Salah satu kostum di 'Loewak Coffee'. (UJang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 13 April 2016 21:55 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

TEMPAT NONGKRONG DI JOGJA
Menikmati Kopi Ekslusif Racikan Heiho

Tempat nongkrong di Jogja ini menawarkan kopi racikan

Solopos.com, JOGJA-Nama Heiho tidak asing lagi bagi para tour guide wisata Kraton dan sekitarnya. Tukang becak sekitar Pasar Ngasem pun langsung menawarkan jasa antar ketika ada tamu atau wisatawan yang menanyakan nama Hieho.

Heiho adalah seorang pemilik kafe yang tersembunyi di Dusun Ngadisuryan, Magangan Kulon, Patehan Kraton. Sebetulnya kafe itu hanya berjarak sekitar 100 meter dari Rumah Makan Bale Raos Komplek Kraton.

Kafe itu hanya ada petunjuk ‘Loewak Coffee’ yang terlihat samar-sama dari ujung gang. Di dalamnya terdapat beberapa kursi dan meja. Ruangan yang tidak terlalu luas untuk ukuran kafe juga dilengkapi dengan pernak-pernik pakaian adat jawa khususnya Kraton.

Di bagian lain juga terdapat kostum perang zaman dahulu yang dilengkapi dengan berbagai atribut dalam kostum tersebut.

“Kostum-kostum ini biasa saya pakai saat ada wisatawan asing kesini,” ucap Heiho, saat dikunjungi Solopos.com, baru-baru ini.

Sore itu hujan deras disertai angin disekitaran Jogja. Wisatawan yang berkunjung ke kafe tersebut tidak terlalu banyak. Hanya ada dua wisatawan dari Nederland, dan dua wisatawan lokal. Namun, Hoiho pun mencoba kostum pasukan Belanda saat perang dengan rakyat Indonesia di Maguwoharjo pada 1945 silam.

Heiho memang biasa menunjukan sejumlah kostum zaman perang masa Perang Dunia II, khsusnya yang terjadi di Indonesia pada kurun 1943-1949. “Biar pengunjung yang datang kesini juga terkesan karena ini bukan kafe,” katanya.

Ya, memang terlihat bukan seperti kafe, pengunjung yang menikmati kopi disitu tidak ditarik biaya. Namun bagi pengunjung yang suka dengan kopi yang disajikan bisa langsung memesan paket racikan kopi luwak yang tersedia tiga rasa, yakni Bali Luwak Kopi, Spash Kopi, Jawa Luwak Kopi dengan harga mulai dari Rp325.000 hingga Rp540.000.

Bagi orang yang bukan pecinta kopi harga demikian mungkin terbilang mahal. Namun bagi pecinta kopi harga itu bisa terbayar dengan rasa. Dalam sehari Hoiho bisa menjual 35 paket kopi. Bahkan bisa lebih jika momen kunjungan wisatawan pada Juni-Juli-Agustus.

Heiho belum lama mengelola kafe. Kafenya mulai buka tak lama setelah dirinya berkecimpung dalam komunitas Djogjakarta 45. Salah satu komunitas yang fokus mengumpulkan memoar awal perjuangan bangsa Indonesia, melakukan pembelajaran, dan mencob menampilkan drama kolosal peperangan dengan para penjajah.

Tak heran sejumlah kostum pasukan perang dari beberapa negara yang pernah menjajah Indonesia pun dia miliki. Kostum-kostum tersebut dia gunakan saat pentas-pentas yang berkaitan dengan masa penjajahan. Pada 1 Maret lalu, Heiho bersama komunitas Djogjakarta 45 menampilkan kolosal serangan umum 1 Maret di Monumen Serangan Oemum 1 Maret.

“Terkadang kami juga ikut kegiatan di Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Jadi komunitas ini saling koneksi dengan daerah-daerah yang punya histori jadi tempat pertempuran,” jelas Heiho.

Setidaknya Heiho punya 12 unit kostum pasukan Jepang, delapan kostum pasukan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA), kostum Belanda, dan berbagai perlengkapan perang yang digunakan saat perang periode 1943-1949.

Kostum-kostum tersebut dibuat semirip mungkin dengan aslinya, terkadang ia harus pergi ke Surabaya dan Bandung untuk mendapatkan kostum-kostum tersebut. Aktivitasnya bersama komunitasnya itu tanpa bayaran alias murni karena hobi.

Namun bagi masyarakat yang hendak menggunakan kostum tersebut dikenakan uang perawatan. Untuk satu kostum Rp35.000, satu unit kostum lengkap Rp100.000. “Kalau dengan orangnya Rp250.000,” kata Heiho.

Karena kecintaannya dengan sejarah tersebut, ia dikenal dengan nama Heiho meski nama aslinya adalah Sungkono. Nama Heiho adalah diambil dari istilah Jepang yang tertuju pasa pasukan Jepang. “Banyak orang bilang kalau saya pakai kostum Jepang mirip Heiho, jadi nama saya dikenal Sungkono Heiho, malah lebih dikenal Heiho.” ujarnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
Administrasi ( Wanita ) & Manager ( Pria), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…