Ilustrasi pengungkapan kasus penyalahgunaan narkoba. (JIBI/Harian Jogja/Dok.) Ilustrasi pengungkapan kasus penyalahgunaan narkoba. (JIBI/Harian Jogja/Dok.)
Minggu, 10 April 2016 12:15 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Boyolali Share :

NARKOBA BOYOLALI
Kapolres Boyolali Minta Sekolah Bentuk Organisasi Antinarkoba

Narkoba Boyolali, Polres Boyolali meminta sekolah mengantisipasi peredaran narkoba di sekolah.

Solopos.com, BOYOLALI–Polres Boyolali meminta sekolah-sekolah mulai meningkatkan kewaspadaan dini terhadap ancaman bahaya narkoba. Hal ini disampaikan Kapolres Boyolali, AKBP Budi Sartono, di sela-sela pembukaan Penyuluhan Narkoba kepada Guru dan Pelajar yang diselenggarakan Yayasan Bhayangkari Cabang Boyolali, di Panti Marhaen Boyolali, Sabtu (9/4/2016).

Kapolres juga meminta setiap sekolah terutama SMA bisa mendirikan organisasi antinarkoba beranggotakan minimal sepuluh siswa. Sekolah juga harus rutin mengontrol siswa untuk menekan penggunaan narkoba di kalangan pelajar. “Selain itu, setiap siswa baru diharapkan membuat pernyataan agar sanggup menerima hukuman dikeluarkan dari sekolah bila kedapatan terlibat narkoba,” kata Kapolres, Sabtu.

Menurut Kapolres, narkoba tidak hanya menyasar kalangan remaja melainkan anak sekolah bahkan usia sekolah dasar. Berdasarkan data di Badan Nasional Narkotika (BNN), prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia cukup tinggi, 1,6 juta orang mencoba menjadi pemakai, 1,4 juta orang rutin memakai, dan 943 ribu orang adalah pecandu. Dari tingginya angka penyalahgunaan narkoba itu, 27,32% adalah kalangan pelajar.

“Dan sekarang, peredaran narkotika sudah menyasar pada tingkat sekolah dasar. Hal ini harus diantisipasi sejak dini.”

Beberapa fakta terkait peredaran narkoba di kalangan pelajar, misalnya, pada 2010 sebanyak 95 siswa SD di Kota Bekasi terlibat pengunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Sebanyak enam dari 8.100 anak usia sekolah dasar di Jakarta terbukti menggunakan narkoba. “Begitu pula di Jateng,  sudah ada anak usia SD yang kedapatan menggunakan narkoba.”

Sementara itu, Penyuluhan Narkoba kepada Pelajar dan Guru mengangkat tema Mewujudkan Generasi Muda Indonesia yang Terpelajar, Berprestasi, dan Berkarakter tanpa Narkoba. Hadir sebagai pembicara adalah Kasatnarkoba Polres Boyolali, AKP Erwin Darminta, dan Psikolog dari RS Orthopedi Solo, Dr.Dian Kristyawati, M.Si.,P.Si.

Erwin Darminta memperkenalkan tanda-tanda dini pengguna narkotika serta pintu masuk peredaran narkotika di kalangan remaja dan pelajar. Tempat yang dianggap rawan sebagai pintu masuk penyalahgunaan narkotika antara lain pusat hiburan, kampus, kantin sekolah, dan tempat indekos.

“Selain tempat, ada juga teman sebaya. Awalnya coba-coba karena ajakan teman demi persahabatan. Setelah mulai merasa ketagihan, pengguna akan mengulanginya dengan cara sembunyi-sembunyi. Lama kelamaan, dia akan mengupayakan apa saja bahkan dengan mencuri hanya untuk mendapatkan barang haram itu,” papar Erwin.

Orang tua juga harus memahami tanda dini anak-anak mulai kecanduan narkotika antara lain, menurunnya prestasi, suka bolos tanpa sebab, perubahan perilaku, suka menyendiri, pandai berbohong, kamar selalu tertutup, cara berpakaian tidak rapi, ada bau aneh dalam kamar, wajah pucat, dan teman tidak dikenal.

LOWONGAN PEKERJAAN
DIBUTUHKAN TENAGA JAHIT, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…