Kabid Pendapatan Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Solo, Sigit Prakoso (dua dari kiri), meninjau stan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) saat peresmian pasar kreatif Pakem di lantai II, Pasar Kembang, Solo, Minggu (28/2/2016). (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)
Senin, 11 April 2016 23:40 WIB Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos Solo Share :

PASAR TRADISIONAL SOLO
Pakem Solo Diarahkan sebagai Ruang Kumpul Akomodatif

Pasar tradisional Solo, Pakem Solo akan digunakan sebagai ruang kumpul akomodatif.

Solopos.com, SOLO–Pengelolaan Pakem Solo yang menempati lantai dua Pasar Kembang kini lebih diarahkan sebagai ruang kumpul berbagai komunitas. Pergeseran konsep dilakukan seiring tingginya respons komunitas menggelar pertemuan di pasar kreatif tersebut.

Koordinator Pengelola Pakem Solo, Budi Prajitno, mengatakan dalam kurun waktu 40 hari beroperasi, pasar kreatif yang ia kelola cukup intens digunakan sebagai ruang pertemuan. “Paling tidak ada dua pertemuan setiap pekan. Yang sudah bikin acara di Pakem Solo ada dari komunitas fotografi, musik, film, akademi berbagi, KNPI, sampai HIPMI,” terangnya saat berbincang di kawasan Punggawan, Senin (11/4/2016).

Budi mengemukakan tingginya animo komunitas menggelar acara pertemuan di Pakem Solo kemudian direspons pengelola dengan mengubah tata kelola ruangan pasar. “Sebelumnya pertemuan khusus di sisi kanan [utara]. Tapi sekarang sudah ditata di kanan dan kiri [selatan]. Daya tampungnya sekarang naik dua kali lipat, bisa memuat 80 orang,” bebernya.

Menurut Budi, pemanfaatan ruang pertemuan di tempatnya hingga kini masih gratis. Pengelola masih mencari formula sponsor yang sekira bisa mengakomodasi semua kepentingan. “Sampai sekarang kami masih mandiri dulu. Sementara patungan. Kalau sponsor masuk, tentu harus mempertimbangkan berbagai komunitas. Ke depan kami upayakan bikin acara yang bisa menghasilkan,” paparnya.

Disinggung soal pengelolaan pasar kreatif untuk menjajakan produk kreatif dari pengrajin usaha kecil menengah (UKM) di Kota Bengawan, Budi mengungkapkan saat ini penataan galeri produk UKM sedikit diubah.

“Dulu galeri semuanya di sisi kiri. Tapi kami lihat penataan seperti itu tidak efektif. Kadang orang hanya kumpul-kumpul di sisi kanan. Sekarang produk kreatif ditata di tepi sisi kanan dan kiri. Jadi kalau ada pertemuan atau kumpul-kumpul komunitas, barangnya jadi bisa lebih dilihat,” ungkapnya.

Budi mengatakan keuntungan barang yang dijajakan di Pakem Solo tidak hanya dipajang di lantai dua Pasar Kembang. Namun juga bisa turut dibawa ke pameran kolektif dari komunitas yang berjejaring dengan pengelola Pakem Solo.

“Ini ekses dari pasar kreatif. Dengan adanya beberapa kali pertemuan di Pakem Solo, timbul kerja sama dengan komunitas lain yang ngajakin pameran di mal atau luar kota. Tempo hari barang dagangan teman-teman ada yang diboyong ke Malang dan Bali untuk dipamerkan. Keuntungan seperti ini tidak bisa dinilai dari materi,” kata dia.

Lowongan Pekerjaan
CV SINDUNATA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…