Pembongkaran bangunan di bekas lokalisasi Kedung Banteng, Selasa (12/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Selasa, 12 April 2016 17:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

PROSTITUSI PONOROGO
Ratusan Bangunan di Bekas Lokalisasi Kedung Banteng Dirobohkan

Prostitusi Ponorogo yakni di Kedung Banteng dipastikan berhenti karena seluruh bangunan di kawasan itu telah dirobohkan.

Solopos.com, PONOROGO — Ratusan bangunan di eks lokalisasi Kedung Banteng, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo dirobohkan secara paksa oleh petugas, Selasa (12/4/2016) pagi.

Pemkab Ponorogo meenyiapkan dua alat berat di lokasi untuk membongkar seluruh bangunan tersebut.

Pantauan Madiunpos.com di kawasan eks lokalisasi Kedung Banteng, Selasa, ratusan petugas yang terdiri atas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) PP, polisi, dan anggota TNI berada di eks lokalisasi Kedung Banteng itu.

Sebagian bangunan di kawasan tersebut telah dibongkar pemiliknya secara mandiri, tetapi sebagian bangunan masih ditempati penghuni.

Ratusan warga juga terlihat menonton eksekusi pembongkaran di lokasi tersebut. Beberapa orang juga terlihat mengangkut barang-barang di tempat itu dan mengais barang yang masih bisa dimanfaatkan seperti kayu, besi bangunan, dan genteng.

Alat berat yang disediakan pemerintah dengan perlahan meruntuhkan bangunan yang sebagian besar terdiri dari tembok itu. Pembongkaran tersebut ditandai dengan aksi Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, menerjang bangunan tembok yang berdiri kokoh menggunakan alat berat.

Dalam waktu singkat, kawasan yang semula dipenuhi bangunan kokoh. Kini hanya terlihat puing-puing material bangunan. Dengan pembongkaran bangunan di eks lokalisasi Kedung Banteng ini, berakhir pula kegiatan di tempat tersebut.

Dalam acara pembongkaran bangunan itu, Ipong mengaku kecewa dengan warga penghuni bekas lokalisasi Kedung Banteng yang tetap tinggal dan beraktivitas di tempat tersebut.

Padahal, sesuai kesepakatan pada saat penutupan lokalisasi pertengahan 2015 oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, seluruh warga lokalisasi Kedung Banteng akan angkat kaki dari tempat itu.

“Sebenarnya Pemkab Ponorogo tidak perlu melaksanakan kegiatan pembongkaran seperti ini. Ketika warga secara sadar mematuhi kewajiban dan ketentuan yang telah disepakati,” kata Ipong.

Pembongkaran bangunan di bekas lokalisasi Kedung Banteng ini dilakukan setelah adanya aktivitas prostitusi di tempat itu pascapenutupan lokalisasi.

Hal ini dikuatkan dengan temuan anggota DPRD Ponorogo yang melakukan inspeksi mendadak beberapa waktu lalu dan menemukan 19 rumah yang masih digunakan beraktivitas.

Pegawai Pemkab Ponorogo menghadiri acara pembongkaran bangunan di bekas lokalisasi Kedung Banteng, Selasa (12/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Pegawai Pemkab Ponorogo menghadiri acara pembongkaran bangunan di bekas lokalisasi Kedung Banteng, Selasa (12/4/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)

Ipong menegaskan kegiatan prostitusi tersebut harus segera diberantas supaya tidak berkembang semakin banyak. Dia menganggap ketika kegiatan yang terselubung itu dibiarkan ditakutkan di kawasan itu akan semakin subur untuk kegiatan prostitusi.

“Kami juga telah berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti ulama dan organisasi keagamaan di Ponorogo dalam rencana pembongkaran bangunan di bekas lokalisasi Kedung Banteng. Dan hasilnya masyarakat mendukung kegiatan ini,” jelas dia.

Dengan dibongkarnya bangunan di kawasan tersebut, Ipong berharap Kedung Banteng bisa bebas dan bersih dari kegiatan prostitusi. Selain itu, untuk Ponorogo juga bisa menjadi wilayah dengan basis keagamaan yang kuat.

Warga Kedung Banteng, Sulistyo, mengatakan setuju dengan kegiatan pembongkaran bangunan di bekas lokalisasi Kedung Banteng. Ini supaya kegiatan prostitusi yang ada di wilayah itu hilang.

Menurut dia, keberadaan lokalisasi tersebut memang membuat warga di sekitar kawasan itu berdampak. Salah satunya, warga Kedung Banteng sering diindikasikan sebagai warga yang kurang baik karena berdekatan dengan lokalisasi itu.

Mengenai dampak ekonomi yang ditimbulkan, kata dia, sebenarnya warga asli Kedung Banteng tidak terlalu berdampak pada kegiatan di lokalisasi itu. Hal itu karena sebagian besar pedagang makanan yang ada di kawasan tersebut adalah warga luar Kedung Banteng.

“Kami malah sepakat dengan adanya pembongkaran bangunan ini. Saya sendiri ketika berkenalan dengan orang luar tidak menyebut dari Kedung Banteng, karena memang indikasinya negatif,” kata dia saat berbincang dengan Madiunpos.com di bekas lokalisasi Kedung Banteng.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…