Sarinten, warga Dusun II, Desa Bojong, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo menunjukkan tanaman kelapa bojong bulat yang ada di pekarangan rumahnya, Jumat (18/9/2015). (JIBI/Harian Jogja/Rima Sekarani I.N.) Sarinten, warga Dusun II, Desa Bojong, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo menunjukkan tanaman kelapa bojong bulat yang ada di pekarangan rumahnya, Jumat (18/9/2015). (JIBI/Harian Jogja/Rima Sekarani I.N.)
Minggu, 10 April 2016 23:20 WIB Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

PERTANIAN KULONPROGO
Petani Masih Enggan Mengolah Kelapa

Pertanian Kulonprogo kaya akan produk kelapa

Solopos.com, KULONPROGO-Petani kelapa di wilayah Desa Bojong, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo lebih memilih menjual kelapa dalam bentuk butiran. Mereka enggan mengolahnya terlebih dahulu karena menilai justru akan mendapatkan keuntungan yang lebih sedikit.

Kepala Desa Bojong, Dwi Andana mengatakan, usaha pengolahan kepala dianggap cukup menjanjikan saat harga per butirnya rendah. Masyarakat tidak tertarik mengolahnya menjadi aneka makanan atau minyak kelapa.

“Dulu dibuat botok dan sebagainya karena nilai jual kelapa murah. Sekarang sudah lumayan, per butir bisa Rp4.000,” ungkap Dwi, Sabtu (9/4/2016).

Kelapa bojong bulat asal Kulonprogo telah dikenal sebagai varietas unggul. Daging buah kelapa yang dihasilkan lebih tebal dan telah memiliki pasar yang cukup luas. Dwi mengungkapkan, harga yang layak membuat masyarakat cenderung ingin ambil langkah praktis.

Jika menjalankan usaha pengolahan kelapa, mereka perlu modal besar untuk membeli sejumlah peralatan pendukung. Padahal ketika dihitung secara manual, rupiah yang didapat bisa jadi tidak lebih banyak.

“Misalnya satu liter minyak itu terbuat dari delapan butir kelapa dan harganya Rp15.000. Kalau dijual mentah, malah kelihatan lebih untung,” ujar Dwi.

Meski demikian, hal itu bukan berarti hanya butiran kelapa saja yang dimanfaatkan. Sebagian masyarakat Bojong juga menggunakan bagian lain dari tanaman tersebut untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Salah satunya dengan membuat sapu dari lidi maupun serabut kelapa. Mereka juga mengembangkan usaha pembibitan tanaman kelapa bojong bulat untuk dibudidayakan di wilayah lain.

Salah satu warga Dusun II Bojong, Sarinten juga mengaku lebih suka menjual kelapa dalam bentuk butiran. Selain itu, dia mengisi waktu dengan membuat sapu lidi dari tanaman kelapa yang banyak tumbuh di pekarangan rumahnya. “Lumayan daripada hanya menganggur,” kata Sarinten.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…