Dr Tan Wu Meng (Parkwaycancercentre) Dr Tan Wu Meng (Parkwaycancercentre)
Rabu, 13 April 2016 23:25 WIB Kesehatan Share :

Inilah 3 Revolusi Terapi Kanker

Dr Tan Wu meng, seorang Konsultan dan Onkolog Medis Parkway Cencer Centre, menulis tentang sejarah pengobatan kanker.

PARKWAYCANCER CENTRE — Profesi saya sebagai onkolog medis mengandung makna profesional dan pribadi. Saya memiliki anggota keluarga yang pernah berperang melawan kanker. Sebagiannya selamat dan hidup hingga usia tua renta. Sedangkan lainnya meninggal pada usia muda.

Dr Tan Wu Meng (Parkwaycancercentre)

Dr Tan Wu Meng (Parkwaycancercentre)

Di Singapura, satu dari tiga kematian disebabkan oleh kanker. Jika kita memasukkan juga mereka yang selamat dan keluarganya, jumlah kehidupan yang terkena dampak itu akan lebih banyak lagi. Di setiap bidang kedokteran, setiap generasi dokter dan peneliti mencoba untuk membuat inovasi. Jutaan wanita berhasil diselamatkan dari kanker serviks berkat Pap smear.

Ayo maju dan berbagi gaya hidup menuju kesehatan yang baik
di www.parkwaycancercentre.com/id/celebriting10years-id/
Raih kesempatan memenangkan Xiaomi Band atau Ipad.
Pengiriman terakhir 31 Maret 2016
Jl RM Said No 156 Solo, Indonesia 57132 Telp (0271) 723555

Vaksin hepatitis B, yang berguna mencegah infeksi hepatitis B kronis, menurunkan risiko kanker hati. Namun tidak ada pencegahan yang 100% efektif. Akan selalu ada kebutuhan yang sedang berlangsung akan terapi yang lebih baik. Pengembangan obat-obatan kanker telah secara luas diikuti salah satu acuan dari tiga revolusi dalam inovasi:

Kemoterapi
Kemoterapi menyerang sel yang berkembang cepat, termasuk sel-sel kanker. Inovasi ini memiliki efek samping, namun menjadi kemajuan besar dalam pengobatan kanker saat pertama kali ditemukan.

Contohnya, di awal abad ke-20, leukemia (kanker sel darah putih) sangat ditakuti ketimbang hari ini. Ahli bedah di masa itu bingung bagaimana cara mengobati kanker yang tidak berbatas, yang menyerap setiap tetes darah dan setiap sudut sumsum tulang itu, kortikosteroid hanya dapat menjadi pereda sakit dalam waktu singkat saja.

Sidney Farber, seorang dokter asal Boston, menguji suatu obat baru yang disebut aminopterin pada 16 anak yang mengidap leukemia serius. Sepuluh dari 16 anak bisa mencapai remisi sementara dengan kemoterapi.* Di tahun-tahun berikutnya Institut Kanker Dana-Farber, sebuah rumah sakit pendidikan utama di perluasan kampus milik Sekolah Kedokteran Harvard, akan dinamai dengan nama dokter tersebut.

Selama bertahun-tahun, kemoterapi merevolusi pengobatan banyak kanker. Vincent DeVita di Institut Kanker Nasional AS (NCI) mengembangkan kombinasi empat obat yang bisa meningkatkan tingkat kesembuhan pasien Limfoma Hodgkin ganas dari nyaris nol ke angka di atas 70 persen, angka yang pada gilirannya dikalahkan oleh hasil karya berikutnya di Stanford dan Jerman.

Inovasi dalam layanan dukungan juga turut membantu. Muncul obat-obatan yang lebih baik yang bisa mencegah muntah; antibiotik yang lebih baru untuk mengobati infeksi dengan lebih baik; injeksi penguat untuk membantu memelihara sistem imun sehingga kemoterapi tidak terlalu melemahkannya.

