Membersihkan sisa banjir (JIBI/Harian Jogja/Gigih M. Hanafi) Membersihkan sisa banjir (JIBI/Harian Jogja/Gigih M. Hanafi)
Jumat, 8 April 2016 04:20 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

MASALAH LINGKUNGAN
Ini Cara Cegah Longsor di Code & Winongo

Masalah lingkungan untuk meminimalkan longsor.

Solopos.com, SLEMAN-Tim Mitigasi Bencana Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM)  menilai salah satu penyebab besarnya risiko ancaman longsor di sepanjang Sungai Code dan Winongo adalah saluran pembuangan limbah rumah tangga dari warga yang dinilai kurang sesuai.

Tim Mitigasi Bencana Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) Wahyu Wilopo pada Kamis (7/4/2016),

Wahyu kemudian menyebutkan sejumlah daerah yang memiliki risiko terjadinya longsor. Untuk wilayah yang dekat dengan Sungai Code di antaranya Pogung, Sendowo, Blimbingsari, Gondolayu, Kotabaru. Sedangkan untuk daerah terdekat Sungai Winongo meliputi daerah Tegalrejo sampai Bugisan.

Untuk mencegah terjadinya longsoran berikutnya di daerah-daerah lain, maka perlu dilakukan tindakan mitigasi, dengan cara pembuatan perkuatan lereng baik di kaki tebing maupun tebingnya sendiri. Menggunakan bronjong pada kaki tebing sungai yang berfungsi untuk mengurangi erosi sungai dan sebagai penahan tebing. Selain itu bisa juga dilakukan dengan membangun talut dengan perbandingan kemiringan 1:1. Dengan teras minimal dua meter serta ketinggian maksimum lima meter, dilengkapi saluran drainase dengan jarak antar lubang maksimal dua meter dengan diameter minimal dua inci.

“Lubang drainase harus dikontrol agar tidak tersumbat, misalnya dengan meletakan lapisan ijuk pada intake saluran di dalam lereng. Selain itu juga dengan perbaikan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang kedap air dan salurannya sampai pada tubuh sungai,” imbuhnya.

Penataan penggunaan lahan di atas tebing menurut Wahyu adalah hal sangat penting untuk mengurangi risiko terjadinya longsor. Kegiatan pembangunan rumah tidak boleh berada di dekat tebing dan dihindari bangunan bertingkat untuk mengurangi beban tebing. Perlu juga dilakukan penguatan pengetahuan masyarakat yang hidup di sepanjang sungai tentang bencana longsor, yang menyampaikan pengetahuan tanda-tanda terjadinya longsor, seperti adanya retakan bangunan yang muncul secara tiba-tiba, pohon miring, dan munculnya mata air secara tiba-tiba pada waktu hujan di kaki lereng dan penggembungan lereng.

Pemerintah setempat perlu mengecek kembali saluran-saluran drainase di tebing atau lereng, untuk memastikan tidak terjadi sumbatan dan berfungsi sebagaimana mestinya. Bila terjadi retakan, sebaiknya segera ditutup dengan material kedap ataupun terpal. Sehingga air tidak bisa masuk ke dalam tanah dan masyarakat mengungsi ke tempat yang lebih aman pada waktu hujan turun sampai kondisi betul betul aman.

“Karena longsor bisa terjadi tidak hanya pada waktu turun hujan tetapi setelah turun hujan. Pengamatan retakan juga perlu dilakukan secara teratur sehingga bisa diantisipasi langkah-langkah untuk mengurangi tingkat kerugian,” ujarnya.

lowongan pekerjaan
PT BACH MULTI GLOBAL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…