Kepala Badan Nasional Penanggulangan, Tito Karnavian memberi keterangan kepada para wartawan ddi Hotel Lorin, Colomadu, Karanganyar, Kamis (31/3/2016). (Iskandar/JIBI/Solopos)
Rabu, 13 April 2016 23:00 WIB JIBI/Solopos/Bisnis/Newswire Hukum Share :

PENGGEREBEKAN DENSUS 88
Tito: Autopsi Tak Bisa Buktikan Penyiksaan Terhadap Siyono

Penggerebekan Densus 88 yang berujung kematian Siyono jadi kontroversi. Tito Karnavian kembali menanggapi hasil autopsi jenazah Siyono.

Solopos.com, JAKARTA — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Tito Karnavian mengatakan hasil autopsi terhadap jenazah Siyono yang dilakukan tim dokter forensik Muhammadiyah tidak bisa membuktikan adanya penyiksaan yang dilakukan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

“Apakah hasil autopsi menjelaskan bentuk pukulan dan mengapa pemukulan itu terjadi? Jangan langsung mengambil kesimpulan,” kata Tito di sela-sela rapat dengar pendapat bersama Komisi III DPR di Jakarta, Rabu (13/4/2016), dikutip Solopos.com dari Antara.

Mantan Kepala Densus 88 itu mengatakan hasil autopsi hanya akan memberikan informasi adanya kekerasan dari benda tumpul. Tetapi, bentuk kekerasan yang terjadi dalam kasus itu tidak bisa dijelaskan melalui autopsi. Menurut Tito, dugaan adanya penyiksaan terhadap Siyono hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan dan keterangan saksi-saksi.

“Dari pemeriksaan saksi-saksi yang saya tahu, ada perlawanan sehingga terjadi perkelahian di dalam mobil. Namun, saya tidak ingin mendahului hasil pemeriksaan internal Polri. Kita hargai dan kita tunggu saja,” tuturnya.

Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan berdasarkan hasil autopsi yang dilakukan tim dokter forensik Muhammadiyah, terdapat fakta tanda-tanda kekerasan berupa patah tulang rusuk di dada Siyono.

Ada empat fakta yang merupakan hasil otopsi tersebut. Pertama, pada jenazah Siyono tidak pernah dilakukan otopsi sebelumnya. Kedua, kematian Siyono akibat dari benda tumpul yang ada di bagian rongga dada, ada patah tulang di iga bagian kiri. Fakta ketiga adalah adanya lima tulang dada yang patah.

“Ini kemudian ke arah jantung sehingga cukup fatal. Titik kematian di daerah jantung namun terlalu banyak darah yang keluar,” kata salah satu pimpinan tim dokter forensik, dr. Gatot, Senin (11/4/2016).

Sedangkan fakta berikutnya yang tak kalah mengejutkan adalah tak adanya tanda perlawanan oleh Siyono kepada anggota Densus 88 yang mengawalnya. “Keempat, tidak ditemukan adanya perlawanan oleh Siyono ke densus [luka defensif],” tandasnya.

Baca juga: Mabes Polri Ngotot Sebut Siyono yang Menyerang Densus.

Fakti ini sangat berbeda dengan keterangan resmi yang diberikan oleh Mabes Polri beberapa waktu lalu soal penyebab kematian Siyono. Sebelumnya, Ketua Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Anton Charliyan, mengakui adanya dua poin kesalahan dalam prosedur penangkapan Siyono yang berujung pada kematiannya. Namun, kesalahan itu bukan soal penangkapan Siyono atau yang membuatnya meninggal dunia.

“Pertama, membuka borgol SY, dan kedua, hanya mengawal sendiri,” ujarnya, Selasa (5/4/2016). Anton menegaskan kematian Siyono bukan kesengajaan dan tetap menuding pria asal Cawas, Klaten, itu yang menyerang terlebih dahulu.

LOWONGAN PEKERJAAN
DIBUTUHKAN TENAGA JAHIT, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…