Pedagang kaki lima (PKL) mendorong gerobak saat mengikuti kirab Boyongan PKL Citywalk di Jl. Slamet Riyadi, Solo, Jumat (1/4/2016). Kirab boyongan tersebut diikuti 54 PKL yang direlokasi dari citywalk, Jl. Slamet Riyadi ke kawasan sisi selatan dan timur Stadion Sriwedari. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos) Pedagang kaki lima (PKL) mendorong gerobak saat mengikuti kirab Boyongan PKL Citywalk di Jl. Slamet Riyadi, Solo, Jumat (1/4/2016). Kirab boyongan tersebut diikuti 54 PKL yang direlokasi dari citywalk, Jl. Slamet Riyadi ke kawasan sisi selatan dan timur Stadion Sriwedari. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)
Selasa, 12 April 2016 17:17 WIB Indah Septiyaning W/JIBI/Solopos Solo Share :

PENATAAN PKL SOLO
Pemkot Tolak PKL Gerobak Kuning Kembali ke City Walk

Penataan PKL Solo, PKL gerobak kuning mendatangi Balai Kota.

Solopos.com, SOLO–Puluhan pedagang kaki lima (PKL) gerobak kuning mendatangi Dinas Pengelolaan Pasar (DPP), Selasa (11/4/2016). Kedatangan pedagang untuk menyampaikan berbagai persoalan pasca direlokasi ke sisi selatan Stadion Sriwedari, Jumat (1/4/2016) lalu.

Pedagang juga meminta dipindah kembali untuk menggelar dagangan di sepanjang city walk Jl. Slamet Riyadi. Namun permintaan tersebut langsung ditolak Pemkot.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, puluhan pedagang mendatangi DPP sekitar pukul 10.00 WIB. Namun kedatangan pedagang tidak ditemui langsung Kepala DPP Subagiyo, lantaran tengah menghadiri rapat paripurna di DPRD. Mereka hanya ditemui Kasi Penataan dan Pembinaan PKL DPP, Didik Anggono dan Kasi Operasi dan Pengendalian Satpol PP, Bambang M.B.S, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo).

Dalam pertemuan itu, pedagang mengeluhkan lokasi baru di Sriwedari yang dinilai tak layak untuk berjualan. Selain berdebu, lokasi juga tak representatif lantaran minimnya sarana dan prasarana pendukung untuk berjualan.

“Kami minta kembali lagi bisa berjualan di city walk, karena jualan di sana berdebu dan tidak layak untuk jualan,” keluh salah satu pedagang, Marsono.

Dia mencium ada unsur pemaksaan dari Pemkot dalam memindahkan PKL dari city walk Jl. Slamet Riyadi ke sisi selatan Stadion Sriwedari. Mestinya, Pemkot memindahkan pedagang setelah pembangunan selter sebagaimana dijanjikan selesai dibangun. Namun kini pedagang dipaksa berjualan di lokasi yang tidak representatif untuk berjualan. Akibatnya banyak pedagang memilih tak berjualan.

“Paling tidak lebih 10 pedagang yang berjualan di sisi selatan Stadion. Lainnya memilih tidak jualan, karena debunya banyak sekali,” katanya.

Dia menuturkan debu menjadi masalah krusial yang segera diselesaikan. Mengingat, mayoritas pedagang gerobak kuning berjualan makanan dan minuman yang harus bersih dan bebas dari debu. “Masalah debu sangat mengganggu pelanggan yang ingin datang dan makan,” katanya.

Senada disampaikan Riskiyanto yang meminta Pemkot memindahkan kembali pedagang ke city walk. Pedagang berharap bisa berjualan lagi di city walk sampai Pemkot menyelesaikan pembangunan selter untuk menampung pedagang.

Dia mengaku khawatir jika terus berjualan di lokasi baru akan mematikan pedagang. Saat ini saja, dia mengeluhkan sepinya pembeli di lokasi baru tersebut.

Kepala Seksi (Kasi) Penataan dan Pembinaan PKL DPP Didik Anggono menolak perminatan pedagang menempati kembali city walk di Jl. Slamet Riyadi. Didik mengatakan keputusan penataan PKL city walk ke sisi selatan Stadion Sriwedari tetap berjalan. Kebijakan memindahkan PKL ada ditangan Wali Kota. Hingga kini, Wali Kota memutuskan PKL tetap ditempatkan di sisi selatan Stadion Sriwedari.

“PKL dipindah karena segera dilakukan perbaikan drainase di kawasan city walk,” katanya.

Selama ini, Didik mengatakan Pemkot telah memberi toleransi kepada pedagang hingga 10 tahun menempati area city walk yang masuk dalam larangan untuk berjualan. Kini, Pemkot akan menata PKL untuk mengembalikan fungsi city walk yang diperuntukan khusus bagi pejalan kaki. Sedangkan untuk selter yang dijanjikan, Pemkot tengah mengupayakan untuk memenuhinya. Selain itu Pemkot juga telah memperbaiki pompa air untuk memenuhi kebutuhan air bagi para pedagang. Namun untuk fasilitas lebih lanjut, pedagang diharapkan bersabar. Sebab Pemkot akan berupaya memenuhinya secara bertahap.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…