Parkir Abu Bakar Ali (ABA) dibuka (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja) Parkir Abu Bakar Ali (ABA) dibuka (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 8 April 2016 07:20 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PARKIR MALIOBORO
Ini Tuntutan Jukir ABA

Parkir Malioboro, jukir pertanyakan masa depan

Solopos.com, JOGJA-Juru parkir (jukir) kendaraan roda dua di Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA) mengajukan sejumlah tuntutan untuk pengelolaan area parkir baru itu.

(Baca Juga : PARKIR MALIOBORO : Jukir ABA Bingung Nasib Setelah Dua Bulan)

Agus, jukir Taman Parkir ABA minta kejelasan pengelolaan parkir. Selain itu ia berharap ABA dilengkapi dengan petunjuk blok yang disesuaikan dengan karcis. Hal itu supaya tidak membingungkan pengunjung yang parkir.

“Kemarin ada pengunjung yang kebingungan karena lupa naruh motor,” ungkapnya, Kamis (7/4/2016)

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro, Syarif Teguh Prabowo mengatakan pengelolaan ABA saat ini masih dalam proses penataan. Pihaknya juga terus menampung masukan dan keluhan para jukir dalam penataan tersebut.

Setelah dua bulan nanti, Syarif berharap jukir bisa membentuk forum bersama dan mengelola parkir ABA secara mandiri. Syarif mengaku Pemerintah Kota Jogja tidak akan ikut campur dalam dalam pengelolaan, “Terserah mereka mau dibuat seperti apa,” kata dia.

Termasuk soal karcis parkir, kata Syarif, yang mencetak adalah dari jukir. Hal itu berbeda saat pengelolaan parkir di Malioboro bahwa yang mengeluarkan karcis adalah UPT Malioboro dan setoran jukir berdasarkan jumlah karcis yang terjual.

Pantauan Harian Jogja, tarif parkir di ABA Rp2000, namun dalam karcis tertera Rp1000. Tarif Rp2000 berlaku sejak hari tiga hari lalu atau saat pertama relokasi. Syarif mengaku karcis itu merupakan karcis lama, sedangkan jukir belum mencetak karcis yang baru.

Ia menyatakan tarif parkir Taman Khusus Parkir (TKP) berbeda dengan tarif parkir di Tepi Jalan Umum (TJU). “Ada aturan sendiri untuk parkir TKP,” ujar Syarif.

Syarif menambahkan sebanyak 95 jukir sisi timur Malioboro sudah menempati ABA. Terakhir yang mendaftar adalah Ketua Paguyuban Jukir Malioboro, Sigit Karsana Putra.

Kemarin, Sigit muncul di Malioboro setelah dijemput belasan jukir yang sudah menempati ABA. Sigit pun dikawal menuju UPT Malioboro untuk mendaftar. Namun setelah mendaftar, Sigit belum dibolehkan bergabung ke ABA karena saat bersamaan ada rapat jukir di lantai II ABA. “Katanya demi keamanan,” ucap Sigit di depan Gedung DPRD DIY.

Sigit mengaku mendaftar bukan berarti menerima konsep relokasi begitu saja. Ia tetap akan mempertanyakan nasib teman-teman jukir lain setelah dua bulan tidak mendapat kompensasi. Bahkan rumahnya di Brontokusuman, Mergangsan menjadi posko pengaduan jukir.

Ayah dari tiga anak ini membeberkan rencana aksi penolakan yang batal digelar pada Senin, lalu, karena tidak ingin mengorbankan banyak pihak, terlebih kawasan Malioboro merupakan ikon Kota Jogja. Ia juga mengklaim justeru dirinya yang mendorong sejumlah anak buahnya untuk mendaftar relokasi.

“Perjuangan saya membela masyarakat kecil masih tetap berlanjut. Saya ingin tahu apa konsep pemerintah setelah dua bulan nanti jukir menempati ABA.” tegasnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…