Ayu Prawitasari (Istimewa) Ayu Prawitasari (Istimewa)
Minggu, 10 April 2016 09:00 WIB Kolom Share :

KOLOM
Penanda, Petanda, dan Survival Warga

Kolom kali ini, Sabtu (9/4/2016), ditulis jurnalis Solopos Ayu Prawitasari.

Solopos.com, SOLO — Gerakan masyarakat sipil yang tergabung dalam Team White Pylox (TWP) mengecat (melingkari) lubang-lubang jalan di Solo dan sekitarnya menjadi headline Solopos edisi Jumat (8/4). Gerakan ini tergolong unik karena pengorganisasian, cara kerja, tujuan, maupun cara pandang mereka layak disebut baru.

Selama ini gerakan sebuah komunitas yang diberitakan dalam media massa mainstream kebanyakan adalah gerakan sosial, tanggapan atas sebuah peristiwa (baik lokal, regional, maupun nasional), hobi, dan sejenisnya.

Publikasi gerakan kritik atas kinerja pemerintah dan kondisi kota biasanya setelah kritik itu disalurkan dalam aksi damai dan demonstrasi yang melibatkan banyak orang dalam satu waktu. Para anggota Team White Pylox adalah anggota grup Facebook Info Cegatan Solo dan Sekitarnya (ICS).

Berawal dari pertemuan anggota grup yang rasan-rasan mengenai jalan berlubang di Solo, mereka akhirnya menggagas lahirnya TWP. Tujuan mereka sederhana, mengingatkan pengguna jalan agar lebih berhati-hati saat melintas di jalan berlubang yang ditandai cat putih.

Para anggota TWP tak ingin kecelakaan yang mengakibatkan warga luka-luka atau meninggal dunia terjadi. Dari sudut pandang ilmu komunikasi, coretan cat putih di jalan ini sejatinya mengungkap berbagai macam problem kota yang dan masyarakat yang letih.

Coretan itu tak sekadar goresan tanpa makna. Ferdinand de Saussure menjelaskan media komunikasi ada banyak ragamnya. Gambar, pakaian, sepatu, bangunan termasuk media komunikasi. Dari sisi penanda (signifiant-signifier) coretan ini mengandung petanda (signifie-signified) tentang kritik, protes, ketidakpuasan warga kota terhadap infrastruktur kota, termasuk respons pemerintah (pemerintah kota, pemerintah provinsi, pemerintah pusat) yang lamban dalam memelihara aset publik.

Petanda merupakan konsep yang menjadi konsensus di masyarakat. TWP yang merupakan bagian dari masyarakat sepakat jalan berlubang berisiko terhadap keselamatan manusia sehingga mereka memberi tanda khusus di jalan yang rusak agar pengguna jalan lebih hati-hati.

Seperti halnya warga yang lain, mereka tidak puas, terganggu, dan dirugikan oleh jalan berlubang hingga muncul gerakan kritik terhadap pemerintah dalam bentuk cat putih. Penanda dan petanda merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan seperti halnya sisi mata uang.

”Bahasa” coretan cat apabila dikaji dari sudut pandang Roland Barthes mengungkap pemaknaan di lapisan kedua yang jauh lebih kompleks tentang esensi gerakan ini. Dalam teorinya tentang semiotika, Barthes membagi pemaknaan menjadi dua, yakni denotasi dan konotasi.

Denotasi merupakan hubungan antara penanda dan petanda yang sifatnya eksplisit (kritik, tidak puas, jengkel, marah). Di tataran pemaknaan konotasi, coretan ini sesungguhnya menggambarkan tentang dimensi yang lebih luas, seperti buruknya infrastruktur perkotaan, aglomerasi yang memunculkan disparitas terhadap wilayah tertentu, pembangunan minim visi, hingga ketimpangan modal masyarakat modern.

Kota Solo merupakan kota industri dan jasa yang ditopang daerah satelit atau kawasan hinterland (Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, dan lainnya). Lengkapnya fasilitas hidup di kota plus beragamnya lapangan kerja membuat warga sekitar berbondong-bondong mencari nafkah hingga hidup di kota ini.

Di lahan seluas 44 kilometer persegi itu 500.000 orang lebih tinggal. Jumlah tersebut, menurut Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menjadi dua kali lipat saat siang hari lantaran warga sekitar memenuhi Solo untuk mencari penghidupan.

Mengacu data Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) 2015, terdapat 292.270 kendaraan di Solo dengan perincian 234.342 unit roda dua dan 40.545 unit mobil pribadi.

Jumlah itu, berdasarkan pantauan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Solo, bertambah menjadi empat kali lipat saat pagi hari atau sekitar dua juta unit kendaraan. Pertumbuhan kepemilikan kendaraan sebesar 7,5% per tahun.

Kondisi kota yang penuh sesak dengan manusia dan kendaraan tidak diimbangi penambahan luas kota. Ruas jalan juga tidak bertambah sehingga problem macet dan jalan rusak menjadi konsekuensi yang tak bisa dihindari. [Baca selanjutnya: Birokrat Harus Berbenah]

lowongan pekerjaan
Editor,Setter,Ilustrator, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JL CPT Taft GT4x4’94,Body Kaleng,Ori,Asli KLATEN:081391294151 (A00593092017) DP Mura…
  • LOWONGAN CARI PTIMER 2-4 Jam/Hari Sbg Konsltn&SPV Bid.Kshtn All Bckgrnd Smua Jursn.Hub:0811.26…
  • RUMAH DIJUAL Jual TNH&BGN HM 200m2,LD:8m,Strategis,Makamhaji,H:08179455608 (A00280092017) RMH LT13…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Bangjo untuk Citra Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (19/9/2017). Esai ini karya Sugeng Riyanto, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah ust.sugeng@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Dalam rapat kerja Komisi III DPRD Kota Solo bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota…