Ilustrasi penjambret kalung bersepeda motor (baysidejournal.com) Ilustrasi penjambret bersepeda motor (baysidejournal.com)
Rabu, 13 April 2016 19:15 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Solo Share :

PENJAMBRETAN SOLO
Jambret Tas Ibu-Ibu, Remaja Didor

Penjambretan Solo kembali diungkap polisi.

Solopos.com, SOLO – Kasus penjambretan Solo kembali diungkap polisi. Dua orang remaja ditangkap polisi setelah menjambret di kawasan Jl. Malabar Tengah Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres beberapa waktu lalu. Satu di antara dua remaja itu terpaksa merasakan timas panas polisi yang menembus betis kaki kanannya.

Data yang dihimpun Solopos.com di Mapolresta Solo, Selasa (12/4/2016), kedua pelaku yang masih berusia 19 tahun itu adalah Kurniawan Arya Pinunjul alias Oka, warga Kampung Notosuman, Serengan, dan Agung Ary Wibowo alias Plentung, warga Gambiran, Kecamatan Cemani, Sukoharjo.

Meski remaja, namun keduanya sama-sama residivis. Kurniawan tercatat sudah empat kali melakukan aksi pencurian dan penjambretan di wilayah Solo dan Klaten. Kurniawan juga pernah mendekam satu tahun di lembaga pemasyarakatan (Lapas) Karanganyar.

Tak jauh berbeda dengan Kurniawan, Agung juga residivis dalam kasus pencurian dan penjambretan di wilayah Solo dan sekitarnya. Dia juga pernah mendekam empat bulan di Lapas Solo.

Spesialis Jambret

Tertangkapnya remaja spesialis penjambretan itu bermula dari laporan korban penjembretan di wilayah Mojosongo, Jatuti Ningsih, 41, dua pekan lalu. Perempuan asli Kemayoran Jakarta Pusat itu menjadi korban penjambretan saat hendak menumpang taksi.

Kedua pelaku yang berboncengan kala itu langsung menyambar tas korban berisi uang Rp300.000 dengan menunggang motor Satria 150 cc. Pelaku lantas kabur ke arah Cemani dengan kecepatan tinggi.

“Dari keterangan korban, polisi lantas melakukan penyelidikan dan mengerucut pada dua residivis ini,” ujar Wakapolresta Solo, AKBP Hariadi, didampingi Kasatreskrim Kompol Saprodin.

Kedua pelaku ditangkap polisi di waktu berbeda dan lokasi yang berbeda. Salah satu pelaku, yakni Agung Ari Wibowo, sempat merasakan timah panas pistol polisi yang menembus betis kaki kanannnya. Saat digelandang ke Mapolresta, Agung nampak berjalan tertatih-tatih. “Pelurunya menembus betis saya,” akunya.

Agung mengaku melancarkan aksi kejahatannya itu sudah kali kesekian. Hasil kejahatannya itu, kata dia, dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. “Saya punya beberapa adik kandung. Uang hasil jambret saya pakai untuk membantu adik-adik sekolah,” akunya.

Tak jauh berbeda dengan Agung, Kurniawa juga mengaku menjambret untuk kebutuhan sehari-hari. Meski berulang kali masuk bui, Kurniawan mengaku tak kapok.

LOWONGAN PEKERJAAN
DIBUTUHKAN TENAGA JAHIT, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…