Petugas menunjukkan stok darah di UTD PMI Kabupaten Madiun, Sabtu (23/1/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Fikri Yusuf) Petugas menunjukkan stok darah di UTD PMI Kabupaten Madiun, Sabtu (23/1/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Fikri Yusuf)
Sabtu, 9 April 2016 18:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

DEMAM BERDARAH SLEMAN
Kasus Terus Melonjak, Fogging Tak Selesaikan Masalah, Lalu?

Demam berdarah jumlah kasus terus ditekan.

Solopos.com, SLEMAN – Kasus demam berdarah (DB) di Sleman terus melonjak mencapai ratusan selama tiga bulan terakhir. Empat orang dinyatakan positif meninggal karena DB, satu lagi masih dalam observasi yang diduga karena gigitan nyamuk mematikan itu. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mengakui meski telah dilakukan pengasapan (fogging) tetapi tak menyelesaikan masalah DB jika tak didukung pencegahan jentik.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman Novita Krisnaeni menjelaskan, hingga awal April, DB pada 2016 mencapai 285 kasus yang tersebar di semua kecamatan di Sleman. Dari banyaknya kasus tersebut, empat orang diantaranya meninggal positif disebabkan karena DB. Masih ada satu lagi, kata dia, seorang anak di Wedomartani, Ngemplak, Sleman yang meninggal juga dugaannya karena DB.

“Tetapi yang satu ini belum dimasukkan dalam pelaporan kasus melalui format KDRS [kewaspadaan dini rumah sakit], jadi belum bisa saya pastikan secara resminya,” terangnya di Dinkes Sleman, Jumat (8/4/2016).

Kasus DB mulai merangkak naik seringkali terjadi pada musim hujan antara Desember hingga April. Perbandingan pada 2015 relatif sama kasusnya dengan 2016 bahkan cenderung menurun. Jika pada bulan Januari, Februari dan Maret 2015 mencapai 289 kasus, namun di bulan yang di tahun 2016 ini terdapat 285 kasus DB.

Novia menambahkan, hampir semua bulan ditemukan kasus DB namun lebih banyak saat musim hujan. Kasus DB akan mulai terjadi penurunan pada Mei hingga Nopember dan naik kembali di bulan Desember.
“Tetapi setiap bulan selalu ada kasusnya maka kami selalu waspada,” ucapnya.

Sejumlah wilayah yang terdapat korban meninggal langsung diberikan pengasapan. Serta wilayah yang ditemukan kasus lebih dari satu dan terus berkembang juga turut difogging. Akantetapi, ia menegaskan bahwa pengasapan tidak bisa menyelesaikan masalah DB. Karena fogging hanya bisa membunuh nyamuk yang terbang atau nyamuk sudah besar. Paling utama, kata dia, pada pemantauan jentik. Jika dilakukan pengasapan namun jentik masih banyak ditemukan maka nyamuk bisa bebas berkembangbiak lagi.
“Karena memang setelah difogging masih ada yang ditemukan kasusnya. Jadi fogging tidak menyelesaikan masalah kalau jentik-jentiknya dibiarkan,” tegasnya.

Kasus pengasapan tak memberikan efek signifikan, salahsatunya terjadi di Dusun Koroulon, Bimomartani, Ngemplak, Sleman. Sehingga warga di kampung ini pun banyak terserang DB, antara lain, Susilah, 63, Lina, 22, Kalea, 3, Partiyem, 63, dan sejumlah nama lainnya.

Menurut Wati, 26, warga RT03/RW22, pada Maret 2016 kampungnya diberikan pengasapan sebanyak dua kali. Karena lebih dari lima warga yang terserang DB. Meski pada awal Maret difogging namun setelah itu masih ada warga yang terserang. Pada akhirnya Maret, kemudikan difogging kembali, namun belum menunjukkan hasil yang signifikan karena masih ada lagi yang terkena DB.

“Masih ada yang rawat jalan. Sudah difogging dua kali namun tak terlalu berefek,” ucapnya.

lowongan pekerjaan
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (29/11/2017). Esai ini karya Muhammad Sholahuddin, dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan kandidat doktor bidang ekonomi di International Islamic University Malaysia. Alamat e-mail penulis adalah muhammad.sholahuddin@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu terakhir ini beredar…