Logo PDAM Solo (JIBI/Solopos/Dok) Logo PDAM Solo (JIBI/Solopos/Dok)
Kamis, 14 April 2016 00:30 WIB Indah Septiyaning W/JIBI/Solopos Solo Share :

AIR BERSIH SOLO
Ini Penyebab Potensi Pendapatan PDAM Solo Raib

Air bersih Solo, PDAM Solo kehilangan potensi pendapatan akibat pembuangan sampah.

Solopos.com, SOLO–Perusahaan  Daerah Air Minum (PDAM) Solo mendesak Pemkot menindak pelaku pembuang sampah ke aliran sungai. PDAM mencatat kehilangan potensi pendapatan hingga ratusan juta rupiah per tahunnya.

Timbunan sampah dari aliran Sungai Bengawan Solo kerap menyumbat pipa di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Jurug dan Jebres, menjadi penyebabnya. Kepala Bidang (Kabid) Produksi PDAM Solo, Joel Hartono mengatakan selama ini IPA Jurug dan Jebres memanfaatkan air Sungai Bengawan Solo untuk suplai air pelanggan PDAM. Namun gara-gara sampah dari aliran Sungai Bengawan Solo kerap menyumbat pipa IPA, proses produksi air PDAM terganggu. Utamanya proses produksi di saat musim penghujan seperti sekarang.

“Saat awal musim penghujan, sampah menumpuk di pipa PDAM yang dipakai menyedot air dari Bengawan Solo,” kata Joel ketika dijumpai di ruang kerjanya, Rabu (13/4/2016).

Joel mengatakan jenis sampah yang menyumbat bermacam-macam, yakni plastik, batang pohon, kasur, bantal dan lain sebagainya. Namun paling mendominasi adalah sampah plastik serta sampah rumah tangga. Joel mengaku dampak sumbatan sampah kerap mengakibatkan mesin untuk menyedot menjadi rusak. Hal ini berimbas pada produksi air PDAM kepada para pelanggan. Bahkan beberapa kali PDAM terpaksa berhenti produksi lantaran kerusakan mesin. Setidaknya setiap hari PDAM rutin membersihkan tumpukan sampah sampai tiga kali. Setiap kali dibersihkan, sampah yang dikumpulkan beratnya mencapai 10 kg.

“Kalau mesin sampai terbakar, kami harus mengganti onderdil yang nilainya Rp50-an juta. Dalam sebulan, kerusakan mesin bisa terjadi dua sampai tiga kali,” katanya.

Selain biaya perbaikan mesin, PDAM juga harus mengeluarkan ongkos operasional ekstra untuk droping air bersih. Droping dilakukan kepada wilayah yang air PDAM-nya mati akibat kerusakan mesin. Dia mengatakan droping air dilakukan sebagai upaya memberikan pelayanan air bersih kepada pelanggan PDAM.

Selain sampah, dia melanjutkan limbah cair aneka warna dari industri batik yang dibuang melalui Kali Jenes juga mengotori sumber air baku PDAM. Bahkan terdapat limbah aki dari kawasan Pucangsawit. Untuk mengikat bahan kimia tersebut, PDAM menggunakan lumpur yang diambil dari Dam Colo, Sukoharjo. Rata rata, setiap hari dibutuhkan satu dump truk untuk proses menyerap limbah sebelum diolah di instalasi.

“Limbah batik menjadi persoalan PDAM ketika musim kemarau,” katanya.

Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah (Perusda) PDAM Kota Solo Maryanto meminta Pemkot bisa menindak tegas para pelaku pembuang sampah ke sungai. Pihaknya sangat mendukung upaya Pemkot menegakkan aturan larangan pembuangan sampah ke sungai yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 2010 tentang Pengelolaan Sampah.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo sebelumnya mengatakan belum memberlakukan sanksi hukuman denda maksimal Rp50 juta atau penjara tiga bulan kurungan bagi pelaku pembuang sampah di aliran sungai. Rudy, sapaan akrabnya masih mempertimbangkan sisi kemanusiaan. Diketahui, tim Satpol PP menangkap puluhan pelaku pembuang sampah di aliran sungai sejak aturan larangan buang sampah diberlakukan Pemkot.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. TUGU ANDALAN MANDIRI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Sentilan Realitas di Bak Truk

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (22/11/2017). Esai ini karya Shela Kusumaningtyas, penulis dan alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang. Alamat e-mail penulis adalah kusuma.cel@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Masyarakat di sepanjang jalur pantai utara Jawa umumnya terbiasa menyaksikan lalu…