Warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) menggelar aksi damai di tepi Jalur Jalan Lintas Selatan wilayah Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Kamis (14/4/2016). Mereka menuntut relokasi gratis, jaminan lapangan pekerjaan, dan dibebaskan dari pajak penjualan tanah. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) menggelar aksi damai di tepi Jalur Jalan Lintas Selatan wilayah Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Kamis (14/4/2016). Mereka menuntut relokasi gratis, jaminan lapangan pekerjaan, dan dibebaskan dari pajak penjualan tanah. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 14 April 2016 23:20 WIB Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

BANDARA KULONPROGO
Warga Ancam Tolak Kedatangan Tim Appraisal

Bandara Kulonprogo, penolakan masih terjadi.

Solopos.com, KULONPROGO-Puluhan warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) menggelar aksi damai di tepi Jalur Jalan Lintas Selatan wilayah Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Kamis (14/4/2016).

Mereka kembali menuntut relokasi gratis, jaminan lapangan pekerjaan, serta dibebaskan dari pajak penjualan tanah atau Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Jika tuntutan itu diabaikan, mereka bakal menolak kedatangan tim appraisal.

Salah satu warga terdampak, Sri Hartini mengatakan, dukungan terhadap rencana pembangunan bandara telah diwujudkan dengan merelakan lahan pertanian maupun tempat tinggal. Dia menyatakan akan menunggu tanggapan pemerintah dan berharap tuntutan warga terdampak dipenuhi.

“Jika tidak, kami akan menolak tim appraisal,” ucap dia.

Warga terdampak lainnya, Pulung Raharjo kembali menegaskan jika warga berharap relokasi gratis diberikan terpisah dengan ganti rugi lahan. Dia lalu mengungkapkan, dukungan yang diberikan warga sejak 2013 bukan tanpa syarat. Ada beberapa syarat yang sudah diajukan dan kemudian seakan diabaikan begitu saja.

“Empat tahun terakhir, warga dibuat galau dengan adanya bandara. Suara dan tuntutan kami tidak didengar oleh pemerintah,” kata Pulung.

Menurut Pulung, warga terdampak berusaha tetap sabar meski merasa hanya mendapatkan harapan semu. Pulung menyatakan, dukungan warga terdampak hanya akan terus diberikan jika megraproyek bandara tersebut nantinya memang mampu menyejahterakan masyarakat. Jika tidak, warga selalu siap berganti haluan dan menolak pembangunan NYIA.

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…