Kamis, 14 April 2016 04:40 WIB Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

PELESTARIAN LINGKUNGAN
Air Limbah Domestik Ancam Kelestarian Lingkungan

Pengelolaan jaringan air limbah harus dirancang dengan lebih matang sebelum Kulonprogo menjadi lebih padat akibat sejumlah megaproyek.

Solopos.com, WATES-Pemkab Kulonprogo merasa perlu mengantisipasi dampak laju pertumbuhan daerah terhadap lingkungan hidup. Pengelolaan jaringan air limbah harus dirancang dengan lebih matang sebelum Kulonprogo menjadi lebih padat akibat sejumlah megaproyek.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Kulonprogo, Suharjoko mengatakan, kondisi air Kulonprogo dinyatakan relatif baik dan berada di bawah ambang baku mutu berdasarkan uji kualitas secara berkala. Meski demikian, kebanyakan air limbah domestik, baik dari pemukiman, restoran, hotel, maupun kegiatan perniagaan lain cenderung dibuang langsung ke sungai. “Sampai saat ini sungai kita bisa mengabsorbsi dengan baik dan belum ada keluhan pencemaran. Tapi tidak bisa dibiarkan seperti itu terus,” ujar Suharjoko, Rabu (13/4/2016).

Suharjoko memaparkan, rata-rata masyarakat Kulonprogo masih menggunakan sistem konvensional untuk mengelola air limbah domestik. Menurutnya, seiring dengan pembangunan di segala bidang, pemerintah juga harus menyiapkan instalasi pengolah air limbah (IPAL) terpadu. Jika tidak, kualitas air permukaan maupun tanah terancam menurun. “Kita harus mengantisipasi sebelum daerah ini semakin pada dengan membuat regulasi khusus,” kata dia.

Regulasi tersebut diwujudkan dalam penyusunan rancangan peraturan daerah tentang pengelolaan air limbah domestik. Kepala seksi pengawasan dan pengendalian lingkungan KLH Kulonprogo, Rin Dwari Widya Astuti mengungkapkan, pemakaian IPAL komunal sebenarnya sudah mulai diterapkan, terlebih di kawasan padat penduduk. Setiap pengembang perumahan juga selalu diminta membuat IPAL komunal.

Rin menambahkan, Pemkab Kulonprogo pun berencana membangun IPAL terpadu dengan mengadopsi sistem yang telah diterapkan di Sewon, Bantul. Namun, perlu ada sejumlah penyesuaian dan modifikasi mengingat kondisi geografis Kulonprogo yang banyak perbukitan.

Sementara itu, Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo menilai permasalahan pengelolaan air limbah domestik sudah cukup kompleks. Hal itu bisa menyebabkan pencemaran lingkungan yang juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. “Pembuangan air limbah rumah tangga tanpa diolah lebih dulu akan membahayakan kesehatan manusia dan merusak lingkungan,” ucap Sutedjo dalam rapat paripurna di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kulonprogo, Selasa (12/4) kemarin.

Peningkatan volume air limbah domestik dipengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Menurut Sutedjo, sudah seharusnya Pemkab Kulonprogo membuat dibutuhkan kebijakan khusus yang merujuk amanat Undang-undang No.32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Target utamanya adalah meningkatkan dan melindungi kualitas air tanah dan permukaan dari ancaman pencemaran lingkungan. (Rima Sekarani I.N.)

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.Japantech Indojaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…