Ilustrasi pementasan teater (JIBI/Solopos/Dok.) Ilustrasi pementasan teater (JIBI/Solopos/Dok.)
Senin, 11 April 2016 01:40 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

TEATER
Mengkritisi Komunikasi Lewat Lakon Pancagati

Teater Fajar Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 3 Jogja mengkritisi kemampuan berkomunikasi keluarga masa kini, lewat lakon berjudul ‘Pancagati’.

 

 

Solopos.com, JOGJA-Teater Fajar Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 3 Jogja mengkritisi kemampuan berkomunikasi keluarga masa kini, lewat lakon berjudul ‘Pancagati’.

Sebuah rumah yang cukup sederhana, tak nampak banyak pernak-pernik ditampilkan di hadapan penonton di Gedung Societet pada Sabtu (9/4/2016) malam. Dikisahkan pasangan suami istri Subarjo dan Suratiyah hidup bersama kelima anak perempuannya yang masing-masing memiliki karakter yang cukup kuat.

Ekasari, si sulung yang berambisi dalam mencari uang, waktu yang ia miliki habis untuk bekerja dan bekerja. Dwiratu anak kedua merupakan remaja putri yang tumbuh sebagai anak perempuan yang tak ingin diam saja dengan kondisi kehidupan saat ini, ia tak ingin kalah dengan kakaknya. Triasti digambarkan sebagai si anak ketiga yang moderat namun tak banyak tingkah, sedangkan Caturesmi merupakan anak keempat yang bertindak sebagai penengah dalam segala konflik di rumah tersebut, antara kakak dan adiknya, terutama konflik yang terjadi antara si bungsu dan kakaknya yang lain. Terakhir adalah Pancahani, si bungsu yang seakan tak mampu lepas dari televisi, rasanya adegan dalam hidup justru lekat dengan adegan di televisi.

Kisah dalam lakon yang dikisahkan dalam alur mundur ini, menampilkan fragmen-fragmen yang di tiap adegannya menyampaikan pesan dan humor ringan, dan menunjukkan kesan bahwa tak melulu remaja hanya lekat pada hiruk-pikuk soal percintaan antar lawan jenis. Melainkan melengkapi bagaimana setiap anggota keluarga tumbuh dengan kemampuan intelektual dan kapasitas mental masing-masing dalam menghadapi persoalan di keluarga. Mulai dari Subarjo yang sakit keras, Suratiyah ibunda lembut hati namun mulai menua, dan si sulung yang bekerja jauh merantau mencari uang.

Dinamika kisah Pancagati memanas, ketika si sulung pulang dari rantau dan kaget mengetahui bahwa sang ayah telah meninggal dunia, tanpa ada satupun anggota keluarga yang memberikan kabar padanya. Bukan sekedar marah dengan bentakan, saling menunjuk dan menyalahkan karena sikap keluarga, Ekasari juga membumbui klimaks cerita, ketika Suratiyah sedang membaca surat warisan, peninggalan terakhir Subarjo yang diidam-idamkan oleh Ekasari. Namun nyatanya warisan hanya diperuntukkan bagi anak yatim dan masjid.

“Oh, ternyata tadi hanya mimpi,” tutur si bungsu Pancahani terbangun dari tidurnya. Ya, gelak tawa penonton kemudian penuh di dalam gedung. Nyanyian ajakan bekerja keras dan hidup saling melindungi antar sesama, kemudian menutup lakon yang dimulai pada pukul 19.00 WIB tersebut.

Pimpinan Produksi ‘Pancagati’ Hasfi Asmaralaya mengungkapkan, adegan dalam Pancagati ingin menyampaikan pesan betapa pentingnya menjaga komunikasi dengan anggota keluarga, termasuk menjaga cara bertutur antara anak dan orang tua, serta sebaliknya. Selain itu, setiap orang juga harus mampu menempatkan diri mereka sebagai makhluk yang penuh welas asih, tak membeda-bedakan orang yang satu dan lainya, hanya karena harta atau penampilan fisik.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…