Ilustrasi menghitung uang tunai rupiah (Rahmatullah/JIBI/Bisnis) Ilustrasi menghitung uang tunai rupiah (Rahmatullah/JIBI/Bisnis)
Senin, 11 April 2016 04:40 WIB Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PERBANKAN
Kepercayaan Faktor Vital untuk Berkembang

Uang dalam jumlah besar disimpan di Bank hanya diganti dengan selembar kertas, buku tabungan, atau bahkan hanya berupa kartu, atau file data.

 

 

Solopos.com, JOGJA—Kepercayaan merupakan faktor yang paling penting dalam bisnis perbankan.

Pemimpin Cabang Utama PT Bank BPD DIY Kwartono Agus Rachmadi mengatakan, industri perbankan adalah industri kepercayaan. Uang dalam jumlah besar disimpan di Bank hanya diganti dengan selembar kertas, buku tabungan, atau bahkan hanya berupa kartu, atau file data.

“Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan pada Bank, maka nasabah akan menarik simpanan mereka,” papar dia dalam Workshop Membangun Kepercayaan Masyarakat pada Lembaga Perbankan Lokal PWI Cabang DIY di Grand Zuri Hotel, Jogja, Rabu (6/4/2016).

Ia mengungkapkan, satu nasabah yang tidak percaya akan menyebarkan informasi ke nasabah lain melalui media sosial. Saat ini, satu tulisan akan dibaca ratusan bahkan ribuan orang lain tanpa batasan geografis. Informasi negatif yang menyebar dengan cepat akan menyebabkan penarikan besar-besaran banyak nasabah yang dinamakan rush. Kejadian itu pernah terjadi pada saat krisis keuangan pada 1997.

Perbankan juga harus menyusaikan diri dengan karakter masyarakat dari waktu ke waktu. Masyarakat saat ini semakin pandai dan berhati-hati dalam memilih bank. Bank yang dipilih harus mampu mengakomodasi kebutuhan transaksinya. Mereka hanya akan mau berhubungan dengan bank yang mampu memberikan rasa aman dan juga nyaman, sekaligus keuntungan pada dana yang mereka tempatkan. “Mereka juga hanya akan memilih bank yang mengerti kebutuhan mereka dan mampu memberikan banyak kemudahan dalam pelayanan,” ujar dia.

Oleh karena itu, perbankan harus memiliki tata kelola perusahaan yang baik [GCG] yakni memiliki transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Perkumpulan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DIY Ascar Setiyono mengungkapkan, BPR juga harus bisa menjaga kepercayaan masyarakat. BPR harus fokus pada kekuatan yang dimiliki yakni dengan batasan kegiatan usaha BPR membuat BPR mengenal wilayah dan fokus terhadap pengembangan kondisi ekonomi regional.

Kemudian, kedekatan dan akses BPR dengan UMKM menjadi peluang bagi pengembangan program–program pemberdayaan komunitas UMKM di daerah. “Data base nasabah yang banyak menjadi peluang untuk pengenalan produk layanan baru dan memudahkan penerapan literasi keuangan,” papar dia.

Sebaran kantor yang luas di daerah-daerah menjadikan penetrasi BPR lebih optimal bagi produk dan layanan perbankan. Kemudian, loan to deposit ratio (LDR) yang tinggi menunjukkan fungsi intermediasi perbankan telah dijalankan oleh BPR. (Kusnul Isti Qomah)

lowongan pekerjaan
PT BACH MULTI GLOBAL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…