Data Pelanggan Listrik
Senin, 11 April 2016 16:15 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

TARIF LISTRIK
Subsidi dicabut, Masyarakat Sragen Protes

Subsidi listrik, warga Sragen keberatan dengan pencabutan subsidi listrik golongan 900 VA

Solopos.com, SRAGEN--Masyarakat Sragen bergejolak merespons rencana PT PLN (Persero) mencabut subsidi listrik bagi pelanggan rumah tangga golongan 900 VA secara bertahap mulai 1 Juni mendatang. Mereka keberatan dengan pencabutan subsidi yang secara frontal dalam waktu kurang dari setahun itu.

Seorang warga Nglorog RT 002/RW 002, Kelurahan Nglorog, Sragen, Sutarno, 47, saat ditemui Solopos.com di Sragen, Senin (11/4/2016), menyatakan keberatan dengan rencana pencabutan subsidi listrik tersebut.

Dia mengatakan kebutuhan listrik rumah tangga itu tidak banyak dan 900 VA itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tetapi bila dikenakan tarif Rp1.343 per kwh, kata dia, pajaknya sangat membebani pelanggan rumah tangga.

“Ketika beralih ke listrik prabayar ternyata pajaknya juga tinggi. Beli pulsa listrik prabayar Rp100.000 dapatnya hanya daya listrik senilai Rp84.000. Pelanggan rumah tangga golongan 900 VA itu rata-rata ekonomi menengah ke bawah. Mereka mau memasang daya 900 VA itu harus melengkapi dokumen surat keterangan miskin dari desa atau kelurahan dan kartu jamkesmas [jaminan kesehatan masyarakat]. Pasti akan ada gejolak. Saya sendiri pasti juga terkena dampaknya karena saya termasuk rumah tangga golongan itu,” ujarnya.

Dia khawatir bila kebijakan PT PLN ini tidak didasarkan pada pertimbangan tertentu justru akan menimbulkan reaksi yang luar biasa dari masyarakat. Dia berharap pencabutan subsidi itu tidak langsung seketika tetapi sedikit demi sedikit dalam kurun waktu yang lama sehingga masyarakat tidak terasa.

Seorang warga Sragen Tengah yang menolak disebut namanya berani mengancam akan berunjuk rasa bila kebijakan pencabutan subsidi listrik benar-benar dilaksanakan PT PLN. Dia menyampaikan dengan beban 900 VA saja pajaknya sudah di atas Rp50.000/bulan. Apalagi bila subsidi dicabut, dia akan menanggung pajak bulanan di atas Rp100.000.

Ketua Forum Masyarakat Sragen (Formas), Andang Basuki, mengatakan pencabutan subdidi listrik itu akan membawa multiplayer efect yang luar biasa dan berpotensi menimbulkan aksi demontrasi dari masyarakat dan mahasiswa. Dia menyampaikan listrik itu seperti air karena menjadi bagian dari hajat hidup orang banyak. Dampak yang terasa, kata dia, harga barang dan jasa meningkat, biaya produksi home industry atau industri rumahan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun meningkat, dan seterusnya.

“Biaya produksi menjadi tinggi. Pemerintah harus bisa menjelaskan secara logis dan realistik tentang rencana pencabutan subsidi listrik tersebut. Saya dengar untuk pemerataan pelayanan listrik di luar Jawa. Tujuannya baik tetapi caranya yang harus dikaji kembali karena pelanggan 900 VA itu merupakan golongan ekonomi kecil,” tutur dia.

Dia berpendapat menarik subsidi sama juga menarik hak rakyat. Ketika hak rakyat diambil oleh pemerintah, ujar dia, maka rakyat sebagai pemberi mandat akan bereaksi. Ekspresi rakyat dalam bereaksi, sambung dia, berbeda-beda maka pemerintah harus memberi alasan yang rasional.

“Saya melihat Indonesia belum siap untuk mencabut subsidi listrik karena praktik korupsi masih belum habis. Indonesia menuju negara sejahtera itu belum waktunya. Sistem hukum, perundang-undangan harus diperbaiki dulu dan budaya malu berkembang dulu baru melangkah ke sana,” tambah dia.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…