Gapura Wonogiri Gapura Wonogiri (Dok/JIBI/Solopos)
Sabtu, 9 April 2016 20:10 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

ASAL USUL
Ini Alasan Wonogiri Disebut Kota Gaplek

Asal usul Wonogiri disebut Kota Gaplek tak lepas dari konsumsi warga di wilayah itu.

Solopos.com, WONOGIRI — Produksi singkong atau ubi kayu di Wonogiri bisa mencapai lebih dari 1 juta ton dalam setahun. Tingginya produksi tersebut membuat Wonogiri mendapat julukan Kota Gaplek.

Kasi Produksi Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH), Sidiq Purwanto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, akhir pekan lalu, menyampaikan julukan Kota Gaplek didapat karena sejak zaman dahulu makanan pokok orang Wonogiri adalah thiwul, bahan pangan dari gaplek atau singkong yang dikeringkan.

Selain itu singkong juga bisa dibikin gatot. Pada masa sekarang singkong dibuat tape, gethuk, tepung, atau jadi penganan ringan seperti singkong keju. Kebiasaan itu membuat orang Wonogiri selalu menanam singkong setiap tahun hingga kini.

Alhasil, produksi singkong menjadi tinggi karena didukung luas panen yang tinggi pula, yakni berkisar 52.000 hektare (ha)-57.000 ha/tahun. Dia mencatat produksi singkong pada 2013 lalu menembus angka 1.032.424 ton. Pada tahun berikutnya produksi mencapai 1.012.256 ton.

Selama dua tahun tersebut produksi bisa maksimal karena ketersediaan air mencukupi selama masa tanam singkong delapan hingga sembilan bulan. Kala itu musim hujan bertahan cukup lama. Sedangkan pada 2015 produksi tercatat 878.580 ton.

Menurut Sidiq produksi pada tahun lalu menurun karena kekurangan air, mengingat hujan tidak berlangsug lama. Selain itu motivasi petani menanam singkong juga kurang karena harnga rendah, yakni hanya Rp1.000/kg. Harga tinggi yang pernah terjadi yakni Rp1.500/kg.

“Setiap tahun warga seluruh kecamatan [25 kecamatan] menanam singkong. Kebanyakan ditanam menggunakan sistem tumpang sari dengan padi, kedelai, dan jagung. Singkon ditanam pada MT [musim tanam] I saat ada hujan pada Oktober atau November. Setelah MT I habis, padi berhenti ditanam diganti jagung atau kedelai, singkong tetap bertahan. Saat berusia delapan hingga sembilan bulan panen raya singkong tiba,” kata Sidiq.

Monokultur

Bahkan, lanjut dia, ada wilayah yang monokultur, yakni menanam singkong sepenuhnya. Kebiasaan itu dilakukan petani di Kecamatan Ngadirojo yang memiliki luas panen 5.000-an ha/tahun. Sehingga produksi singkong di Ngadirojo tercatat menjadi yang terbanyak pada beberapa tahun lalu.

Data yang diperoleh Solopos.com, produksi singkong di Ngadirojo pada 2011 mencapai 82.206 ton, sedangkan kecamatan lain kala itu berkisar antara 8.000 ton-60.000 ton. Pada 2012 dan 2013 produksinya mencapai lebih dari 100.000 ton. Potensi produksi pada pola monokultur bisa mencapai 30 ton-40 ton/ha.

“Ada lebih dari 20 nama jenis singkong yang ditanam. Ada singkong gajah, dorowati, mentega, dan sebagainya. Produksi dari Wonogiri ada yang disalurkan ke industri pembuatan tepung mocaf di Pati dan ke industri tepung tapioka di Ngadirojo,” imbuh Sidiq.

Camat Pracimantoro, Warsito, mengatakan petani Pracimantoro kalau tak menanam singkong seperti ada yang kurang. Sehingga petani selalu menanam singkong dengan cara tumpang sari dengan padi, kedelai, atau jagung.

 

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…