Peta Cangwit Creative Space. (Istimewa/Instagram)
Rabu, 13 April 2016 12:45 WIB Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos.com Peristiwa Share :

CANGWIT CREATIVE SPACE
Pasar Kreatif Pucang Sawit Terbaik Ketiga di Forum ASEAN

Cangwit Creative Space diganjar penghargaan di Forum ASEAN.

Solopos.com, SOLO — Pasar kreatif Pucang Sawit, Cangwit Creative Space, diganjar penghargaan terbaik ketiga di ajang ASEAN Young Excurtion (Youtex) yang berlangsung di Bangkok, Thailand, akhir Maret lalu. Cangwit Creative Space adalah kolaborasi model inkubasi bisnis kreatif dan kerja kolektif komunitas anak muda di Kota Bengawan

Youtex merupakan sebuah acara yang mempertemukan anak muda di wilayah ASEAN, termasuk Indonesia, untuk bersama-sama belajar ide serta tindakan nyata agar mereka bisa berkontribusi bagi lingkungannya. Tema yang diusung kegiatan tersebut adalah Connecting ASEAN Youth Leader to the World.

Selama enam hari, sebanyak 65 peserta dari Indonesia, Myanmar, Malaysia, dan Thailand, berkesempatan mempelajari etalase bisnis di Negeri Gajah Putih, mengikuti ASEAN Economic Community Symposium, serta adu konsep presentasi dalam bidang bisnis, budaya, hingga sosial.

Pengelola sekaligus salah satu konseptor Cangwit Creative Space, Miftah Faridl Widhagdha, menuturkan konsep pasar kreatif berbasis komunitas anak muda yang memanfaatkan lantai dua pasar tradisional dilirik di forum ASEAN tersebut.

“Saya ceritakan social movement Cangwit di simposium yang digelar Chulalongkorn University. Mereka tertarik dengan ide kami yang mengembangkan pasar tradisional untuk laboratorium start up bisnis anak muda. Hasil presentasi konsep pasar tradisional ini diberi penghargaan 2nd Runner Up Best Participant ASEAN Youtex,” terangnya saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (12/4/2016).

Miftah mengatakan keterlibatannya di forum tersebut atas inisiatif pribadi dan tidak didanai pemerintah. Menurutnya, setelah bertemu dengan beberapa anak muda dari beberapa negara di ASEAN, pihaknya merasa lebih percaya diri mengembangkan Cangwit Creative Space.

“Setelah sharing iklim bisnis bareng beberapa peserta, saya jadi tahu teryata keresahan pengusaha muda di ASEAN sama. Kita sama-sama was-was menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Jadi menurut saya, sekarang anak muda di Indonesia harusnya pede saja dengan ide yang dimilikinya. Yang penting fokus mengembangkan produk,” jelasnya.

Meskipun telah mendapatkan pengakuan di forum anak muda ASEAN, Miftah menyebutkan jika pasar kreatif yang ia kelola bersama teman-temannya masih belum sempurna. Pengelola Cangwit masih harus putar otak menambal sulam stan yang diisi pengusaha pemula.

“Cangwit sampai sekarang masih berjuang. Dari 26 stan yang tersedia, jumlahnya naik turun dari 19, naik jadi 20, naik lagi jadi 24, dan turun lagi jadi 20. Desain awal pasar kreatif ini memang untuk start up. Beberapa ada yang bertahan, sebagian ada yang bubar jalan karena sewanya  boleh bulanan,” bebernya.

Selain penyewa, menurut Miftah, pasar kreatifnya juga masih berjuang mencari pasar pengunjung yang mapan. “Atmosfernya belum terbentuk. Pengelola dan penyewa stan sama-sama berjuang mencari event komunitas untuk menghidupkan pasar. Sampai sekarang paling tidak sebulan ada enam kegiatan yang jalan. Tapi memang tidak semuanya bisa menarik pengunjung,” ujarnya.

Menurut Miftah, pasar kreatif yang diresmikan November 2015 lalu itu saat ini masih terus menggeber promosi untuk menarik minat pengunjung datang ke sana.

Secara terpisah, Dewan Pakar Solo Creative City Network (SCCN), Ahmad Adib, menyebutkan konsep dasar pasar kreatif prinsipnya memberdayakan pedagang pasar tradisional dengan produk lokal ditambah sentuhan kebaruan di lini kemasan, promosi, dan pajangan.

Akademisi Desain Komunikasi Visual UNS ini mengapresiasi capaian Cangwit Creative Space. Meski demikian, ia berpesan agar pengelola mengembangkan produk unggulan lokal agar pasar kreatif pertama di Solo tersebut  bisa lebih berkontribusi bagi masyarakat Kota Bengawan.

“Prinsip pasar kreatif itu harus memberdayakan pedagang setempat. Kalau hanya mendatangkan semua pedagang dari luar, tidak ada bedanya dengan Pasar Santa di Jakarta. Agar pasar kreatif di Solo beda, paling tidak harus ada produk lokal yang dikemas dengan promosi, display, dan kemasan yang modern. Dengan begitu, pasar kreatif di Solo punya perbedaan dengan kota lain,” kata dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…