Namun paradigma terhadap kombinasi obat dengan obat lainnya (dengan efek samping yang lebih banyak juga tentunya) semakin berkurang. Banyak tumor dari organ-organ padat seperti payudara, usus besarrektum dan paru-paru memberi tanggapan baik dengan kemoterapi, namun tidak sedramatis seperti kanker yang berkembang dari darah, getah bening atau sel-sel testis.

Pasien, tentu nya, akan berusaha mengimbangi kualitas hidup mereka dengan efek samping an dari pengobatan.
Saat ini masih ada obat kemoterapi baru yang dikembangkan, apakah untuk situasi dimana pilihan yang terbaik masih belum ada, atau untuk mengurangi efek sampingan sehingga pasien dapat diberi pengobatan lebih baik.

Mutasi DNA

Mulai dari pertengahan abad ke-20, para ilmuwan berusaha menguraikan struktur DNA, dan rahasia bagaimana susunan abjad DNA membuka kode genetik ‘blue print’ genetik untuk memandu setiap sel – baik di dalam bakteri seltunggal ataupun pada kehidupan multi-sel yang kompleks seper-ti tanaman, hewan dan manusia.

Kode DNA memberitahu sel tubuh kita bagaimana cara memproduksi protein dan mesin mikroskopis lainnya. Beberapa jenis protein membantu sel tersebut memutuskan kapan harus tumbuh dan membelah diri. Sedangkan protein lainnya menjadi reseptor – sebuah “antena” pada permukaan sel – yang bertugas menerima dan menerjemahkan pesan yang terkirim melalui aliran darah dari organ lain.

Dengan berbekal pengetahuan dari cetak biru yang normal, para ilmuwan mulai memahami bagaimana mutasi DNA dapat mengubah sel-sel menjadi bersifat kanker. Pada beberapa kasus kanker ini- gene terkait dan protein mereka berikutnya dapat ditargetkan – entah dengan obat yang diharapkan bisa memulihkan karakter sel normal, atau dengan suatu antibodi yang melawan sel-sel kanker. Terapi tertarget lainnya mempengaruhi pembuluh darah yang menyediakan nutrisi bagi tumor – obat-obat seperti bevacizumab (Avastin).

Penemuan-penemuan riset ini telah diterjemahkan menjadi suatu manfaat yang nyata bagi pasien:
Tiga puluh tahun yang lalu adenokarsinoma ganas di paru-paru merupakan diagnosa suram dengan rata-rata tingkat kesintasan hanya beberapa bulan. Sekarang, untuk kanker paruparu dengan mutasi yang bisa ditarget, banyak pasien diperkirakan dapat hidup di atas 2 tahun kendati mengidap penyakit ganas. Tablet-tablet seperti gefi tinib (Iressa), erlotinib (Tarceva) dan afatinib (Gilotrif) telah menciptakan sebuah perbedaan besar dalam kanker paru-paru mutasi-EGFR; demikian juga dengan crizotinib (Xalkori), ceretinib (Zykadia) dan alectinib (Alecensa) untuk kanker paru-paru mutasi-ALK.

Terapi tertarget juga telah meningkatkan peluang sembuh pada kanker yang masih stadium awal. Kanker payudara yang positif terhadap penanda Her2 merespon jauh lebih baik saat kemoterapi dikombinasi dengan terapi tertarget Her2 misalnya trastuzumab (Herceptin) dan pertuzumab (Perjeta).

Untuk kanker payudara ganas lokal (yaitu tidak adanya penyebaran yang jauh namun jauh lebih besar untuk operasi segera), terapi ini dapat membuat perubahan, baik pasien memiliki atau tidak memiliki peluang operasi, yang dengan demikian berpotensi untuk sembuh.

