Ilustrasi bayi Ilustrasi bayi (Dok/JIBI)
Jumat, 8 April 2016 12:20 WIB Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

PENEMUAN BAYI
Pembuangan Termasuk Kasus Kekerasan Terhadap Anak

Penemuan bayi menjadi keprihatinan banyak pihak.

Solopos.com, KULONPROGO-Kasus pembuangan bayi kemungkinan besar dilatarbelakangi masalah kehamilan tidak diinginkan (KTD). Tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai kekerasan terhadap anak yang berbentuk penelantaran.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah Desa, dan Keluarga Berencana (BPMPDPKB) Kabupaten Kulonprogo, Ernawati Sukeksi, Jumat (8/4/2016).

“KTD itu kebanyakan karena hasil perselingkuhan, hubungan gelap, atau kehamilan yang dialami anak dan tidak ada yang bertanggungjawab,” kata Ernawati.

Menurut Ernawati KTD bisa dicegah melalui pendidikan kesehatan reproduksi bagi kalangan remaja. Namun, pihak orang tua juga sebenarnya perlu mendapatkan pelatihan pola asuh untuk meningkatkan kepedulian terhadap perubahan perilaku maupun fisik anak. Hal itu karena pada beberapa kasus KTD, ada orang tua yang justru tidak tahu jika anak perempuannya hamil.

Terkait pembuangan bayi di Kalibawang, Kamis (7/4/2016) kemarin, kasus itu disebut termasuk tindakan kekerasan terhadap anak.

“Itu namanya penelantaran dan bisa berakibat buruk bagi fisik anak juga, seperti kedinginan, tidak terawat, dan bahkan meninggal dunia,” ujar Ernawati.

Sebelumnya, seorang bayi perempuan seberat 710 gram ditemukan di depan pintu gerbang Panti Asuhan Putra Santa Maria, Dusun Boro, Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, pada Kamis pagi sekitar pukul 05.20 WIB. Bayi tersebut diletakkan di dalam sebuah kardus berwarna putih. Sempat dibawa ke Rumah Sakit Santo Yusuf Boro, petugas segera merujuk bayi itu ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates karena kondisinya kritis.

Kepala Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Wates, Eko Budiharto mengatakan, paru-paru bayi yang kemudian diberi nama Creisen itu belum berkembang maksimal. Tim medis berusaha memberikan pertolongan dengan pemasangan alat bantu pernapasan.

“Saat lahir, usianya diperkirakan baru enam bulan,” ucap Eko.

Namun, Creisen akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Kamis malam setelah menjalani perawatan di RSUD Wates selama beberapa jam. Kapolsek Kalibawang, Kompol Joko Sumarah, Creisen lalu dimakamkan di tempat pemakaman umum di wilayah Banjarasri.

“Tadi pagi sudah dimakamkan,” ungkap dia, Jumat pagi.

Petugas Polsek Kalibawang masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap identitas pelaku pembuang bayi. Pemeriksaan juga menyasar sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain. Hal itu karena berdasarkan keterangan medis, ibu bayi diperkirakan mengalami pendarahan sehingga diduga bakal berobat ke rumah sakit.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…