Ilustrasi penggusuran PKL oleh Satpol PP. (JIBI/Solopos/Antara) Ilustrasi penggusuran PKL oleh Satpol PP. (JIBI/Solopos/Antara)
Sabtu, 9 April 2016 14:40 WIB Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos Solo Share :

PKL SOLO
Pedagang Harian Stadion Manahan Ditertibkan

Penertiban pedagang kaki lima (PKL) harian di Stadion Manahan akan dilakukan pertengahan April.

Solopos.com, SOLO — Pemkot Solo bakal menertibkan pedagang kaki lima (PKL) yang sehari-hari berjualan di dalam kompleks Stadion Manahan mulai pertengahan April. Penataan diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung serta kebersihan kawasan.

Informasi yang dihimpun solopos.com, Sabtu (9/4/2016), PKL kuliner hingga pedagang sepatu biasanya marak pada pagi dan sore hari atau seiring aktivitas olahraga warga. Jumlah PKL harian yang berjualan di Manahan mencapai 40 orang. Kepala UPTD Sarana Prasarana Olahraga Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Solo, Heru Prayitno, mengatakan PKL harian di Manahan perlu dibatasi agar tak menjadi pasar tumpah.

“Pedagang perlu ditata supaya tidak meluber seperti Sunday Market,” ujarnya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya.

Pihaknya mengatakan faktor kebersihan dan kenyaman pengunjung menjadi alasan penertiban PKL. UPTD mengarahkan bakul cukup berjualan di luar kompleks Manahan. Namun demikian Heru mengakui tak bisa serta merta melarang PKL berjualan di dalam kompleks olahraga. Hal itu karena pedagang dan komunitas olahraga saling membutuhkan.

“Pehobi olahraga kerepotan kalau lari-lari sambil membawa air minum. Biasanya saat istirihat mereka beli teh hangat, kacang hijau atau es jus,” tuturnya.

UPTD bakal bekerjasama dengan paguyuban PKL harian untuk penertiban pedagang. Menurut Heru, UPTD hanya mengizinkan pedagang yang telah memiliki kartu anggota untuk berjualan di Manahan. Hal itu sebagai upaya pengendalian PKL.

“Kalau tidak punya kartu ya cukup berjualan di luar kompleks. Kami juga akan tegas pada PKL yang mengotori kawasan Manahan,”ujar dia.

Ketua Komisi IV DPRD, Hartanti, mendukung setiap upaya penataan kawasan Stadion Manahan. Politikus PDI Perjuangan (PDIP) ini mewanti-wanti agar Manahan tak semakin dikuasai aktivitas perdagangan.

“Kalaupun ada cukup menjadi pelengkap. Jangan sampai tumbuh seperti Sunday Market yang pedagangnya terus bertambah,” kata dia.

Seorang warga Banjarsari, Adi Triyono, meminta pengelola Manahan membenahi titik-titik kumuh di Stadion Manahan. Menurut Edi, ada PKL yang meyimpan gerobak seenaknya di stadion sehingga mengganggu estetika kawasan.

“Di pintu sebelah barat banyak gerobak-gerobak yang ngendon tak tertata. Mestinya bisa ditertibkan agar tak menimbulkan kekumuhan.”

 

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…