Qibtiyatul Maisaroh (Dok/JIBI/Solopos) Qibtiyatul Maisaroh (Dok/JIBI/Solopos)
Minggu, 10 April 2016 08:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Sungai dan Kota

Gagasan Solopos, Kamis (7/4/2016), ditulis Santri di Bilik Literasi Solo Qibtiyatul Maisaroh.

Solopos.com, SOLO — Di kota sungai menjadi tempat menyenangkan sekaligus menyedihkan. Menyenangkan karena di tengah hiruk pikuk pembangunan, masih ada sungai-sungai yang bertahan mewakili imajinasi kesejarahan.

Menyedihkan karena keberadaan sungai terbatas sebagai area di bawah jembatan penyeberangan dan tempat pembuangan sampah. Tak mengherankan beberapa hari lalu Harian Solopos dan Koran Tempo memberitakan Pemerintah Kota Solo mulai menerapkan sanksi berat bagi pembuang sampah di sungai.

Sanksinya berupa hukuman kurungan selama tiga bulan atau denda maksimal Rp50 juta.  Kita bisa memaklumi dalam denda ada harapan kejeraan dan kesadaran. Kita juga boleh ragu, apakah aturan tersebut bertujuan menghidupkan kembali fungsi sungai atau sekadar menjaga sungai agar tak mencederai keindahan kota.

Di pinggir kota ada sungai yang bernasib yang lebih nahas daripada sekadar jadi tempat pembuangan sampah. Dulu kehidupan masyarakat Solo bergantung pada sungai. Sungai menjadi sarana transportasi air yang paling digemari.

Di sungai perjalanan perekonomian, kebudayaan, politik, bahkan asmara bergerak, dirumuskan, dan diperbincangan. Sungai merangkum obrolan para penjual sayur, kuli, guru, dan para petinggi negara. Dari sungai nasib ditentukan, terberkahi, atau malah ternodai.

Hal ini terekam dalam bait lagu Bengawan Solo garapan Gesang. Bengawan Solo riwayatmu ini / Sedari dulu jadi perhatian insani / Musim kemarau / Tak seberapa airmu / Di musim hujan air meluap sampai jauh / Mata airmu dari Solo / Terkurung gunung seribu / Air meluap sampai jauh / Dan akhirnya ke laut / Itu perahu / Riwayatmu dulu / Kaum pedagang selalu / Naik itu perahu.

Gesang mengisahkan solo dari sebuah sungai. Aliran air sungai mengisahkan kehidupan, kebahagiaan, ketakutan, dan kecemasan. Bagi Gesang sungai adalah kenangan. Sungai pernah menjadi jalan publik tanpa kemacetan. Alam telah mencipta aturannya sendiri.

Sungai juga menjadi imajinasi kemegahan. Terdapat dalam kisah Batavia dua abad yang lalu. Para pejabat kolonial Belanda gemar mandi di sungai. Pada masa itu telah ada sumur, tapi mereka lebih menyukai sungai atau mandi di sungai.

Tanu Trh dalam Wajib Mandi untuk Kompeni, sebuah kumpulan tulisan dalam Majalah Intisari berjudul Ketoprak Betawi  menuliskan:  Di Batavia. Tanggal 1 Juni 1861, seorang pengusaha bernama Victor Thornerieux membuka sebuah hotel di Molenvliet yang diberi nama Hotel de IUnivers, mungkin sebagai saingan Hotel des Indes di seberangnya. Menurut iklan yang dipasang Thornerieux di koran-koran zaman itu, hotelnya dilengkapi dengan kolam besar berisi air kali.

Kini sungai menjadi nostalgia. Sosiolog Solo Akhmad Ramdhon dalam buku hasil penelitian berjudul Merayakan Negara Mematrikan Tradisi: Narasi Perubahan Kampung-Kota di Surakarta (2016) mengisahkan perubahan Solo dari tiga kampung, Baluwarti, Laweyan dan Kauman. Keintiman masyarakat Solo dengan sungai tergambar jelas pada pembahasan tentang Kampung Laweyan.

Laweyan dinarasikan sebagai pusat perekonomian. Batik adalah barang khas produksi masyarakat Laweyan. Batik dibuat di rumah-rumah kemudian diperjualbelikan secara tradisional. Lambat laun aktivitas ekonomi di Lawean mulai terlembaga dalam pasar.

Keberadaan Kali Jenes dan kedekatan secara geografis dengan Bandar Kabanaran menjadi penentu berkembangnya Pasar Kabangan di Laweyan. Sungai sebagai penentu laju perekonomian Laweyan kemudian tergantikan sarana transortasi yang lebih modern.

Pada saat bersamaan, infrastruktur perdagangan perlahan-lahan disiapkan. Jalur transportasi darat yang dikelola Nederlansch Indisch Spoorweg (NIS), Jawatan Kereta Api Hindia Belanda, mulai menggantikan jalur perdagangan yang mengandalkan transportasi sungai. Kehidupan Laweyan pernah ditentukan oleh sungai.

Sungai mulai terasing. Segala hal telah beralih dari air ke daratan. Sungai mengalirkan kayu-kayu untuk pembangungan gedung-gedung tinggi yang semakin menyingkirkan sungai itu sendiri. Solo menjadi kota penuh gedung, perumahan, tempat perbelanjaan, juga hotel. [Baca selanjutnya: Ambisi Manusia]

LOWONGAN PEKERJAAN
GRIYA BAMBU KUNING, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…