Pengunjung menerobos garis polisi yang dipasang di semburan air bercampur lumpur di Desa Jari, Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (10/4/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Aguk Sudarmojo)
Senin, 11 April 2016 13:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

FENOMENA ALAM BOJONEGORO
Akademisi: Semburan Lumpur Bojonegoro Takkan Seperti Lapindo

Fenomena alam Bojonegoro ini terkait kemunculan semburan lumpur di Desa Jari, Gondang, Bojonegoro.

Solopos.com, BOJONEGORO – Fenomena alam berupa semburan lumpur bercampur air yang terjadi di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, diyakini tidak berbahaya.

“Disimpulkan bahwa yang keluar di kawasan tersebut sebenarnya hanya gas dan tidak akan terjadi seperti kejadian di Lapindo Sidoarjo,” kata ahli tektonik dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta Dr. Jatmiko Setiawan melalui e-mail yang diterima di Bojonegoro, Senin (11/4/2016).

Jatmiko yang pernah melakukan peninjauan lapangan di lokasi semburan lumpur Bojonegoro itu menjelaskan gas yang keluar mengandung belerang dan H2S (Hidrogen Sulfida) yang tidak terlalu besar (1 ppm), karena dekat dengan intrusi andesit yang banyak mengandung besi.

Dengan demikian, kalau tidak dalam kondisi musim hujan, yang keluar hanyalah gas, tanpa air dan lumpur.

“Dimungkinkan keluarnya gas hanya kecil dan bisa jadi Kahyangan Api ke-2 di Bojonegoro jika disulut api dan selalu keluar gas, maka api tidak pernah akan padam,” ujar dia.

Ia juga mengemukakan gas yang keluar berasal dari reservoir Formasi Seloreja ataupun Formasi Wonocolo yang hanya tipis di atas intrusi Andesit.

Formasi Wonocolo dan Formasi Seloreja adalah reservoir yang terlipat membentuk antiklin Selo Gajah, yang bisa dipakai untuk perangkap gas.

Oleh karena itu, lanjut dia, lumpur dan air yang keluar hanyalah sedikit dengan debit sekitar 1 liter per detik, karena melalui batu lempung Formasi Kalibeng yang sudah padat.

Secara ilmiah, menurut dia, terjadinya kawasan Bojonegoro, disebabkan lempeng India-Australia, menumbuk Jawa, sekitar 3 juta tahun lalu. Akibat tumbukan itu, terbentuklah lipatan-lipatan di Bojonegoro, salah satunya antiklin” Selo Gajah.

Bersamaan dengan terbentuknya lipatan tersebut terjadilah intrusi andesit, yang selanjutnya tertutup secara tidak selaras oleh batu lempung Formasi Kalibeng.

Formasi Kalibeng juga terkena tektonik Pleistosen, sekitar 1,6 juta tahun lalu dan terlipat serta secara keseluruhan Bojonegoro akhirnya yang semula laut berubah, menjadi daratan.

“Pada titik perpotongan tersebut terjadilah kebocoran gas yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Kasi Trantib Kecamatan Gondang, Bojonegoro Eko Wage, menjelaskan sebelum muncul semburan air bercampur lumpur dan gas di desa setempat pernah terjadi gempa secara berturut-turut selama dua pekan.

“Kejadiannya dua bulan lalu,” ucapnya.

Sesuai perhitungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, semburan lumpur bercampur air yang terjadi di empat lokasi di satu kawasan sejak lima hari lalu itu, debitnya sekitar 1 liter per detik.

Debit air itu, masuk ke Kali Keramat di desa setempat, yang selanjut masuk ke Kali Gondang, sebelumnya akhirnya airnya ke Waduk Pacal.

“Air di Kali Keramat berwarna keruh bercampur lumpur, tapi di Kali Gondang masih jernih, sebab ada tambahan air dari Kali Senganten,” jelas Kasi Pencegahaan dan Kesiapsiagaan BPBD Bojonegoro Sukirno.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…