Sejumlah truk keluar masuk kawasan Kali Apu, Selo, Boyolali, Sabtu (9/4/2016). Sementara, satu alat berat terpantau masih beroperasi mengeruk pasir dan batu di kawasan tersebut. (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)
Sabtu, 9 April 2016 13:40 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Boyolali Share :

PENAMBANGAN LIAR BOYOLALI
Alat Berat Masih Nekat Beroperasi di Kali Apu

Penambangan liar di Boyolali terutama di Kali Apu masih tetap beroperasi.

Solopos.com, BOYOLALI — Aktivitas penambangan pasir dan batu dengan menggunakan alat berat masih terpantau di kawasan Kali Apu, Kecamatan Selo, Boyolali.

Penambang masih saja nekat mengoperasikan alat berat padahal saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng sedang mempersiapkan kawasan penambangan rakyat di Kali Apu dan sekitarnya. Belum lama ini tim gabungan dari Balai Energi dan Sumber Daya Mineral (BESDM), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Jateng juga telah melakukan penertiban besar-besaran dengan menyita belasan CPU alat berat yang beroperasi di Kali Apu. Penertiban dilakukan karena penambangan di Kali Apu adalah ilegal.

Dari pantauan solopos.com, Sabtu (9/4/2016), sedikitnya ada satu alat berat berwarna hijau mengeruk pasir di Kali Apu. Alat berat itu beroperasi di balik tebing yang ada di tengah Kali Apu. Puluhan truk dan pikap terbuka juga terpantau keluar masuk Kali Apu dengan muatan melebihi batas tonase. Truk-truk itu tak lagi melintasi jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB) melainkan jalur Gebyog, Selo-Ampel.

“Truk pasir sekarang banyak lewat Gebyog-Ampel. Jalan Gebyok mulai rusak. Intensitas truk yang melintas cukup banyak, sehari masih ada seratusan, kemungkinan tambang di sekitar Kali Apu buka lagi,” kata warga Cepogo, Haryanto, saat berbincang dengan solopos.com, Sabtu.

Dia berharap tindakan tegas Pemprov Jateng bisa berlanjut agar lereng Merapi bersih dari penambangan liar.
Kades Klakah, Haryono, membenarkan masih ada beberapa alat berat yang menambang di Kali Apu.

“Masih ada. Jumlahnya berapa saya kurang tahu, yang jelas masih ada. Silakan diambil gambarnya saja,” kata Haryono. Dia juga mengaku tidak tahu pemilik alat berat itu.

Sementara, Kades Jrakah, Slamet, mengklaim saat ini sudah tidak ada alat berat berat yang beroperasi menambang pasir dan batu di wilayah Jrakah.

“Sejak ada teguran keras dari Balai Energi dan Sumber Daya Mineral [BESDM], kami berupaya mencari solusi supaya bekerja aman. Saat itu kami membuat surat peringatan kepada pengelola di Jrakah supaya semua alat berat keluar dari Jrakah,” kata Slamet, Sabtu.
Selama ini, penambangan liar dengan alat berat banyak beroperasi di wilayah Kali Ladon dan Kali Juweh.

“Saya pastikan saat ini berhenti untuk sementara. Kalau penambangan manual memang masih ada, baik yang di Ladon maupun Juweh.”

 

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…