Sejumlah pemandu saat mengatur wisatawan yang akan menyusuri Gua Pindul, Sabtu (2/1/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah pemandu saat mengatur wisatawan yang akan menyusuri Gua Pindul, Sabtu (2/1/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 9 April 2016 07:40 WIB Mayang Lestari/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

PENGELOLAAN GUA PINDUL
Selisih Paham di Kalangan Pokdarwis Berlanjut

Sejumlah pengelola pindul yang tak lain adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gua Pindul mendatangi Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunungkidul untuk mendesak pemerintah agar segera menegakkan Perda No 5/2013 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan.

 

 

Solopos.com, KARANGMOJO-Sejak satu minggu yang lalu, konflik pengelolaan Gua Pindul kembali memanas. Senin lalu (4/4/2016), sejumlah pengelola pindul yang tak lain adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Goa Pindul mendatangi Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunungkidul untuk mendesak pemerintah agar segera menegakkan Perda No 5/2013 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan.

Saat itu, sekitar 50 perwakilan warga yang datang tersebut mempermasalahkan salah satu pengelola, yakni Gelaran Indah yang memasukkan wisatawan tanpa melalui pokdarwis yang telah memiliki izin, yakni Dewa Bejo.

Tak hanya berhenti disitu saja konflik kembali berlanjut pada Rabu (6/4/2016), sejumlah perwakilan pokdarwis kala itu jumlahnya lebih sedikit kembali mendatangi Disbudpar. Masih dalam persoalan yang sama, perwakilan tersebut meminta pemkab untuk segera turun tangan menegakkan perda. Sebab, apabila terlalu lama dibiarkan akan memunculkan permasalahan yang semakin tidak berujung.

Akhirnya, dalam audiensi tersebut menghasilkan keputusan untuk menertibkan pokdarwis yang ilegal pada Senin (11/4/2016) mendatang. Selain itu, seluruh perwailan pokdarwis sepakat untuk menghapus kerjasama dengan para joki yang membawa wisatawan kepada masing-masing sekretariat kelompok.

Hari ini Jumat (8/4/2016), tak terima dengan kesepakatan tersebut puluhan joki mendatangi Sekretariat Dewa Bejo untuk protes terkait rencana penertiban terhadap para joki. Mereka resah karena tidak akan menjalin kerjasama kembali dengan sejumlah pokdarwis dalam mencari wisatawan, dengan begitu mereka akan kehilangan sumber penghasilan selama ini.

Puluhan gabungan joki tersebut menggeruduk dengan menggunakan kendaraan sepeda motor yang otomatis menghambat akses wisatawan pengunjung pindul yang akan melintas. Salah seorang joki sempat beradu mulut dengan perwakilan Pokdarwis Dewa Bejo, dan alhasil kedua belah pihak tersebut sempat bersitegang.

Hal tersebut membuat Kasat Intelkam Polres Gunungkidul AKP Edi Purnomo mengambil sikap dengan langsung membubarkan rombongan joki tersebut.

“Bubar, jangan di tengah jalan. memangnya ini jalan punya siapa, mengganggu wisatawan saja,” teriaknya saat membubarkan para joki.

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…