JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Gubernur DI. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama Bupati Bantul, Suharsono mererima pejelasan dari Kepala Program Studi Magister Teknik Geologi UPN Yogyakarta, Dr. C. Prasetyadi saat melakukan kunjungan ke lokasi Sesar (patahan) Opak di Dusun Kembangsongo, Trimulyo, Jetis, Bantul, DI. Yogyakarta, Sabtu (09/04/2016). Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian acara Napak Tilas Gempa Jogja 2006. Sejumlah akademisi meminta kepada pemerintah agar kawasan patahan ini tidak rusak oleh kegiatan penambangan agar tetab bisa menjadi wahana studi bagi mahasiswa ataupun peneliti geologi. JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Gubernur DI. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama Bupati Bantul, Suharsono mererima pejelasan dari Kepala Program Studi Magister Teknik Geologi UPN Yogyakarta, Dr. C. Prasetyadi saat melakukan kunjungan ke lokasi Sesar (patahan) Opak di Dusun Kembangsongo, Trimulyo, Jetis, Bantul, DI. Yogyakarta, Sabtu (09/04/2016). Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian acara Napak Tilas Gempa Jogja 2006. Sejumlah akademisi meminta kepada pemerintah agar kawasan patahan ini tidak rusak oleh kegiatan penambangan agar tetab bisa menjadi wahana studi bagi mahasiswa ataupun peneliti geologi.
Senin, 11 April 2016 10:20 WIB Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

KAWASAN RAWAN BENCANA
UPN Veteran Usulkan Lokasi Rawan Gempa Sebagai Kawasan Geoheritage di Bantul

Kawasan rawan bencana gempa bumi diusulkan menjadi kawasan geoheritage

Solopos.com, BANTUL-Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogja merekomendasikan beberapa lokasi rawan bencana gempa bumi di Jogja sebagai kawasan geoheritage, hal tersebut direkomendasikan karena dirasa penting sebagai sumbangsih ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

Rektor UPN Prof. Sari Bahagiarti mengatakan dengan dijadikan sebagai kawasan geoheritage, maka kawasan tersebut akan memiliki nilai ilmu pengetahuan yang sangat tinggi dan luar biasa karena dapat merepresentasikan rangkaian-rangkaian rekaman tahapan geologi.

“Sehingga masyarakat akan memiliki pemahaman yang baik terkait potensi bencana alam gempa bumi yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Selain itu nantinya kawasan ini bisa dijadikan sebagai tempat wisata minat khusus yang juga dapat mengembangkan bidang pariwisata,” papar Profesor Sari saat meninjau lokasi sesar opak di Dusun Kembangsono, Trimulyo, Bantul, Sabtu (9/4/2016).

Sementara itu kawasan sesar atau patahan Opak yang ditinjau dalam kegiatan Napak Tilas Gempa Yogyakarta Kuno-Sekarang itu disebut-sebut sebagai lokasi sumber gempa dengan kekuatan 5,9SR yang terjadi pada 27 Mei 2006 lalu.

Sari menambahkan, selama ini beberapa lokasi yang rawan bencana gempa bumi tersebut memang belum banyak disadari oleh berbagai kalangan, padahal menurutnya di kawasan rawan gempa seperti patahan Opak di Bantul sangat potensial dikembangkan sebagai tempat wisata.

“Yang terpenting ada semacam sosialisasi kemasyarakat dan memberikan plang atau imbauan keterangan dalam papan yang mudah dibaca, dan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat tentunya,” ujarnya.

Ia menambahkan selain patahan yang menjadi sumber gempa berada di wilayah DIY, terdapat pula patahan-patahan lain seperti yang sewaktu-waktu juga bisa menyebabkan terjadinya bencana gempa bumi berada antara lain di Pacitan Jawa Timur, dan di Cimandiri Jawa Barat.

“Dari beberapa lokasi patahan tersebut menurut para ahli yang paling besar memang terdapat di wilayah Bantul atau yang disebut sebagai patahan Opak sehingga wilayah ini memang seharusnya sangat diwaspadai,”paparnya.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…