Simulasi UN CBT atau UNBK di SMK Nahdlatul Ulama (NU) Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (30/3/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra) Simulasi UN CBT atau UNBK di SMK Nahdlatul Ulama (NU) Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (30/3/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)
Selasa, 12 April 2016 08:55 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

UJIAN NASIONAL
Soal Beredar di Line, Latarbelakangnya Meja Bertaplak Batik

Ujian nasional mengenai percakapan soal kembali ditemukan.

Solopos.com, JOGJA-Foto soal Ujian Nasional (UN) 2016 yang beredar dalam grup percakapan LINE kembali muncul.  menjadi laporan kecurangan dalam pelaksanaan UN. Bahkan selain puluhan butir soal, muncul pula foto soal beserta pembahasan dan jawaban dalam grup tersebut.

Hal lain yang menurut Asisten Ombudsman Republik Indonesia Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta-Jawa Tengah Muhammad  mencurigakan adalah adanya salah satu foto soal yang terunggah dengan latar belakang meja bertaplak batik coklat, yang notabene bukan meja milik siswa. Meski demikian ORI DIY menyebut tidak akan mengambil langkah gegabah, melainkan akan melakukan pengusutan mendalam terhadap kasus beredarnya soal UN berbasis kertas dalam grup LINE ini.

Rifki tidak dapat memastikan apakah grup LINE yang mengunggah puluhan foto kali ini, sama dengan grup LINE yang sebelumnya telah masuk dalam laporan ORI.

Ia menegaskan beredarnya foto soal ini merupakan kebocoran soal yang menguntungkan siswa peserta UNBK. Pelapor mengirimkan laporan karena merasa dirugikan, dengan tersebarnya foto soal sebelum ia mengerjakan soal yang ternyata sama dengan yang ia kerjakan. Langkah berikutnya, penting untuk mengetahui apakah sumber dari kebocoran ini berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Akan dibuktikan pula nanti bersama tim yang dibangun bersama Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY dan jajarannya, apakah memang soal ini sama antara UNBK dan berbasis kertas, atau hanya sekedar memiliki kemiripan.

“Kalau bocor seperti ini jelas ada kelemahan dalam pengawasan yang harus diperbaiki. Mudah-mudahan Disdikpora DIY dan jajarannya bisa memegang komitmen mengusut kondisi ini bersama,” kata dia, Senin (11/4/2016)

Dijumpai secara terpisah, Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji membenarkan adanya tim khusus yang akan melakukan kerja investigatif terkait dugaan kebocoran soal dalam pelaksanaan UN 2016.

“Upaya ini juga sebagai komitmen kami untuk mengawal integritas tinggi penyelenggaraan UN yang sudah sejak lama dicapai,” kata dia.

Pihaknya ingin terus mencari kebenaran terkait isu kebocoran tersebut agar tidak lagi ada kesimpangsiuran kabar. Tim ini juga berencana menelusuri asal foto soal UN yang sempat beredar bahkan akan melacak barcode soal yang beredar.

“Tapi jika melihat soal yang beredar lewat LINE itu dan waktu beredarnya juga setelah mata pelajaran soal yang beredar dilaksanakan, kesimpulan saya sebenarnya bukan kebocoran murni, karena soal memang sudah dikerjakan. Tapi masalah ini tetap akan jadi konsen kami,” jelas dia.

Disdikpora DIY mengusulkan beberapa hal untuk dijadikan pertimbangan pemerintah pusat dalam pelaksanaan UN tahun depan. Salah satunya ialah pemerintah pusat diharapkan bisa membuat regulasi yang dapat mempermudah penggunaan komputer untuk pelaksanaan UNBK.

“Kalau memang pemerintah pusat berniat melaksanakan UNBK secara keseluruhan, ayo kita niatkan UNBK semua. Pelaksanaannya bisa diatur bersama, pusat bisa membuat regulasi untuk mempermudahnya dan mengatur mekanismenya, daerah tinggal mengikutinya dengan melakukan berbagai penyesuaian terhadap kondisi masing-masing,” ungkapnya.

Usulan kedua, yakni dibentuknya bank soal UN untuk tiap-tiap propinsi. Hal tersebut untuk menghindari terjadinya kebocoran soal antar provinsi. Mengingat pada UN 2015 lalu, kebocoran yang terjadi di DIY, merupakan kebocoran soal di Aceh yang kebetulan merupakan paket soal Aceh yang sama dengan DIY.

LOWONGAN PEKERJAAN
Administrasi ( Wanita ) & Manager ( Pria), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…