Ruas jalan lingkar Kota Wonogiri yang telah selesai pengerjaan. (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Senin, 11 April 2016 22:40 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

INFRASTRUKTUR WONOGIRI
JLK Wonogiri Belum Tuntas, Ini Kendalanya

Infrastruktur Wonogiri, jalan lingkar kota Wonogiri hingga 2015 baru 5 km yang selesai pengerjaan.

Solopos.com, WONOGIRI–Proyek jalan lingkar kota (JLK) Wonogiri yang direncanakan sejak sebelum 2010 silam hingga kini belum tuntas. JLK yang direncanakan dibangun sejauh 15 kilometer (km), hingga 2015 lalu baru terbangun 5 km.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Wonogiri, Sri Kuncoro, saat ditemui Solopos.com di Sekretariat Daerah (Setda) Wonogiri, Senin (11/4/2016), menyampaikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) tidak bisa langsung menuntaskan proyek JLK karena terbentur keterbatasan anggaran. Oleh karena itu proyek dikerjakan secara bertahap menyesuaikan anggaran yang ada. Berdasar detail engineering design (DED) yang dibuat sebelum 2010, JLK diproyeksikan menelan biaya Rp80 miliar. Biaya itu diperkirakan bertambah seiring kondisi ekonomi Indonesia yang secara otomatis memengaruhi harga-harga.

Dia menginformasikan JLK direncanakan sejauh 15,3 km yang melintasi dua kecamatan, yakni Wonogiri dan Selogiri. Pembangunan dikerjakan dengan betonisasi. Lebar jalan 15 meter dengan area perkerasan 7 meter. JLK itu dari persimpangan dekat Rumah Makan Pak Eko di Bulusulur, Kecamatan Wonogiri ke selatan hingga Desa Pokoh, Kecamatan Wonogiri, lalu melalui Waduk Gajah Mungkur (WGM). Selanjutnya ke arah Markas Polres Wonogiri lalu melalui Desa Pare hingga Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri dan berakhir di dekat Terminal Giri Adipura, Krisak, Selogiri.

Dari perencanaan 15,3 km tersebut JLK baru terbangun sepanjang 5 km. Area yang belum terbangun banyak yang masih berwujud kebun atau tegal dan permukiman. Pembebasan lahan sudah dilaksanakan sejak lama. JLK dibangun untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di Jl. Diponegoro yang merupakan kawasan kota Wonogiri. Sedianya JLK diperuntukkan bagi kendaraan umum, termasuk angkutan umum, seperti bus.

Sri Kuncoro melanjutkan anggaran terbesar disokong dari bantuan dana dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. Informasi yang dihimpun Solopos.com tahun lalu Pemprov menggelontorkan dana senilai Rp5,8 miliar. Tahun ini Pemkab menerima bantuan serupa senilai kurang lebih Rp8 miliar dan akan ditambah dari anggaran APBD 2016 senilai kurang lebih Rp3 miliar. Hanya, Sri Kuncoro tak menjelaskan anggaran Rp11 miliar itu untuk membangun JLK berapa km.

“Dari anggaran yang direncanakan menghabiskan Rp80 miliar, baru terealisasi 20 persen [sekitar Rp16 miliar]. Karena anggaran APBD terbatas ya harus bertahap pengerjaannya. Anggaran tahun ini merupakan anggaran terbesar dari tahun-tahun sebelumnya,” ucap dia.

Salah satu ruas JLK yang sudah dibangun yakni ruas jalan dekat Terminal Giri Adipura hingga depan Kantor Desa Singodutan ke arah Desa Pare sejauh lebih dari 1 km. Seluruh ruas jalan itu sudah dibeton. Kades Singodutan, Karsanto, saat ditemui Solopos.com berharap JLK segera rampung. Menurut dia JLK akan berdampak positif bagi perekonomian warga yang dilalui JLK.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…