Seorang warga membersihkan kandang kambing milik Naib, warga Dusun Ngambaklipuro, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sabtu (26/3/2016). Belasan ekor kambing milik warga setempat mati mendadak sejak dua pekan lalu. (Bony EW/JIBI/Solopos) Seorang warga membersihkan kandang kambing milik Naib, warga Dusun Ngambaklipuro, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sabtu (26/3/2016). Belasan ekor kambing milik warga setempat mati mendadak sejak dua pekan lalu. (Bony EW/JIBI/Solopos)
Minggu, 10 April 2016 21:10 WIB Bony EW/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

PETERNAKAN SUKOHARJO
Penyebab Kematian Belasan Kambing Akhirnya Diketahui

Peternakan Sukoharjo beberapa waktu lalu didera kematian belasan kambing secara misterius.

Solopos.com, SUKOHARJO — Masyarakat Dusun Ngambaklipuro, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolabanm Kabupaten Sukoharjo merasa tenang setelah penyebab kematian kambing di wilayahnya terdeteksi. Warga utamanya peternak di desa itu lebih waspada dan tak membawa hewan piaraan ke ladang di pagi hari.

Kepala Desa Bekonang, Joko Tanyono, Selasa (5/4/2016), menjelaskan, penyebab kematian kambing milik warga Bekonang disebabkan kembung.

Menurutnya, kesimpulan itu diperolehnya dari keterangan dokter hewan yang turun ke desanya. “Dari penjelasan dokter hewan itu warga kami tenang dan tidak waswas.”

Joko menegaskan, semenjak muncul kematian belasan kambing secara berurutan warga merasa waswas. Kecemasan warga muncul karena takut kematian hewan piaraannya itu akibat antraks.

“Sehari sejak kematian masyarakat bekerja bakti secara massal membersihkan kandang dan lingkungan. Kerja bakti dimaksudkan agar penyakit antraks tidak menyebar di kampung. Namun, setelah mendapatkan keterangan dari dokter hewan warga menjadi tenang,” ujarnya.

Penjelasan Dokter

Lebih lanjut dijelaskannya, keterangan dokter hewan salah satu penyebab hewan kembung karena memakan rumput yang masih penuh air.

“Peternak hewan kambing, sapi dan sebagainya dianjurkan tidak melepas hewan piaraan di pagi hari. Rumput atau pakan ternak di pagi hari masih bercampur dengan air sehingga menyebabkan hewan kembung setelah memakannya. Jadi sarannya, melepas kambing dan hewan piaraan dilakukan setelah sinar matahari muncul.”

Joko mengatakan, sedikitnya terdapat 18 kambing milik tiga warganya mati mendadak secara berurutan. Belasan kambing mati mendadak terjadi di Dusun Ngambaklipuro, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban sejak akhir Maret. Kepala Bidang Ternak Dipertan Sukoharjo, Yuli Dwi Irianto belum dapat dikonfirmasi.

Diberitakan sebelumnya, belasan kambing yang mati mendadak milik tiga warga setempat yakni Pramono, Naib dan Sriyono. Jumlah kambing yang mati mendadak milik Pramono sebanyak enam ekor, Naib delapan ekor sementara Sriyono tiga ekor. Kandang kambing milik ketiga warga itu hanya berjarak puluhan meter.

Seorang pemilik kambing, Pramono, mengatakan kambing miliknya ditemukan mati di dalam kandang yang berada tepat di depan rumahnya. Kematian kambing tak terjadi secara bersamaan melainkan ada jeda beberapa hari.

“Kadang sehari mati satu ekor, kadang dua-tiga hari mati lagi satu ekor. Kambing milik saya yang mati enam ekor,” kata Pramono.

Pramono membeberkan selain kambing, unggas miliknya juga pernah mati mendadak pada dua bulan lalu. Kala itu, 50 ekor bebek miliknya mati mendadak di sekitar kandang. Kandang unggas tak berada jauh dengan kandang kambing. Dia langsung mengubur bangkai puluhan ekor bebek yang mati mendadak tersebut.

Hal senada diungkapkan pemilik kambing lainnya, Naib. Kambing miliknya yang mati berjumlah delapan ekor. Semula, Naib mempunyai 25 ekor kambing yang dipelihara di belakang rumahnya. Sejak dua pekan lalu, kambing miliknya mati satu persatu. Dia tak mengetahui penyebab pasti kematian delapan ekor kambing itu

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…