Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menabur bungi di makam Siyono, warga Dukuh Brengkungan, Desa Pogung, Cawas, Rabu (30/3/2016). PP Muhammadiyah siap melakukan advokasi terhadap istri Siyono, Suratmi, beserta keluarganya. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Sabtu, 9 April 2016 16:15 WIB JIBI/Solopos/Newswire Peristiwa Share :

PENGGEREBEKAN DENSUS 88
Diperiksa Propam Polri, Anggota Densus yang Kawal Siyono Diduga Langgar SOP

Penggerebekan Densus 88 di Klaten mendapat sorotan publik menyusul kematian warga Klaten, Siyono.

Solopos.com, JAKARTA – Propam Polri bergerak melakukan pemeriksaan dalam kasus tewasnya Siyono, yang sebelumnya ditangkap terkait kasus terorisme. Propam Polri menemukan indikasi ada pelanggaran prosedur saat membawa Siyono.

“Pemeriksaan sudah selesai, rekonstruksi juga sudah selsai. Nanti akan kita periksa langsung ke profesi untuk dia mempertanggungjawabkan tindakan profesional dia yang kurang profesional. Karena kita temukan ada SOP yang tidak dilakukan oleh anggota Densus itu,” jelas Kadiv Propam Polri Irjen M. Iriawan, seperti dilansir detikcom, Sabtu (9/4/2016).

Iriawan kemudian membeberkan sejumlah hal yang dinilai tak sesuai prosedur dalam penanganan terduga teroris.

“Pertama kan dia ngawal tersangka, tahanan, akan dikembangkan ya. Kita sudah susuri jalannya, kemudian di mana dia dikembangkan, jadi dia tidak dikawal sesuai SOP yaitu minimal berdua (anggota). Di mobil harus dua (selain sopir), kalau tersangka (duduk) di tengah, kanan dan kirinya polisi. Untuk pengamanan supaya apa, supaya kalau dia (tersangka) melakukan apa-apa, kita bisa melumpuhkannya atau antisipasi,” urai dia.

Kemudian. lanjut Iriawan, yang kedua, tahanan tidak diborgol, seharusnya diborgol.

“Saya tanya ke dia [anggota yang kawal Siyo] kenapa, ‘karena sudah baik katanya’, nggak bisa begitu, SOPnya bagaimana? ‘diborgol’, ya kamu nggak bener. Dia harus tanggung jawab, karena itu akhirnya pas dia berontak itu, kalau berdua kan bisa antisipasi atau diborgol,” jelasnya.

“Jadi kita akan sidangkanlah mereka supaya profesional. Tidak semua, kebetulan hanya dua orang saja ya, waktu penanganan,” imbuhnya.

Iriawan menyampaikan, pemeriksaan itu dilakukan kepada dua orang tersebut karena di dalam mobil itu hanya dua orang itu.

“Satu duduk di depan [yang mengemudikan mobil] satu di belakang. Ya pertanggungjawabannya beda, yang di depan beda dengan yang di belakang. Tapi nanti juga Kasatgaswilnya nanti akan kita periksa juga, kan masing-masing profesi Dansatgaswil, Satgas wilayah itu kan di DKI ada, di Yogya, Banten, Jawa Barat ada, kita periksa dia,” tuturnya.

lowongan pekerjaan
KLINIK BERSALIN UTAMA RB. DR. JOHAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…