Muhammad Yunan Setiawan (Istimewa) Muhammad Yunan Setiawan (Istimewa)
Rabu, 13 April 2016 06:10 WIB Kolom Share :

MIMBAR MAHASISWA
Sastrawan Bukan Pengusaha Uang

Mimbar mahasiswa, Selasa (12/4/2016), ditulis Muhammad Yunan Setiawan. Penulis adalah mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Semarang Aktif di Kelab Buku Semarang.

Solopos.com, SOLO — Alkisah ada seorang laki-laki bernama Anton yang bersedih karena cintanya kandas gara-gara perbedaan status sosial. Anton gagal meyakinkan keluarga pacarnya untuk memberi restu.

Status sebagai mahasiswa tidak menjadi jaminan kebahagiaan untuk masa depan. Sang calon mertua tentu tidak mau berjudi dengan merelakan anaknya menikah dengan seorang mahasiswa yang belum jelas pekerjaannya.

Dalam puncak kesedihannya Anton berkata,”Karena aku mahasiswa melarat, karena masa depanku suram sekabur kehidupan yang absurd ini, karena aku tidak bisa memperlihatkan jaminan-jaminan kebahagiaan dalam ukuran masyarakat sekarang: materi! Aku cuma mahasiswa dengan kemiskinan masa sekarang, dan perjudian nasib di masa depan!”

Anton sadar kampus tidak memberikan pekerjaan yang mapan. Lakon sebagai mahasiswa ia jalani dengan moto: buku, pesta, dan cinta. Berkuliah dilakukan dengan riang gembira meskipun tidak ada jaminan mendapatkan pekerjaan.

Itulah sepenggal kehidupan Anton yang dikisahkan Ashadi Siregar dalam novel tipis Cintaku di Kampus Biru (1975). Kampus menjadi tempat mahasiswa menempa keilmuan dan kesenian. Kampsu adalah tempat orang-orang, dalam bahasa Ashadi, menatap dengan mata memimpi.

Orang-orang telanjur memahami kampus adalah tempat yang akan memberikan gelar sekaligus pekerjaan. Kampus bukan dimaknai sebagai lembaga penyelenggara keilmuan yang menekankan kehidupan akademis. Orientasi antara kuliah dan pekerjaan telah menjadi persoalan yang terus berulang.

Persoalan tersebut sebagian dibahas Mustaqim dalam subrubrik Mimbar Mahasiswa melalui esai yang berjudul Peluang Masa Depan yang Dikeluhkan (Solopos, 5 April 2016). Mustaqim menyampaikan jawaban sekaligus solusi dari pertanyaan yang tercatat di kalimat awal tulisannya,”Kuliah di program studi bahasa? Mau jadi apa orang yang belajar bahasa?”

Kita mendapat gambaran keresahan Mustaqim dan kawan-kawannya yang berkuliah di jurusan bahasa. Mustaqim menganjurkan kepada mahasiswa jurusan bahasa untuk berkarya sebagai jawaban dari sempitnya peluang pekerjaan. Bagi Mustaqim “karya akan membuat manusia lebih bermartabat, bahkan bagi orang yang tidak berpendidikan sekalipun.”

Saya kira semua orang setuju dengan ide tersebut, tetapi yang sedikit membuat saya merasa agak ganjil adalah contoh-contoh karya yang diajukan Mustaqim. Salah satunya adalah berkarya dengan menulis. Menurut pandangan Mustaqim, menulis akan memberikan keuntungan besar dan menjadi pekerjaan yang bisa diandalkan.

Menulis juga dipahami dengan nalar untung-rugi. Menulis bukan lagi sebagai pemenuhan gairah berintelektual dan menyuguhkan letupan ide kepada publik. Ini yang membuat Mustaqim dengan gampang menyamakan niat para penulis dalam menghasilkan materi kekayaan seperti Pramodya Ananta Toer, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA, kemudian menjadi nama panggilan: Hamka), Eka Kurniawan dengan penulis-pengusaha Ippho Santosa.

Pram, Hamka, dan Eka menghasilkan karya bukan untuk memenuhi selera pasar. Tentu kita tahu, atau Mustaqim yang tidak tahu, novel tertralogi Pulau Buru karya Pram atau novel-novel karangan Eka Kurniawan bermutu dan berbeda dengan buku Hanya 2 Menit Anda Tahu Potensi Rezeki Anda garapan Ippho Santosa.

Pram, Hamka, dan Eka Kurniawa yang saya kenal tampaknya berbeda dengan yang Mustaqim kenal. Saya curiga jangan-jangan Mustaqim hanya mengenal Pram, Hamka, dan Eka hanya sebatas pada nama yang karyanya laku dijual bukan karya yang dipenuhi perjuangan.

Ia mengira niat Pram, Hamka, dan Eka mengarang buku bermula untuk mencari keuntungan. Agaknya kita perlu menengok kisah orang-orang yang memutuskan menjalani hidup sebagai penulis agar kita tahu niat orang untuk menulis. [Baca selanjutnya: Risiko]

lowongan pekerjaan
EDITOR FISIKA (Fulltime), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL TERIOS TS’2008,Mulus/Gagah R18,Comp AC Baru,Silver,125JtNego, Hub=085640166830 (A001…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Rabun...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (11/9/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO — Judul esai saya ini saya adopsi dari terminologi Profesor Theodore Levitt tentang marketing myopia atau…