Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menabur bungi di makam Siyono, warga Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Cawas, Rabu (30/3/2016). PP Muhammadiyah siap melakukan advokasi terhadap istri Siyono, Suratmi, beserta keluarganya. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menabur bungi di makam Siyono, warga Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Cawas, Rabu (30/3/2016). PP Muhammadiyah siap melakukan advokasi terhadap istri Siyono, Suratmi, beserta keluarganya. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Kamis, 14 April 2016 02:40 WIB Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

KASUS SIYONO
Ada Dugaan Pelanggaran Pidana

Status Siyono ditingkatkan dari teduga teroris menjadi tersangka teroris.

 

 

Solopos.com, BANTUL-Polemik kasus kematian Siyono, terduga teroris asal Klaten, Jawa Tengah terus bergulir.

Ketua Tim Pembela Kemanusiaan Kasus Siyono, Trisno Raharjo mengatakan ada pelanggaran pidana serius dalam penangkapan Siyono. Apalagi belakangan disebutkan status Siyono ditingkatkan dari teduga teroris menjadi tersangka teroris.

Status tersangka jelas tertera dalam surat panggilan dari Div Propam Polri kepada ayah Siyono, Mardiyo, untuk meminta keterangan pada Selasa (12/4/2016).

“Sebelumnya Polri mengatakan status Siyono adalah terduga teroris, tapi entah sejak kapan kemudian dalam surat yang diterima Mardiyo status Siyono berubah menjadi tersangka,” paparnya dalam konferensi pers yang digelar di Pusham UII ,Jeruklegi, Banguntapan, Bantul, Rabu (13/4/2016).

Ia menilai kasus ini sudah bukan hanya berada pada ranah etik pelanggaran personel Densus 88 saja melainkan sudah mengarah ke arah tindak pidana.

“Saya sempat menanyakan kepada beberapa dokter ahli forensik, apakah hasil scan seperti itu termasuk outopsi, jawaban mereka bukan outopsi dan di bawah standar” ujarnya.

Menurut dia, jika pihak kepolisian hanya melakukan pemeriksaan luar dan di bawah standar, maka penyebab dari kematian Siyono tidak bisa dijelaskan. Kesimpulan pemeriksaan yang tidak sesuai standar juga tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Hasil scan yang dikirimkan ke keluarga sebagai kesimpulan penyebab kematian. Menurut dokter forensik, hasil itu tidak bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Dengan demikian jelas ada perbedaan hasil outopsi yang dilakukan oleh Tim autopsi PP Muhamadiyah dan Komnas HAM dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh Polisi.

Dari hasil autopsi yang dilakukan Tim autopsi PP Muhamadiyah dan Komnas HAM beberapa waktu lalu, menunjukkan penyebab kematian Siyono terdapat di bagian dada.

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTORINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JUAL DAIHATSU Terios’09 TX AD-Solo,NomerCantik,An/Sendiri,Istimewa,Harga Nego,Hub:08…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Peringkat dan Mutu Perguruan Tinggi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/9/2017). Esai ini karya Johan Bhimo Sukoco, dosen Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi, Solo. Alamat e-mail penulis adalah johanbhimo@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO — Kementerian Riset Teknologi dan…