Warga memilih tanaman sayuran organik pada acara peringatan Hari Pangan Dunia 2015 saat car free day (CFD) di Plaza Sriwedari, Solo, Minggu (18/10/2015). (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)
Selasa, 12 April 2016 17:40 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

PERTANIAN KARANGANYAR
Petani Nangsri Sukses Tanam Bawang Brebes

Pertanian Karanganyar, Pemkab Karanganyar menjajal tanam sayur untuk ubah siklus tanam.

Solopos.com, KARANGANYAR–Balai Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Kebakkramat berniat mengganti siklus tanam di Kecamatan Kebakkramat.

Petani tidak menanam padi sepanjang tahun, tetapi menyelingi sayur pada musim tanam (MT) II atau MT III. Salah satu upaya yang dilakukan adalah petugas BP3K Kecamatan Kebakkramat membuat demplot sayur. Mereka memanfaatkan lahan 2.000 meter persegi untuk menanam bawang merah dari Brebes Jawa Tengah dan Probolinggo Jawa Timur, sawi petsai, dan selada.

Hasilnya, bawang merah dari Brebes Jawa Tengah tahan terhadap cuaca di dataran rendah sedangkan bawang merah dari Probolinggo rusak. Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di Kebakkramat, Usep Setiawan, menuturkan sayur yang biasanya tumbuh di dataran tinggi, seperti Tawangmangu dan Ngargoyoso, dapat dibudidayakan di dataran rendah.

“Petani di Nangsri sudah ada yang mulai menanam. Kami berupaya agar petani mau mengubah siklus tanam. Bukan lagi padi sepanjang tahun, tetapi diselingi sayuran. Nah, kami memberikan contoh. Kami tanam dahulu untuk melihat hasil,” kata Usep saat ditemui wartawan di sela-sela memberikan penjelasan kepada Bupati Karanganyar tentang demplot, Selasa (12/4/2016).

Menurut dia, bawang merah dari Brebes lebih tahan curah hujan tinggi tetapi jumlah produksi terbatas. Berbeda dengan bawang merah dari Probolinggo. Bawang merah dari Probolinggo memiliki jumlah anakan lebih banyak, tetapi tidak tahan curah hujan tinggi.

Usep menjajal menanam satu kilogram bibit bawang merah Rp40.000. Satu kilogram bibit bawang merah menghasilkan 8-10 kilogram. Dia mendapat informasi harga bawang merah di pasar tradisional mencapai Rp50.000 per kilogram. Usep mengklaim sejumlah petani dari Desa Nangsri sudah menjajal menanam bawang merah.

“Harapan kami, petani mau menanam sayur untuk mengubah pola tanam. Sayur dapat ditanam pada MT II atau III. Banyak petani mau belajar. Petani di Nangsri sudah mencoba. Tujuan akhir adalah ekonomi petani meningkat,” jelas Usep.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono, menyambut baik hasil percobaan BP3K Kecamatan Kebakkramat. Orang nomor satu di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar terinspirasi menjual hasil pertanian organik di Sub Terminal Agrobisnis (STA) Karangpandan. Pemkab berencana menata STA Karangpandan menjadi terminal wisata dan etalase usaha.

“Yang kayak gini ini akan kami bikinkan etalase di STA. Jadi wisatawan pulang bawa produk organik,” tutur dia saat ditemui wartawan di sela-sela acara.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…