Pengunjung menerobos garis polisi yang dipasang di semburan air bercampur lumpur di Desa Jari, Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (10/4/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Aguk Sudarmojo)
Jumat, 15 April 2016 19:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

FENOMENA ALAM BOJONEGORO
2 Letupan Terjadi di Semburan Lumpur Desa Jari, BMKG: Bukan Gempa

Fenomena alam Bojonegoro ini terkait perkembangan semburan lumpur di Desa Jari.

Solopos.com, BOJONEGORO – Alat pengukur gempa (seismograf) yang dipasang di rumah warga Desa Jari, Kecamatan Gondang, Bojonegoro, mendeteksi dua kali letupan di titik semburan lumpur di Desa Jari.

Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nganjuk, Chudori, mengatakan alat seismograf dipasang di sebuah rumah warga yang berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi semburan lumpur di Desa Jari, Kecamatan Gondang, pada Minggu (10/4/2016).

“Alat seismograf kami ambil Rabu [13/4/2016]. Berdasarkan data yang diperoleh selama kurun waktu itu terjadi dua kali letupan, tapi dengan skala kecil di bawah 1 Skala Richter,” jelas dia, Jumat (15/4/2016).

Dia mengaku tidak tahu pasti sumber dua kali letupan itu, karena geologi bukan menjadi bidangnya. “Yang jelas letupan itu bukan gempa. Kalau masalah geologi kami kurang paham, sehingga tidak tahu penyebab terjadinya letupan,” katanya.

Sebelumnya, katanya, alat pengukur gempa yang terpasang di Gunung Pandan di Klangon, Kecamatan Saradan, Madiun, menangkap kejadian beberapa kali gempa, selama 14 Februari-26 Februari 2016.

Seismograf yang terpasang dengan jarak 6-7 kilometer dari lokasi semburan di Desa Jari Kecamatan Gondang itu, menangkap beberapa kali gempa, yang besarannya berkisar 2,5 SR-4 SR.

“Tidak semua gempa yang terjadi dirasakan warga, sebab getarannya kecil sekali. Yang bisa dirasakan warga hanya berkisar 3-4 kali gempa,” ucap dia. Dia memperkirakan pemicu semburan lumpur di Desa Jari adalah gempa yang terjadi beberapa kali itu.

Diberitakan sebelumnya, semburan lumpur bercampur air di Desa Jari, Kecamatan Gondang, terjadi sejak 7 April lalu, didahului dengan gempa yang terjadi di daerah setempat.

Koordinator Peneliti Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, Igan S. Sutawidjaja, menjelaskan faktor terjadinya semburan lumpur bercampur air di kawasan setempat, dipengaruhi adanya letusan kantong lumpur di dalam tanah, yang pecah, disebabkan adanya desakan dari bawah.

Ia memperkirakan kedalaman letusan kantong lumpur hanya seratusan meter, sehingga tidak membahayakan. Sesuai peta geologi, daerah setempat masuk sesar Selo Gajah, sehingga sangat dimungkinkan terjadi semburan.

“Kejadian ini bisa disebut mud volcano atau bencana semburan lumpur, tapi kecil, dan tidak akan membesar seperti Lapindo Sidoarjo,” jelas dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…