Salah satu penjual Serabi Ngampin, Timah, menunjukkan serabi yang siap disajikan di kiosnya, yang terletak di Jalan Ambarawa - Magelang, tepatnya di Desa Ngampin, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Sabtu (9/4/2016). (Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com) Salah satu penjual Serabi Ngampin, Timah, menunjukkan serabi yang siap disajikan di kiosnya, yang terletak di Jalan Ambarawa - Magelang, tepatnya di Desa Ngampin, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Sabtu (9/4/2016). (Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com)
Senin, 11 April 2016 17:50 WIB Semarang Share :

KULINER SEMARANG
Ini Dia Serabi Khas Ambarawa, Mau Coba?

Kuliner Semarang menyajikan berbagai jajanan yang beranekaragam sesuai dengan ciri khas daerah tersebut, salah satunya adalah Serabi Ngampin yang banyak terdapat di Ambarawa.

Solopos.com, AMBARAWA – Serabi atau surabi. Nama jajanan yang sudah tidak asing lagi masyarakat Indonesia.

Selain rasanya yang khas, jajanan yang terbuat dari tepung beras itu juga banyak di temui di berbagai daerah di Indonesia dengan ciri khasnya masing-masing, tak terkecuali di Ambarawa.

Daerah yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Semarang itu, juga memiliki serabi khas, yang disebut dengan Serabi Ngampin. Penjaja Serabi Ngampin ini banyak ditemui di sepanjang jalur Ambarawa – Magelang, tepatnya di Desa Ngampin, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.

Para penjual biasanya menjajakan Serabi Ngampin itu di warung berukuran 2×3 yang terletak di pinggir-pinggir jalan. Biasanya, saat akhir pekan atau liburan, warung-warung di sepanjang jalur Ambarawa-Magelang itu ramai dikunjungi para pembeli.

Seperti layaknya kue serabi pada umumnya, Serabi Ngampin juga terbuat dari olahan tepung beras yang dikukus dengan tungku. Namun, yang membedakan Serabi Ngampin dengan serabi lain adalah ukuran dan campuran kuahnya.

Berbeda dengan Serabi Notokusuman maupun Surabi dari Bandung yang memiliki ukuran besar, Serabi Ngampin disajikan dengan ukuran yang kecil-kecil. Selain itu, Serabi Ngampin juga disajikan dengan menggunakan kuah yang terbuat dari santan.

Salah satu pembeli, Hendarto, 40, warga Argo Kencana, Ungaran, Kabupaten Semarang, mengaku tak pernah melewatkan kesempatan menikmati Serabi Ngampin jika melintasi daerah itu. Ia mengaku Serabi Ngampin memiliki keunikan rasa yang berasal dari kuahnya.

“Kalau serabi pada umumnya, tidak pakai kuah. Tapi, kalau Serabi Ngampin ada kuahnya, mirip seperti Surabi Bandung. Tapi, yang membedakan Serabi Ngampin dengan Surabi Bandung adalah kuahnya terbuat dari santan sehingga rasanya jadi gurih,” ujar Hendarto saat berbincang dengan Semarangpos.com di sela-sela menikmati Serabi Ngampin di Ngampin, Jambu, Kabupaten Semarang, Sabtu (9/4/2016).

Salah satu penjual serabi, Timah, 45, warga Dusun Garun RT 005/RW 006, Ngampin, Kecamatan Jambu, mengaku biasanya warungnya ramai dikunjungi pembeli saat akhir pekan atau musim liburan. Jika hari-hari tersebut, ia pun bisa menghabiskan sekitar 2 kg tepung beras untuk membuat Serabi Ngampin.

“Kalau hari-hari biasa, biasanya tepung beras yang dihabiskan sekitar 1 kg. Untuk satu kilonya, bisa dibuat olahan serabi sebanyak 100 buah,” ujar Timah.

Untuk satu porsi, Timah biasanya menjual Serabi Ngampin itu seharga Rp5.000. Dalam satu porsi itu, biasanya terdapat lima butir serabi dengan varian rasa yang berbeda-beda, mulai dari coklat, pandan hingga vanilla. Nah, Anda ingin mencoba?

lowongan pekerjaan
Toko Cat Warna Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL DP Murah, Angsuran Ringan! Nego sampai OKE! Yuni – 08562998806 (A00844092017) Terios…
  • LOWONGAN CARI PTIMER 2-4 Jam/Hari Sbg Konsltn&SPV Bid.Kshtn All Bckgrnd Smua Jursn.Hub:0811.26…
  • RUMAH DIJUAL Jual TNH&BGN HM 200m2,LD:8m,Strategis,Makamhaji,H:08179455608 (A00280092017) RMH STRG…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Komunisme dan Logika Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (23/9/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, seorang editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Mungkin kita pernah membaca pernyataan bahwa adanya kemiskinan dan ketimpangan ekonomi…