Untuk pasien kanker kolorektal yang telah menyebar, tetapi hanya ke hati, maka ada peluang selamat jangka panjang apabila metastasis hati dapat diangkat seluruhnya. dengan menyusutkan metastasis maka operasi dapat dilaksanakan dengan lebih mudah. Jika tumornya memiliki profi l molekul yang tepat, maka mengombinasi kemoterapi dengan terapi tertarget seperti cetuximab (Erbitux) atau panitumumab (Vectibix) dapat menambah peluang penyusutan tumor.

Pada banyak instansi, memilih obat-obatan yang tepat mengharuskan tim medis untuk memahami betul target apa saja yang tersedia. Di tahun-tahun belakangan ini para dokter telah menyadari bahwa sekarang tidaklah cukup mengidetifikasi organ yang darinya kanker berkembang – namun juga harus menggolongkan genetik dan sub-tipe molekuler agar pengobatan dapat dilakukan dengan berpedoman pada informasi tersebut.

Namun kendati dengan kemoterapi dan terapi tertarget, kanker masih dapat beradaptasi dan menjadi kebal terhadap pengobatan. Kita memerlukan pengobatan yang bersifat adaptif yang dapat mengimbangi kanker – dan inilah yang sedang menjadi perhatian di imunoterapi.

Imunoterapi
Beberapa kanker dikaitkan dengan imunitas yang melemah. Sebagai contoh, pada penerima transplantasi organ padat yang mengonsumsi obat imunosupresif untuk mencegah penolakan terhadap organ yang didonasikan. Mereka berada dalam risiko yang lebih tinggi, termasuk di dalamnya adalah kanker kulit, kanker serviks dan limfoma.

Banyak riset telah dilakukan selama bertahun-tahun, untuk mencoba menghubungkan dan mengarahkan sistem kekebalan tubuh si pasien sendiri untuk menyerang kanker mereka. Pada dasarnya, ini terlihat masuk akal, karena sel-sel kanker merupakan sel abnormal dan berbeda dengan sel normal. Sistem imun melawan penyakit di seluruh tubuh, dan dapat mnyesuaikan diri terhadap perubahan lawan.

Dalam praktiknya, hasil dari imunoterapi telah dicampur, dan tergantung pada jenis kankernya. Secara tradisional, hasil terbaik adalah pada melanoma. Pada melanoma ganas, sejumlah sangat kecil pasien telah berhasil mencapai remisi setelah terapi dengan interleukin-2 dosis tinggi, yang sangat merangsang sistem kekebalan tubuh. Namun, efek sampingnya sulit untuk dittoleransi.

Baru-baru ini agen seperti ipilimumab (Yervoy) dan pembrolizumab (Keytruda) telah menunjukkan manfaatnya pada pasien penderita melanoma ganas. Obat-obatan ini bekerja sebagai “pos pemeriksaan inhibitor (zat yang mencegah pertumbuhan.penj.)” dengan cara melepas rem pada sistem imun. Menariknya, sejumlah kecil pasien menunjukkan respon yang sangat tahan lama, dan kanker mereka pun terkendali dengan baik untuk waktu yang panjang setelahnya.

Imunoterapi juga telah mentransformasi manajemen kanker paru-paru. Contohnya, pada knaker paru paru nonsel kecil yang kumat setelah kemoterapi lini pertama, maka obat imunoterapi ivolumab (Opdivo) akan menimbulkan respon yang lebih baik dan membantu pasien hidup lebih lama, dibandingkan dengan kemoterapi lini kedua tradisional.

Riset terus berlangsung untuk mengetahui bagaimana obat-obatan ini dapat membantu pasien dengan jenis kanker yang lainnya. Hasil yang cukup menggembirakan sudah terlihat pada kanker gastrointestinal, kandung kemih, kepala dan leher, serta kanker payudara.

Inilah waktunya berharap bagi peneliti imunoterapi, onkolog dan pasien bersama-sama. Saya mengharapkan suatu hari dimana kanker dapat dicegah dengan lebih baik, saat dimana semua pasien yang sedang diterapi dapat meraih hasil yang luar biasa tanpa beban bernama efek samping

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…