Perwakilan TP PKK Pusat, Subekti, memberikan motivasi kepada siswa SDN 02 Jombong, Kecamatan Cepogo, Boyolali dan menyosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), di sela-sela penilaian Lomba Kesatuan Gerak PKK, Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Keluarga (KKBPK) Kesehatan, Selasa (12/4/2016). (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)
Selasa, 12 April 2016 15:40 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Boyolali Share :

PROGRAM KB
TP PKK Pusat Minta Boyolali Tambah Jumlah PLKB, Ini Alasannya

Program KB, Tim PKK Pusat meminta Pemkab Boyolali menambah PLKB di masing-masing kecamatan.

Solopos.com, BOYOLALI–Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Pusat meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali menambah jumlah petugas layanan keluarga berencana (PLKB) di masing-masing kecamatan.

“Kami dengar di Boyolali satu PLKB membina sampai 20 desa. Kalau di wilayah Cepogo misalnya, dengan kondisi geografis yang berada di lereng gunung, tentu akan menjadi tugas berat sehingga kami berharap pemkab bisa menambah jumlah PLKB,” kata Perwakilan TP PKK Pusat, Subekti, saat ditemui Solopos.com di Desa Jombong, Kecamatan Cepogo, Selasa (12/4/2016).

TP PKK Pusat bersama tim dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) datang ke Desa Jombong untuk melakukan penilaian karena Jombong masuk enam besar nasional Lomba Kesatuan Gerak PKK, Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Keluarga (KKBPK) Kesehatan.

Salah satu kriteria yang menjadi materi lomba adalah administrasi dalam bidang pelayanan KB termasuk kebijakan pemerintah daerah untuk mendukung program KB. “Salah satu yang kami soroti di sini soal PLKB. Semestinya satu PLKB minimal membina lima desa,” kata Subekti.

Subekti menjelaskan Jombong adalah satu dari enam desa di Indonesia yang cukup berprestasi dalam program pemberdayaan masyarakat. “Jombong harus bersaing dengan lima desa lainnya yang ada di Lampung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Bali untuk menjadi desa dengan program PKK terbaik.”

Sementara itu, dalam lomba PKK, KB, dan Pemberdayaan Keluarga, tim penilai melihat langsung kegiatan pemberdayaan masyarakat mulai dari kegiatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di SDN 02 Jombong, kegiatan di Posyandu Lansia, kelompok kegiatan pusat informasi konseling (PIK) remaja, kelas ibu hamil, kelas ASI, dan kegiatan PKK lainnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Jombong, Suharni, menjelaskan ada beberapa inovasi yang dilakukan tim penggerak PKK Desa Jombong terkait pemberdayaan masyarakat. Inovasi itu antara lain, mewajibkan setiap rumah untuk menyediakan dua tempat sampah yakni untuk sampah organik dan unorganik, penyeragaman pagar rumah warga agar lingkungan menjadi rapi, berdirinya bank sayur dan pemupukan modal dengan iuran bunga mawar yang dikembangkan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) Desa Jombong. Masing-masing keluarga juga harus memaksimalkan lahan dan pekarangan untuk tanaman sayuran atau bunga mawar.

Suharni menyebut jumlah kepala keluarga (KK) di Jombong sebanyak 698 KK. Sebanyak 468 KK adalah pasangan usia subur dan 91,03% di antaranya merupakan peserta KB aktif.

LOWONGAN PEKERJAAN
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…