Siti Aminah Sahal (Istimewa)
Jumat, 15 April 2016 11:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KABAR DUKA
Pernah Aktif di Politik, Begini Kiprah Siti Aminah Sahal Semasa Hidup

Kabar duka datang dari putri pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Solopos.com, PONOROGO — Kepergian almarhumah putri pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Siti Aminah Sahal, Kamis (14/4/2016) sekitar pukul 05.30 WIB dirasa sangat mendadak bagi anak-anaknya. Hal itu karena sebelum meninggal dunia, almarhumah tidak mengeluhkan rasa sakit.

Bagi anak kedua almarhumah Siti Aminah Sahal, Kurnia Rahman Abadi, almarhumah merupakan sosok ibu yang sempurna dan luar biasa. Menurut dia, selain menjadi seorang ibu, almarhumah juga bisa menjadi tempat diskusi berbagai masalah mengenai isu sosial, politik, kehidupan, dan lainnya.

Hal ini karena pengalaman almarhumah yang berkecimpung di berbagai profesi seperti dosen, politikus, dan pengasuh pondok pesantren.

Kepada Madiunpos.com, Didik, panggilan akrab Kurnia Rahman Abadi, mengatakan almarhumah lahir di Ponorogo pada tanggal 5 Juni 1949. Almarhumah merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Ahmad Sahal dan Sutichah Sahal.

Sebagaimana diketahui, Ahmad Sahal merupakan pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Didik menceritakan sebelum menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah yang berada di Desa Coper, Jetis, Ponorogo, almarhumah merupakan pengajar dan seorang politikus.

Siti Aminah Sahal juga berkarier sebagai dosen Tasawuf dan Ilmu Kalam di Fakultas Ushuludin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya yang kampusnya di Ponorogo. Dan saat ini kampus tersebut berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Ponorogo.

Selain menjadi seorang pengajar, Siti Aminah Sahal juga sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten Ponorogo selama satu periode sekitar tahun 1980-an.

“Almarhumah saat mengajar di IAIN Sunan Ampel telah menjadi pegawai negeri sipil [PNS]. Almarhumah juga sempat menjadi anggota DPRD Ponorogo selama satu periode,” ujar dia di rumah duka, Kamis.

Didik menambahkan setelah Pondok Putri Al-Mawaddah berdiri sekitar tahun 1989, almarhumah yang dipercaya sebagai pengasuh pondok pesantren itu langsung meninggalkan seluruh aktivitasnya sebagai pengajar dan politikus. Almarhumah lebih fokus untuk menjalankan kegiatan di dalam pondok dan mengasuh para santri.

“Sejak berdirinya Al-Mawaddah kan yang ditunjuk sebagai pengasuh almarhumah. Setelah itu, seluruh aktivitasi almarhumah di luar tidak dilanjutkan, almarhumah fokus untuk mengasuh pondok dan santri,” ujar Didik.

Lebih lanjut, dia menyampaikan pendirian pondok Putri Al-Mawaddah merupakan cita-cita dari Ahmad Sahal yang merupakan pendiri Pondok Gontor sejak tahun 1957.

Dia menceritakan sejak didirikannya Pondok Gontor tahun 1926, Pondok Gontor merupakan pondok untuk santri putra dan santri putri. Tetapi, setelah Pondok Gontor semakin terkenal dan banyak santri dari luar daerah. Akhirnya pada tahun 1936 diputuskan Pondok Gontor hanya untuk santri putra.

Meskipun sudah tidak menerima santri putri, pengasuh Pondok Gontor tetap memikirkan untuk menerima santri putri dengan catatan tempatnya dipisah dengan Pondok Gontor putra.

“Pada tahun 1957 itu diikrarkan untuk pendirian pondok putri baru direalisasikan tahun 1989, yang saat ini diberi nama Al-Mawaddah,” ucap dia.

Setelah Pondok Putri Al-Mawaddah berhasil didirikan oleh istri Ahmad Sahal, Sutichah Sahal pada 1989, selanjutnya Siti Aminah Sahal didapuk sebagi pengasuh pondok itu. Untuk pengasuh Pondok Putri Al-Mawaddah harus perempuan, untuk itu almarhumah yang ditunjuk untuk mengasuh pondok pesantren itu.

“Jadi almarhumah Siti Aminah Sahal bukan merupakan pendiri Pondok Putri Al-Mawaddah, tetapi almarhumah merupakan pengasuh dari awal berdirinya pondok itu hingga akhir hayatnya,” kata Didik.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…