A customer uses his new iPhone 4S after making the purchase at Apple's flagship retail store in San Francisco, California October 14, 2011. Apple Inc's new iPhone 4S went on sale in stores across the globe on Friday, prompting thousands to queue around city blocks to snap up the final gadget unveiled during Steve Jobs' life. REUTERS/Robert Galbraith (UNITED STATES - Tags: BUSINESS SCIENCE TECHNOLOGY) Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Sabtu, 9 April 2016 00:00 WIB JIBI/Solopos.com/Newswire Internet Share :

APLIKASI SMARTPHONE
Pendapatan Aplikasi di Indonesia Diprediksi Rp1,8 Triliun

Aplikasi smartphone di Indonesia merupakan pasar yang menggiurkan karena pendapatannya diprediksi mencapai Rp1,8 triliun.

Solopos.com, JAKARTA — Melonjaknya penggunaan ponsel pintar beberapa tahun terakhir membuat pendapatan dari sisi aplikasi smartphone di Indonesia melonjak drastis.

Untuk tahun 2016, diperkirakan pendapat total dari aplikasi smartphone di Indonesia mencapai US$142 juta atau sekitar Rp1,8 triliun. Meningkat dari pendapatan tahun 2015 sebesar US$118 juta atau Rp1,5 triliun.

Pendapatan aplikasi smartphone itu berasal dari beberapa komponen, seperti iklan, aplikasi berbayar dan pembelian dalam aplikasi atau in-app purchase. Menurut Baidu Indonesia, komponen penyumbang terbesar berasal dari iklan mobile, alias mobile advertising.

Selama tahun 2015, pendapatan iklan mobile di wilayah Jabodetabek, Bandung, Surabaya dan Semarang mencapai US$15 juta atau Rp107 miliar, jauh lebih tinggi dibanding kontribusi pembelian aplikasi berbayar yang hanya sekitar US$3,2 juta atau Rp40 miliar.

“Sementara In-app purchase sekitar US$2,9 juta atau Rp39 miliar,” ujar Managing Director Baidu Indonesia Bao Jianlei, di Jakarta, seperti dikutip dari Detik, Jumat (8/4/2016).

Pada 2018 akan pendapatan dari iklan mobile diprediksi mencapai mencapai US%197,6 juta atau Rp2,6 triliun. “Meski saat ini pembelian in-apps masih memerikan kontribusi terendah, ke depannya diperkirakan kontribusi dari in-apps purchase akan melampaui kontribusi yang disumbangkan paid-apps purchase,” katanya seperti dikutip dari Antara, Jumat.

Data ini diperoleh Baidu dari kerja samanya dengan lembaga riset GfK Indonesia, dalam riset bertajuk Mobile Apps Market Study Indonesia. Riset tersebut juga menunjukkan penetrasi aplikasi smartphone di kalangan pengguna ponsel pintar ternyata sangat tinggi, menyalip penetrasi browser.

Penetrasi aplikasi smartphone dalam riset tersebut tercatat sebesar 97%, dibanding browser yang hanya 76%. Disebutkan juga rata-rata pengguna ponsel pintar setiap hari menghabiskan waktu satu jam untuk berinteraksi dengan aplikasi mobile.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…