Ramainya Sunday Market, Manahan, Solo, Minggu (5/7/2015). (Burhan Aris Nugraha/JIBI/Solopos) Ramainya Sunday Market, Manahan, Solo, Minggu (5/7/2015). (Burhan Aris Nugraha/JIBI/Solopos)
Minggu, 10 April 2016 14:40 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

SUNDAY MARKET MANAHAN
Paguyuban Bakal Usir PKL Sunday Market Bandel

Sunday Market Manahan, paguyuban mulai menyosialisasikan sanksi usir bagi PKL membandel.

Solopos.com, SOLO–Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL)  Sunday Market Manahan menyiapkan sanksi tegas bagi para PKL yang nekat membuka dhasaran selain di bagian trotoar.

Ketua Paguyuban PKL Sunday Market Manahan, Joni Jondari, mengatakan Paguyuban PKL Sunday Market Manahan mulai menyosialiasikan sanksi kepada ribuan PKL di arena Stadion Manahan, Laweyan, Solo, Minggu (10/4/2016). Menurut dia, Paguyuban PKL Sunday Market Manahan tidak segan akan mencopot keanggotaan para PKL apabila nekat membuka lapak di jalanan atau ruang publik lain yang digunakan untuk sarana olahraga.

“Kami mulai tegas menata PKL Sunday Market. Kami menyiapkan sanksi penarikan Kartu Tanda Anggota [KTA] bagi PKL yang ngeyel peraturan. Kami melarang keras PKL berjualan di jalan karena berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat yang ingin berolahraga,” kata Joni saat ditemui Solopos.com di Stadion Manahan, Minggu.

Sebelumnya, sejumlah warga Solo berharap kompleks Stadion Manahan dikembalikan ke fungsi utamanya yakni untuk tempat olahraga. Ketua Komisi IV DPRD Solo, Hartanti, mengatakan pengelola Manahan semestinya menyisakan ruang khusus untuk olahraga saat pelaksanaan Sunday Market.

Joni mengatakan penarikan KTA tidak langsung dilakukan apabila PKL Sunday Market melanggar peraturan. Dia mengatakan pengurus paguyuban akan terlebih dahulu memperingatkan PKL untuk berjualan di tempat yang sudah disediakan. Tidak menutup kemungkinanan, lanjut Joni, pengurus paguyuban akan langsung memindahkan lapak milik PKL ke tempat yang tidak mengganggu kegiatan olahraga.

“Paguyuban membuka diri dengan saran dan kritik dari masyarakat. Kami mulai menata keberadaan PKL agar bisa menyediakan ruang berolahraga yang kebih luas. Pelari atau pejalan kaki kini bisa bermanuver dengan mudah di jalanan kompleks Stadion Manahan saat kegiatan Sunday Market,” terang Joni.

Joni menambahkan Paguyuban PKL Sunday Market mengerahkan enam personel satuan tugas (Satgas) khusus untuk memantau ketertiban PKL saat pelaksanaan Sunday Market. Menurut dia, personel Satgas yang akan melaporkan kepada pengurus paguyuban dan menindak langsung PKL yang melanggar peraturan. Selain harus berjualan di trotoar, Jono mengimbau, para PKL untuk ikut menjaga kebersihan.

“Kami juga akan memberikan sanksi tegas kepada PKL yang membuang sampah sembarangan. PKL yang tidak lagi mengantongi KTA, otomatis tidak punya hak lebih banyak untuk berjualan di Sunday Market. Mereka tidak punya tempat lagi. Kami akan terus mengawal pergerakan PKL sejak waktu Subuh saat mereka membuka lapak,” jelas Joni.

Disinggung soal penerapan sanksi bagi PKL musiman atau temporer yang tidak memiliki KTA, Joni menyebut, akan dilarang berjualan apabila diketahui berulangkali melanggar peraturan dengan membuka lapak sembarangan. Dia ingin PKL musiman ikut menyesuaikan diri dengan tidak menempati lokasi yang digunakan untuk berolahraga.

Seorang PKL Sunday Market yang berjualan makanan, Surani, sepakat dengan keputusan Paguyuban PKL Sunday Market yang menyiapkan sanksi bagi PKL yang tidak mematuhi aturan dengan berjualan di luar trotoar. Menurut dia, kawasan Stadion Manahan yang tertata rapi juga bakal mengundang minat masyarakat untuk datang. Surani siap mematuhi peraturan.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…