyayangkan karena pedagang lebih dominan mempermainkan harga komoditas di pasaran. Seperti diketahui, petani cabai di Tarubatang membawa hasil panen ke Pasar Induk Sayur Cepogo. Menurut Listanto, setiap ada kenaikan harga sayuran yang signifikan, pedagang di Pasar Cepogo akan langsung memasok sayur-sayuran dari daerah lain.

“Jadi harganya bisa langsung anjlok. Seperti sekarang. Kami sebenarnya berharap para pedagang juga bisa nguri-uri petani biar kesejahteraan petani bisa meningkat,” ujar dia.

Anjloknya harga cabai saat ini membuat keuntungan yang diperoleh petani begitu mepet. “Tetap untung tapi sedikit. Apalagi modalnya besar, sekarang harga obat-obatan, plastik, dan pupuk semuanya naik,” ujar petani cabai lainnya, Parsih, 55, yang juga warga Tarusari, Tarubatang.

Parsih mengatakan petani cabai saat ini lebih banyak menanam cabai keriting. Pada musim hujan, tidak banyak petani yang menanam cabai rawit karena berisiko mudah busuk. Petani cabai memanen cabai setiap empat hingga lima hari sekali.

“Lahan cabai seluas 1.000 meter persegi, semuanya saya tanami cabai keriting. Sekali panen rata-rata berkisar 1 kuintal cabai,” kata Parsih. Parsih juga menjual cabai panenannya seharga Rp10.000 per kilogram.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…