Siswa Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, Kabupaten Madiun, membuat pola tas di rumah produksi tas di sekolah setempat, Rabu (23/3/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Senin, 11 April 2016 11:05 WIB Madiun Share :

PENDIDIKAN MADIUN
Anak Difabel Butuh Dukungan Keluarga dan Lingkungan

Pendidikan Madiun ini terkait anak berkebutuhan khusus yang harus mendapat dukungan dari keluarga dan lingkungan.

Solopos.com, MADIUN — Putra Agung Wicaksono, 12, adalah salah satu siswa kelas III di Sekolah Dasar Luar Biasa (SD LB) Yayasan Dharma Wanita Jiwan, Kabupaten Madiun. Putra merupakan salah satu anak di Madiun yang menderita tunagrahita.

Dengan mengenakan singlet berwarna putih dan celana kolor berwarna merah kusam, Putra bermain-main sendiri di depan rumahnya di RT 023/RW 010 Desa Gerobogan, Jiwan, Rabu (23/3/2016) pagi.

Sesekali Putra merengek menangis dan menarik ibunya, Bibit Rukmini, 45, untuk jalan-jalan. Terkadang Putra pun mencopot celana kolor yang dikenakannya dan membuang celananya. Kemudian, sang ibu mengambilnya dan mengenakannya kembali di tubuh Putra.

“Ini dipakai, tidak sopan kalau tidak pakai celana. Ada orang banyak di luar,” kata Bibit kepada Putra.

Kemudian, Bibit pun mengajak Putra untuk memberikan makan beberapa kambing ternaknya yang ada di samping rumah. Dengan tergopoh-gopoh, Putra membawa rumput yang sudah tersedia ke kandang kambing. Meski membawa sedikit-sedikit, Putra sanggup memberikan makan kepada kambing ternaknya.

Kepada Madiunpos.com, Bibit menceritakan kondisi yang dialami Putra itu sudah terjadi sejak bayi, pada saat itu Putra sering kejang dan tidak bisa menangis.

Saat mengetahui kondisi anak keduanya yang tidak normal, Bibit pun dengan telaten membawanya ke sejumlah pengobatan baik rumah sakit maupun pengobatan tradisional.

“Saya ikhlas dengan kondisi anak kedua itu. Saya pun tidak pernah putus asa untuk mengajaknya berobat supaya bisa sembuh. Tetapi, mungkin Tuhan belum memberikan kesembuhan kepada Putra,” ungkap dia.

Putra masuk SD LB Dharma Wanita Jiwan sejak berusia lima tahun. Bibit menyadari kekurangan anaknya, untuk itu sejak dini Putra dikenalkan dengan dunia luar dengan menyekolahkannya di sekolah luar biasa.

Dia pun mengetahui kekurangan anaknya yang tidak mungkin mudah dalam menyerap ilmu maupun keterampilan.

Bagi Bibit, melihat anaknya sudah memegang sendok sendiri dan makan sendiri, mandi sendiri, dan mengenakan pakaian sendiri, itu sudah menjadi sesuatu kemajuan yang luar biasa.

Dia sadar tidak mungkin mengharapkan Putra menjadi seperti anak-anak pada umumnya karena tunagrahita yang disandangnya.

Saat di rumah, dia pun selalu mengajarinya untuk bisa makan, mandi, mengenakan pakaian sendiri. Meskipun, hal itu sulit dilakukan, dia mengaku tidak akan pernah putus asa untuk mengajarinya.

“Kalau bukan saya yang mengajarinya, terus siapa lagi. Harapan terbesar saya, Putra bisa makan sendiri. Sebagai keluarga kurang mampu, saya rasa itu harapan yang realistis bagi keluarga kami,” kata dia.

Saat berangkat sekolah yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya, Bibit mengantar Putra dengan jalan kaki. Dan saat pulang sekolah, dia menjemput Putra pulang. Sebab, Putra belum bisa pulang sendiri dan ditakutkan kalau dibiarkan pulang sendiri bisa pergi ke mana-mana.

Kepala Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, Sri Florenty, 56, menyampaikan Putra merupakan salah satu siswa tunagrahita yang belajar di sekolahnya.

Kemampuan siswa tunagrahita dalam menyerap ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan di sekolah, menurut dia, cukup lamban. Ada belasan siswa di sekolah tersebut yang menderita tunagrahita.

Sri menyampaikan mendidik siswa tunagrahita diperlukan kesabaran ekstra. Pendidik pun tidak boleh bosan dalam menyampaikan satu keterampilan yang diulang-ulang.

“Semisal saat diminta untuk menyapu ruangan, guru pun harus mengingatkan beberapa kali. Kalau tidak, anak tunagrahita biasanya tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya itu. Sering itu, saat anak tunagrahita diminta bersih-bersih, kalau tidak diawasi nanti dia berhenti, padahal pekerjaannya belum selesai. Jadi memang harus sabar,” jelas dia.

Di Sekolah LB Dharma Wanita Jiwan ada dua tipe siswa yaitu siswa tunarungu dan siswa tunagrahita. Untuk siswa tunarungu, memang penangannya lebih mudah karena sebagian besar tingkat intelektualitas mereka tinggi. Sehingga, mereka mudah dalam mengikuti pelajaran maupun keterampilan yang diajarkan.

Menurut Sri, pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah. Apalagi, dalam hal ini siswa di sekolah luar biasa harus mendapat dukungan dari keluarga dan lingkungan.

Ketika tidak mendapat dukungan dari keluarga, tentunya anak tersebut akan kesulitan untuk mengembangkan diri dan bisa hidup mandiri.

“Anak yang lahir cacat atau menderita gangguan mental bukan menjadi aib bagi keluarga. Tetapi, itu adalah anugerah yang harus disyukuri. Tidak hanya dukungan dari keluarga saja, tetapi dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat penting,” kata dia saat berbincang dengan Madiunpos.com di ruang kerjanya.

Sri menambahkan selalu mengingatkan kepada orang tua siswa untuk terus mendukung anak dalam mengembangkan diri. Dukungan dari keluarga sangat penting untuk menumbuhkan mental dan semangat anak penyandang difabel dalam memandang dunia.

Salah satu alumni SMK Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, Tanbihul Ulum, 25, menceritakan saat ini dirinya bisa mencari uang sendiri dengan membuat tas di bengkel tas milik Yayasan Dharma Wanita Jiwan. Saat ini, penderita tunarungu tersebut bisa menabung uang.

“Penghasilan saya dari membuat tas ditabung. Nanti kalau sudah banyak mau dibuat membeli motor supaya saya bisa jalan-jalan,” kata dia kepada Madiunpos.com sembari tersenyum.

Ulum menceriatakan di balik keberhasilannya dalam menyelesaikan pendidikan di SMK Dharma Wanita ada keluarga yang terus mendukungnya

“Saya beruntung bisa mengenyam pendidikan dan diberi keterampilan menjahit, sehingga saya bisa membuat tas. Ini menjadi bekal saya dalam menjalani kehidupan kelak,” kata dia.

 

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….